Translate

Rabu, 04 Desember 2013

Mengapa Natal Jatuh Tanggal 25 Desember?

Yesus di palungan
Sebenarnya banyak kontroversi mengenai asal mula mengapa setiap tanggal 25 Desember dirayakan sebagai hari Natal karena tidak ada seorang pun yang mengetahu pasti kapan tanggal kelahiran Yesus sendiri yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember setiap tahunnya.

Bagaimanapun juga, sistem kalender yang kita gunakan saat ini disusun setelah Yesus lahir, Masehi. Tak heran kontroversi bermunculan. Salam satu kontroversi yang dikupas tuntas mengenai tanggal 25 Desember sebagai hari Natal ada di dalam buku yang sangat kontroversial Holy Blood and Holy Grail karangan tiga sekawan Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln. Buku ini sebenarnya sudah lama, tahun 1982 dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia tahun 2006 kamarin.

Tentu saja buku ini menjadi sangat kontroversial, mengingat isinya yang sangat bertolak belakang dari ajaran-ajaran Kristen yang selama ini. Buku ini juga menjadi salah satu acuan Dan Brown untuk mengarang bukunya yang sama kontroversialnya, da Vinci Code. 
 
Bagian yang membahas judul di atas berada di bagian BAB 13 Rahasia Terlarang. Disebutkan bahwa agama Kristen yang berkembang hingga sekarang merupakan usaha dari “golongan setia terhadap pesan” (adherents of the message). Saint Paul mengatakan, “pesan itu” mulai membentuk dan mengkristal, kemudian menjadi dasar berdirinya pendidikan teologi agama Kristen. Jadi agama baru ini sangat berorientasi Romawi, untuk kepentingan Romawi pada waktu itu dengan tujuan menghapuskan kesalahan Roma kepada Yahudi atas kematian Yesus di kayu salib.

Dalam buku ini dijelaskan bagaimana jemaat Romawi akhirnya dapat menyesuaikan diri dengan ajaran agama baru itu dengan mendewakan Yesus dan menjadikan bangsa Yahudi sebagai kambing hitam, sehingga penyebaran Kristen Ortodoks yang dikenal sekarang berhasil membumi.

Pada waktu itu, peristiwa kebangkitan Yesus yang ajaib dijadikan sebuah mitos untuk mempertahan ajaran Yesus sejajar dengan dewa-dewa hebat lainnnya yang sebelumnya di sembah oleh orang-orang Roma, seperti Tammuz, Adonis, Osiris, Attis, dan lain-lain yang mati kemudian bangkit kembali.

Kemudian sampai pada masa Konstantin. Konstantin sering sekali diberi penghargaan atas dukungannya terhadap orang-orang Kristen di Roma pada waktu itu sehingga populasinya semakin besar. Tetapi sebenarnya peran Konstantin dalam perkembangan agama Kristen telah dipalsukan. Konstantin tidak pernah berpindah (konversi) dari aliran Pagan ke Kristen, namun tetap si stasiun Pagan.

Ia mendapat pengalaman kudus dihalaman kuil Pagan Gallic Aplollo di Vosges atau di dekat Autum. Menurut saksi pada waktu itu, pengalaman kudus itu muncul dalam bentuk dewa matahari yang diberi nama Sol Invictus (Matahari yang tak terkalahkan).

Pemuja Sol Invictus adalah bangsa asli Suriah dan para kaisar Roma satu abad sebelum pemerintahan Konstantin. Kristen Ortodoks memiliki banyak kesamaan dengan pemujaan Sol Invictus. Dengan sebuah dekrit penyebaran tahun 321 M, Konstantin memerintahkan pengadilan hukum tutup pada hari “pemujaan matahari”, dan memutuskan hari itu dijadikan sebagai hari istirahat (hari libur).

Sebelumnya,umat Kristen merayakan hari sabat bangsa Yahudi–Saturday (Sabtu) sebagai hari suci. Sekarang sesuai dengan dekrit Konstantin, hari suci itu diganti menjadi Sunday (Hari Matahari, hari Minggu). Dengan demikian, orang Kristen mengganti hari istirahat mereka dari Sabtu menjadi Minggu.

Hingga abad ke-4, hari ulang tahun Yesus dirayakan pada tanggal 6 Januari. Bagi pemuja Sol Invictus, hari penting mereka adalah 25 Desember yang merupakan hari perayaan Natalis Invictus (kelahiran kembali matahari). Kemudian agama Kristen menyatukan diri dengan pemerintah dan menentukannya sebagai agama negara. Itulah yang membuat Konstantin terkenal sebagai raja Roma yang mengubah kerajaan Romawi dari penyembah berhala menjadi kerajaan Kristen.

Sejak saat itu dan sampai sekarang, 2000 tahun kemudian, hari Minggu dijadikan hari libur untuk beristirahat dan tanggal 25 Desember dijadikan sebagai peringatan lahirnya Yesus.

Diluar dari berbagai kontroversi mengenai tanggal dan asal mula hari Natal, sebagai orang yang mengimani iman Kristen tidak perlu ambil pusing dengan banyaknya informasi seperti ini. Melalui iman kita percaya bahwa Yesus selalu lahir setiap hari bahkan setiap detik di hati kita, dalam setiap jengkal hidup kita.

Selamat memyambut hari Natal!!!

(Oleh: Ferry Silitonga--Kompasiana. Dikutip dari Buku Holy Blood, Holy Grail karya Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln).


Selasa, 03 Desember 2013

Ketika Warga KUB A, Berbagi Pengalaman Iman dan Kerja

Suasana saat sharing pendalaman iman dan kerja warga KUB A, Sabtu (30/11/2013). Foto: Farida Denura
MEMASUKI masa Adven 2013, warga Komunitas Umat Basis (KUB) A, Wilayah Stefanus Paroki St Paulus Depok menggelar ibadah dan renungan Aksi Adven Pembangunan (AAP) 2013. Pertemuan pertama digelar di kediaman Budi Mulyanto, Grand Depok City, Cluster Gardenia, Depok, Sabtu (30/11/2013) pukul 20.00 wib.

Pertemuan yang dipandu Hermanto Situmorang, salah satu warga KUB A ini mengusung tema Adven Keuskupan Bogor yakni “Kedatangan Kristus Menguatkan Semangat Bekerja”. Warga yang hadir pada pertemuan tersebut sebanyak 13 Kepala keluarga.    

Hermanto lebih lanjut menjelaskan melalui tema ini diharapkan warga KUB A semakin mengimani bahwa kita bekerja tidak sendirian melainkan bersama Allah, yang secara nyata hadir dalam diri Yesus Kristus. Sementara sub tema pertama yang didalami bersama malam ini yakni “Keluarga yang Beriman, Keluarga yang Giat Bekerja”.

Mengutip Lukas 10:38-42 pada bacaan Injil, Elven Rajalewa menggarisbawahi orang kerja selalu sibuk mementingkan kerja dan lupa akan Tuhan. Seperti Marta dalam bacaaan Injil tersebut, tambah Elven, ketika Yesus tiba di sebuah kampung, Yesus diterima Marta dan ia tampak sibuk sekali melayani Yesus. Sementara Maria, saudara Marta duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya. Maria, telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.

Pada sesi pertanyaan pendalaman iman, warga pun berbagi pengalaman iman dan kerja. Hermanto memulai dengan pertanyaan,”Apa yang menjadi tantangan Anda ketika berhadapan dengan dua pilihan, misalnya menghadiri pendalaman iman atau hanya bekerja saja untuk memenuhi kebutuhan hidup”. Pertanyaan ini menjadi topik yang sangat menarik bagi warga untuk berbagi pengalaman.

Ketua Wilayah Stefanus yang juga warga KUB A, Thomas Tommy Hendrasmoro mengawali sharing tersebut dengan mengatakan dua pilihan, tinggal warga dapat mengatur waktu. Pendalaman iman di malam hari dan kerja di siang hari. Berbeda jika dilaksanakan pada hari libur. Siang atau malam kata Tommy, sama saja.

Elven Rajalewa memiliki pengalaman iman yang berbeda. Suatu ketika Elven harus mengikuti kebaktian di lingkungan. Sementara pimpinan di tempat Elven bekerja meminta Elven menemani. Elven akhirnya lebih memilih menemani pimpinannya ketimbang mengikuti kebaktian.

Menurut Elven, menolak permintaan pimpinan merupakan hal yang tidak baik di mata pimpinan. “Mana yang saya harus pilih, menyenangkan bos atau ikut kebaktian. Ini merupakan pilihan sulit dan salah satunya harus dikorbankan,”ujar Elven.

Endang Rosalina Jempormasse pun demikian dengan pengalamannya. “Dalam kenyataan, kita prioritas pada kebutuhan hidup kita. Pendalaman iman kita bisa sesuaikan,”kata dia.

Berbeda dengan sharing warga lainnya. Sabtu, 30 November 2013, merupakan hari padat acara bagi Farida Denura. Acara seminar yang diselenggarakan kantor dan wajib hadir, mengurus kegiatan Yayasan Pelayanan Kasih serta Lomba Membuat Korona 2013 di gereja.

Ketiga kegiatan tersebut sama-sama penting namun Farida harus memilih satu di antara 3 kegiatan tersebut. Pilihan, akhirnya jatuh pada mengikuti kegiatan Lomba Membuat Korona 2013 di gereja. Alasan Farida, melalui kegiatan tersebut, Farida ingin memuliahkan Tuhan dan ingin hadir bersama ibu-ibu KUB A lainnya. Ini menurut Hermanto merupakan dilema yang dialami dalam kehidupan. 

Sementara Listarini mengaku bahwa sharing yang disampaikan Farida menginspirasi.“Hadapi dua pilihan, mengalahkan urusan dunia untuk lebih mementingkan urusan Tuhan,”katanya.

Listarini pada kesempatan tersebut juga memberi kesaksian tentang pengalaman iman Katolik yang dilewati dalam kehidupannya. Baginya, Bunda Maria adalah penolong abadi dalam hidupnya. Awal cerita Listarini bermimpi didatangi seorang ibu berkerudung. Ibu itu adalah Bunda Maria. Dalam perjumpaan dengan Bunda Maria itu, Listarini menjadi semakin yakin akan maksud perjumpaan tersebut. Dia pun akhirnya setiaa menjalankan devosi  Novena 3 kali Salam Maria.

Setiap doa dan permintaan dalam doa Novena 3 kali Salam Maria selalu dikabulkan Bunda Maria. Dirinya semakin yakin dan percaya dengan pertolongan Bunda Maria. “Saya minta apapun dan baru doa 2-3 kali Novena permohonan saya langsung terkabul. Suatu kali anak saya sakit, saya ambil Rosario yang digantung di salib. Saya tak peduli akan debu yang menempel pada Rosario tersebut. Saya celupkan di air dan memberi minum ke anak saya. Puji Tuhan, langsung sembuh. Jalan untuk beriman banyak seperti Doa Novena,”cerita Listarini.

Christiningsih belakangan ini sangat sibuk. Maklum Cawara (Calon Wakil Rakyat-Red) dari Hanura ini harus membagi waktu antara keluarga, kegiatan politik maupun kegiatan ibadah di KUB, dan lain-lain. Sabtu-Minggu merupakan hari-hari yang melelahkan bagi Christin. Di kedua hari ini Christin harus rajin turba (turun ke bawah-Red) melakukan sosialisasi dirinya. Meski demikian menurut dia, tinggal bagaimana membagi waktu dan memilih mana yang lebih penting.

Pasianus Daeli dalam kesempatan tersebut juga berbagi pengalaman. Ketika masih bergabung dengan Wilayah St Ignatius Loyola, Pasianus hampir tidak pernah ikut latihan koor karena dilaksanakan pada malam hari di hari kerja. 

“Tuhan tidak kehendaki seperti itu bagi saya. Dan sekarang ketika latihan koor di Wilayah St Stefanus pada Sabtu atau Minggu, saya pun bisa bergabung,”ungkapnya.

Pasianus kemudian menyimpulkan sharing yang disampaikan warga KUB A. “Ini khan namanya dilema. Tantangan dan secara jasmani kita ngga bisa berada lebih dari satu tempat. Satu hal sebagai patokan, adalah kita memilih benar atau tidak dan kita memilih dengan tenang pilihan itu,”kata Pasianus. (Farida Denura)