Translate

Rabu, 28 Oktober 2015

Ziarek Lingkungan St Gabriel: Dari Merajut Kebersamaan hingga Menimba Ilmu

Tim Oranye berpose di depan lapangan pada Minggu (25/10/2015) pagi sebelum meninggalkan Wisma Kompas Gramedia, Pacet. Kebersamaan, Persaudaraaan Sejati itu memang indah. [Foto-Foto: Farida Denura]
Atas nama kebersamaan, atas nama keakraban, atas nama guyub maka pada Minggu, 21 Juni 2015 lalu saat rapat lingkungan St Gabriel, wilayah St Stefanus, Paroki St Paulus Depok di kediaman Bapak Budi Panca, tercetus ide peserta rapat untuk menggelar kegiatan Ziarah dan Rekreasi (Ziarek). Ziarah yang dimaksud lebih ditekankan pada ziarah bathin warga Lingkungan St. Gabriel (Dulu bernama KUB A) Wilayah St. Stefanus.

Ide tersebut kemudian diwujudkan dengan membentuk Panitia Ziarek Lingkungan St Gabriel yang sebagian besar terdiri dari ibu-ibu. Panitia praktis bekerja kurang lebih 1,5 bulan dalam melakukan persiapan-persiapan hingga hari H secara bersama-sama, bahu membahu menyukseskan acara. Mulai dari urusan konsumsi, kado, serta sumbangan lainnya.

Acara kemudian diputuskan berlangsung pada Sabtu-Minggu, 24-25 Oktober 2015 di dua lokasi yaitu Wisma Kompas Gramedia, Pacet dilanjutkan dengan misa penyembuhan di Gereja St Theresia, Lembah Karmel Cikanyere.

Kwee Kwa In,69 thn & Kwee Kwan Hoa,60 thn
Peserta Ziarek berjumlah sekitar 75 orang terdiri dari orang tua (2 Oma yang sudah lansia) yaitu Oma Hana (Kwee Kwa In) berusia 69 tahun yang juga ibu dari Maria Adi Murti, tantenya bernama Kwee Kwan Hoa (Theresia) berusia 60 tahun serta  serta Mama dari Veronica Lucy bernama M.E. Supraptini (Bu Tytiek) berusia 64 tahun hingga bayi berusia 4 bulan, bernama Xavier Theodore Marciano, putra dari Benny Marciano dan Maria Gayatri.

Tepat Sabtu pagi pukul 05.30 wib rombongan sudah mulai berkumpul di titik kumpul depan Depok Waterpark Fantasi, Grand Depok City dan untuk sarapan pagi, panitia membagikan snack kepada peserta. Sekitar pukul 06.15 wib rombongan pun mulai bertolak dari titik kumpul secara konvoi menuju Pacet, Cipanas, tepatnya di Wisma Kompas Gramedia.

Rombongan tiba di lokasi sekitar pukul 09.00 wib dan sambil menunggu pengaturan tempat menginap masing-masing di beberapa villa seperti Jati (1-2), Meranti (1-2), Cendana (1-2), Eboni (1-7). Sambil menunggu di taman dekat kantor Villa episode foto bareng pun digelar.

Koordinator Seksi Acara, Veronica Lucy menjelaskan tema acara yang diusung dalam kegiatan kali ini adalah “Suka Cita dalam Kasih Persaudaraan”. Tema ini terinspirasi dari Filipi 2:1-4; 2:14-15 dengan kemasan Ziarek.

Dinda Rebelo menyaksikan Rini menyusun gelas
“Karena perjalanan terlambat sampai tempat sesuai perkiraan, maka acara berubah menyesuaikan jadwal tiba. Pukul 10.30 wib acara dimulai dengan games anak. Ada games mencari benda-benda di sekeliling wisma. Yang paling banyak mendapatkan benda menjadi pemenangnya. Terpilih 4 orang pemenang dengan benda terbanyak, yang mendapatkan hadiah botol minum. Lanjut games menyusun gelas aqua berkelompok 2 orang. Ada dua kalu games, masing-masing dipilih satu pemenang. Pemenang dari masing-masing sesi mendapat hadiah lunchbox dan botol minum,”jelas Lucy.

Lebih lanjut terang Lucy, pada pukul 12.00 wib dilanjutkan dengan makan siang, lalu istirahat check in hingga pukul 15.30 wib. Sambil memakan snack timus dan kacang rebus, juga digelar games untuk anak berupa kuis Kitab Suci. Ada 4 hadiah berbeda untuk pemenang berupa tea set, sop bowl besar, cangkir set bertuliskan Mama-Papa dan lunchbox + handuk bertuliskan St. Gabriel.

Setelah games, pukul 16.00 wib acara dilanjutkan dengan talkshow kesehatan bertajuk “Gaya hidup dan Hipertensi” yang dibawakan dr Maria Laurencia Linawati yang juga warga dari Lingkungan St Gabriel. Gabriel.

Pada saat talkshow kesehatan berlangsung, di ruang lain anak-anak dikumpulkan untuk nonton film bareng Film tentang Nabi Nuh dan film kartun berjudul Putri Nasi Jagung. Setelah itu dilanjutkan dengan kuis seputar film tersebut. Sebagai penutup anak-anak semuanya mendapat doorprize.

Sebagian terekam lensa Doa Rosario
Pada pukul 17.30 wib semua warga kumpul bersama untuk ibadat dan doa rosario yang dipimpin Pasianus Daeli. Usai ibadat dilanjutkan dengan makan malam tepat pukul. 20.00 wib.

Selanjutnya Bapak-bapak dan ibu-ibu mengikuti sharing "Keluarga Kristiani yang Diberkati" yang dibawakan Andreas Sri Hartanto. Sementara anak-anak di ruang lain menonton film Turbo.

Pukul 23.00 wib berlanjut dengan acara barbeque sosis, B2, ikan dan ayam yang didahului dengan pembakaran api unggun. Tepat pukul 24.00 wib acara pun selesai, ada yang langsung istirahat namun ada juga yang masih menikmati malamnya Pacet Cipanas.

Lucy menambahkan, pada hari kedua, tepat pukul 07.00 wib peserta Ziarek sarapan. Usai sarapan maka tibalah sesi foto bersama yang seru dan heboh karena harus menjadi 'bintang iklan' Coolant dengan foto bareng sambil memegang botol minuman Coolant. Di penghujung acara, panitia pun membagikan goodybag untukk anak-anak celengan handuk bertuliskan St. Gabriel ditambah berbagai macam snack. Pukul 08.30 wib rombongan pun meninggalkan Wisma menuju Lembah Karmel, Cikanyere untuk menghadiri misa secara konvoi. Sekitar 20 menit rombongan tiba di lokasi.

Merry Martens, salah satu anggota seksi acara menambahkan konsep acara yang dikemas lebih fun, segar dan mengupayakan anak-anak untuk semua terlibat bermain. Konsep outdoornya sendiri, kata Merry, lebih berbentuk outbound atau bernuansa alam, sedangkan indoor berbentuk pembinaan iman menggunakan media pembelajaran film dan power point. Duh, sunggguh indah kebersamaan ini.

Timba Ilmu Dua Pakar
dr Lina sedang memaparkan materi
Dua pembicara pada kegiatan ini bagai oase bagi peserta ziarek. Betapa tidak, ketika dr Maria Laurencia Linawati membawakan talkshow bertajuk “Gaya Hidup dan Hipertensi” peserta tampak antusias menyimak paparannya. Lihat saja betapa interaktifnya dalam sesi tanya jawab. Semuanya bertanya mengenai pola makan, rasa sakit yang dialami dan bagaimana mengatasinya.

Diskusi menjadi menarik karena peserta ziarek pun secara bergilir dapat mengukur tensi darahnya sendiri melalui tensi digital yang memang telah disiapkannya. Peserta puas dan berharap ada sesi tematis lainnya menyangkut kesehatan dan gaya hidup keluarga modern saat ini.

Pada sesi sharing "Keluarga Kristiani yang Diberkati" yang dibawakan Andreas Sri Hartanto yang aktif dalam pelayanan Pria Sejati CMN Depok, Pria Sejati Katolik Keuskupan Bogor, Andre, begitu pria ini disapa menjelaskan mengenai pondasi dasar pria dengan mengutip lukas 6:46-49.

Pria yang kuat menurutnya adalah pria yang mendengar dan melakukan. Sementara pria yang lemah adalah pria yang mendengar tetapi tidak melakukan.

“Pria yang kuat adalah pria yang tetap teguh dan kuat ketika ada persoalan dan dia keluar sebagai pemenang,”ujarnya.

Pak Andre sedang membawakan materi
Dia juga sambung Andre, yang menjadikan Tuhan sebagai penguasa tunggal dalam hidupnya dan menjadikan firman sebagai perintah.

Dijelaskan Andre, ada 3 langkah dasar yang harus dilakukan untuk menjadi pria yang kuat yaitu pertama, mengasihi (Yoh 13:34). “Kita bisa mengasihi karena kita punya Allah yang sangat baik. Kasih Allah telah diberikan kepada kita (Roma 5:5).

Dan pengharapan tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh roh kudus yang telah dikaruniakan kepada kita,”ungkapnya.

Kedua, mengaku dosa (Yak 5:16).”Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh. Doa orang benar bila yakin didoakan sangat besar kuasanya”,tegasnya. Keterbukaan menurutnya awal pemulihan.

Ketiga, bertobat (Kis 17:30).”Dengan tidak memandang lagi zaman, maka sekarang Allah memerintahkan kepada manusia bahwa dimana-mana semua mereka harus bertobat”.

Andre juga menjelaskan soal kedudukan pria di mata Allah (I Kor II:3). “Tetapi aku mau supaya kamu mengetahui hal ini, kepala dari tiap-tiap laki ialah Kristus dan kepala dari tiap-tiap perempuan ialah lakik-laki dan kepada dari Kristus adalah Allah”.

Pria menurut Andre adalah kepala yang menjadi sumber penopang dan pengelola kalau sumbernya benar, maka juga benar.

Peserta talkshow tampak antusias
Lebih lanjut Andre mengatakan sebagai kepala, seorang pria harus menjadi imam dengan pertama, berdoa (I Tim 2:8). Dengan mempraktekkan doa maka terjadi keintiman, melindungi dan menjaga keluarga, berhubungan dengan sang sumber dari segala sumber. Kedua, dia harus mendengar. Seni komunikasi kata Andre tidak terletak pada kemampuan berbicara tetapi pada kemampuan mendengar. Ketiga, adalah melayani anak, istri, dan orang yang dilayani merupakan teladan dari Yesus yang meskipun Tuhan, ia datang bukan untuk dilayani melainkan melayani.

Andre juga menyoroti soal banyak pria yang tidak maksimal. Kata Andre, ada 5 dosa yang kaum pria lakukan yakni berbuat jahar, menyembah berhala, mencoba Tuhan, bersungut-sungut dan berbuat cabul. 

Lantas bagaimana pria supaya bisa dilepaskan dosanya? Kata Andre lagi, dia harus diampuni, menerima pengampunan melalui pengampunan dosa, menolong orang lain terlepas dari ikatan dosa. Juga, harus mengampuni, karena kasih tidak menyimpan kesalahan, kepahitan menyimpan dan selalu mengingat-ingat kesalahan orang lain.

“Kuasa pengampunan akan membawa dan membuka berkat,”ujar Andre.

Di akhir paparannya Andre menutup dengan menyoroti kedudukan dan peran istri bagi suami. Andre mengutip 1 Petrus 3:7. Istri menurut Andre adalah garansi dari doa suami. Istri juga sebagai penolong suami, maka hormatilah istri dan hargailah istrimu. “Segala sesuatu yang dihargai akan bernilai tinggi. Segala sesuatu yang direndahkan akan bernilai rendah,”tegas Andre.

Suami yang hidup benar akan mendapat kasih karunia. Maka yang dibutuhkan istri dari suami adalah telinga untuk mendengar, perlakukan istri sebagai sahabat, doa dan beri pujian dan dukungan.

Tak kalah penting adalah perlunya rekonsiliasi agar dapat menampung banyak berkat.

Di villa lain anak-anak menonton film
Pada sesi kesaksian istri Andre Paskalina G. Wulandari memberi kesaksian seputar kehidupan keluarga yang mereka jalani selama 12 tahun ini. Ada luka batin, ada trauma. Namun yang terpenting adalah jangan sampai ada dua nakhoda dalam satu rumah tangga. 

Sementara Rika dalam kesaksiannya mengatakan bahwa suaminya mengalami luka bathin namun seetelah melakukan pengampunan-pengampunan maka berkat-berkat Tuhan mulai mereka terima. Mereka dikaruniai dua orang anak.


Api unggun pun mulai bernyala
Menjelang pukul 23.00 wib peserta menuju lapangan yang tempat duduknya dibuat seperti pepunden berundak dan ditengahnya ada api unggu. Api unggun pun mulai dinyalahkan. Di tengah remang-remang dan hangatnya api unggun peserta ziarek menikmati jagung bakar, sosis bakar, ikan bakar, ayam bakar, sosis dan aneka menu makan lainnya. Duh, nikmatnya luar biasa kebersamaan itu. Anak-anak pun tak beranjak dari lokasi tersebut. Mereka tampak menikmati suasana tersebut.

Pada hari Minggu, 25 Oktober 2015 ketika peserta ziarek menghadiri misa penyembuhan di gereja St Theresia, Lembah Karmel Cikanyere, Romo Giovanni, CSE dalam kotbahnya mengatakan kesembuhan fisik itu penting, tetapi kesembuhan jiwa dan rohani lebih penting. 

“Tidak ada guna kalau kita sembuh secara fisik tapi melupakan Yesus. Tetapi kalau kita sembuh secara jiwa maka kita mengikuti Yesus dan masuk surga,”ungkap Romo Giovanni.
Menikmati jagung bakar
Romo Giovanni dalam kotbahnya mengutip injil Markus 10: 46-52 menceritakan sosok Bartimeus adalah seorang buta dan pengemis yang disembuhkan Yesus. Belajar dari Bartimeus, lanjut Romo Giovanni meski keadaan keruh tapi Bartimeus tidak mau hidup terus-menerus dalam kondisi itu. Teriakannya mampu menghentikan langkah Yesus. Teriakannya mampu mengalihkan perhatian Yesus kepadanya.
“Meski keadaan menghalangi Anda untuk bertemu Yesus tapi seruanmu tidak. Anda bisa berseru dan menghentikan langkah Yesus untuk menaruh belas kasihanya kepada Anda. Pastikan, teriakanmu mengentikan langkah Yesus untuk menaruh belas kasihanya kepada Anda!
Suasana misa di lembah Karmel

Lewat pengalaman iman Bartimeus dalam injil, maka dapat disimpulkan bahwa usaha bukan berorientasikan pada hasil melainkan proses dengan bersentuhan dengan proses. Iman, menurutnya terbuka untuk melihat karya Tuhan yang sungguh luar biasa. Maka, percayakan seluruhnya pada Yesus, karena Dia mampu melakukan semuanya. 

Sungguh sebuah ziarah bathin yang utuh bagi peserta ziarek warga Lingkungan St Gabriel mereka diperkaya bathin melalui sharing yang dibawakan Pak Andre, mereka juga diingatkan oleh Pasianus Daeli ketika memimpin ibadat doa Rosario agar menjadi keluarga bercahaya. Mereka belajar tentang mengasihi, mereka juga mengenali luka bathin mereka dan mereka senantiasa seluruh hidupnya mengandalkan Yesus. Dan pada akhirnya mereka digenapi dengan pesan lewat homili Romo Giovanni pada misa tersebut.

Tak lupa Panitia Ziarek Lingkungan St Gabriel mengucapkan terima kasih banyak kepada Ibu Maria Kresensia Tenti Lamak Kerong yang telah mendukung kegiatan kami dengan memudahkan mendapat akses menginap dan menggunakan fasilitas Wisma Kompas Gramedia, Pacet, Cipanas.

Terima kasih juga kami sampaikan kepada donatur-donatur dari warga lingkungan St Gabriel sehingga acara berjalan sukses. Terima kasih juga dukungan doa dari segenap warga lingkungan St Gabriel baik yang ikut ziarek maupun yang tidak ikut.

Inilah sebagian Tim Oranye itu...
Indahnya kebersamaan itu...... Terima kasih Tuhan atas semuanya. Bravo Tim Oranye! (Farida Denura)