Translate

Kamis, 19 Juni 2014

Senam Bersama yang Membakar Semangat

Kostum T-Shirt Biru St Stefanus mendominasi area parkir Paroki St Paulus saat Senam Bersama Digelar, Sabtu (7/6/2014). [Foto-Foto: Veronica Lucy]
Ada yang tak biasa di lapangan parkir gereja St. Paulus Depok.  Alunan suara  “hot music” yang terdengar dari pengeras suara, terasa menghentak-hentak hati dan mempercepat langkah menuju parkiran. Udara yang dingin perlahan menjadi hangat , sehangat senyum umat wilayah St. Stefanus yang semakin banyak berkumpul di lapangan parkir tersebut.

Pagi itu, Sabtu 7 Juni 2014 untuk pertama kalinya diadakan “Senam Bersama” dalam rangka Pesta Nama Paroki St. Paulus Depok. Umat dari berbagai wilayah pun sudah siap dengan kostum olah raga. Rata-rata mengenakan T-shirt berkerah dan celana senam. Sebuah panggung kecil sudah dipersiapkan sebagai tempat instruktur senam memimpin senam bersama. Tak jauh dari panggung kecil itu deretan meja dengan makanan tradisional telah dipersiapkan panitia dan siap disantap sebagai pengisi perut setelah senam.
    
Anak-Anak St Stefanus pun semangat.
Pukul 06.30 teng! senam bersama dimulai. Ibu Listarina dari wilayah Stefanus memimpin senam di sesi pertama. Pemanasan dan senam dengan alunan musik ringaan mampu membuat peluh keluar. Terlihat warna biru mendominasi lapangan parkir. Ya, warga wilayah St. Stefanus dengan kostum birunya nampak menguasai separuh lapangan tempat senam berlangsung.Bapak-bapak dan ibu-ibu antusias mengikuti senam. Anak-anak Stefanus pun tak ketinggalan bergerak dengan penuh semangat mengikuti gerakan Bu Lista di di barisan terdepan.
    
Di sesi kedua, senam dipimpin oleh ibu Tuti dari wilayah Thomas Aquinas. Alunan musik semakin panas dan peserta senam pun semakin banyak. Anak-anak batita yang tadinya ikut turun senam sudah kelelahan. Akhirnya, beberapa bapak dan ibu senam dengan menggendong sang batita. Tetap semangat!
    
Kompaknya Bapak/Ibu Warga St Stefanus.
Menjelang pukul 07.00, musik berganti dengan alunan lembut. Bu Lista kembali memimpin senam pendinginan dengan gerakan tarik nafas dalam-dalam dan membuangnya  dengan perlahan. Selama senam, panitia terlihat sibuk menghitung peserta senam dari tiap-tiap wilayah.
    
Rehat sambil menikmati snack.
Setelah minum sambil masih berpeluh, sebagian warga St. Stefanus mengambil roti yang telah dipersiapkan oleh bu Anny. Sebagian berlari ke meja panganan tradisional. Ada yang mengambil pisang rebus, jagung rebus, ubi rebus, ada yang langsung mengambil bubur kacang ijo yang telah disiapkan panitia. Hmmm, sarapan bersama yang menyenangkan sambil menunggu pengumuman dari panitia.
    
Panitia mengucapkan terima kasih dan mendapat respon positif dari Romo Alfons. Bahkan Romo Alfons menginginkan agar senam bersama ini jadi kebiasaan rutin di Paroki kita tercinta. Ibu Listarina yang ditanya kesediaannya oleh panitia untuk memimpin senam rutin, mengangguk mengiyakan.
Sampailah pada akhir acara. Panitia mengumumkan wilayah St. Stefanus sebagai peserta senam terbanyak dengan lebih dari 80 orang peserta. Horeeee! Kami bersorak senang. Pak Tommy pun maju mengambil hadiah dari panitia yang kemudian langsung dibagi-bagikan kepada warga St. Stefanus. Romo Alfons yang selama senam berlangsung sibuk memotret kini sibuk menyalami warga St. Stefanus.
Juara I, peserta terbanyak dari wilayah. 80 orang hadir tepat waktu. Yang terlambat datang tidak dihitung. Tetap semangat!
Tak lupa, panitia senam bersama memberikan penghargaan terhadap peserta senam tertua. Ada 5 orang oma dan opa berusia sekitar 80 tahunan mendapat bingkisan dari panitia. Tetap semangat, ya oma dan opa!

Senam usai, badan menjadi segar dan perut juga kenyang, serta dapat souvenir pula. Sebelum pulang, warga Stefanus berfoto bersama. Cheeesssseee!  Indahnya kebersamaan!(Veronica Lucy)

Jumat, 06 Juni 2014

Lebih Dekat dengan Uskup Bandung: Mgr. Dr. Antonius Subianto Bunyamin OSC

Uskup Bandung yang baru, Mgr. Antonius Subianto Bunyamin OSC
Oleh: Romo Ferry Sutrisna Wijaya Pr ( 4 JunI 2014)

USKUP Bandung yang baru, Mgr. Antonius Subianto Bunyamin OSC lahir di Bandung, 14 Februari 1968, masuk Ordo Salib Suci (OSC) dan mengucapkan kaul kekal tanggal 28 Agustus 1994; menerima tahbisan imamat di Bandung tanggal 26 Juni 1996.

Mgr. Anton dibesarkan di Paroki St. Odilia Cicadas, Bandung, dan sempat aktif menjadi misdinar dan anggota Legio Mariae di paroki hingga kemudian meneruskan studi di Seminari Menengah Mertoyudan di Magelang. Di Mertoyudan ia dikenal cerdas dan sempat menjadi Ketua OSIS dan itu cukup menunjukkan bakat kepemimpinannya.

Di lingkungan Ordo Salib Suci (OSC), Mgr. Anton praktis selalu dilibatkan sebagai salah satu tokoh dan pemimpin yang banyak memberi warna. Ia diterima dengan baik, disukai, dan diharapkan oleh banyak rekan-rekan OSC untuk memimpin Ordo Salib Suci Provinsi Indonesia.

Dalam satu kesempatan berbincang-bincang, Mgr. Anton menceritakan dengan jelas dan gamblang bagaimana peran OSC di Indonesia yang sangat penting bagi perkembangan OSC di seluruh dunia. OSC Propinsi Sang Kristus saat ini juga berkarya di Keuskupan Agats (Papua), Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Sibolga, dan Keuskupan Agung Medan berharap banyak dari kepemimpinan Mgr. Anton.

Saat ini juga ada anggota OSC dari Indonesia yang berkarya di Roma, Amerika Serikat, dan Brasil.

Terpilihnya Mgr. Anton di satu pihak membawa kegembiraan bagi rekan-rekan OSC di seluruh dunia. Di lain pihak mungkin ada yang merasa sedih karena sempat memperkirakan dan berharap bahwa Mgr. Anton akan segera dipilih menjadi Magister General OSC yang diharapkan akan memimpin OSC di seluruh dunia.

Sebagai Uskup Bandung, perhatian Mgr. Anton untuk kepentingan OSC tentu tidak bisa sama lagi. Kerja sama OSC dengan Keuskupan Bandung diharapkan akan semakin lancar, mesra, dan berbuah.

Belajar di Leuven dan Roma
Mgr. Anton menyelesaikan studi S1 di Fakultas Filsafat Unpar, S2 di Leuven Belgia dalam bidang filsafat, dan S3 Doktor filsafat dari Roma.

Ia selalu dikenal sebagai orang yang cerdas. Homilinya dinilai bagus, lucu, dan menarik. Ia pandai merumuskan kata-kata. Kalau ada konfrater OSC yang meninggal, maka kata sambutan selalu diberikan oleh Mgr. Anton.

Menurut saya, Mgr. Anton bisa menggambarkan dengan baik profil yang bersangkutan dengan tajam, cocok, dan menarik. Di Majalah Melintas ada banyak tulisan Mgr. Anton. Ia masih Dosen filsafat di Unpar dan memberikan banyak ceramah dan kuliah di berbagai tempat.

Mgr. Anton lahir, dibesarkan, dan praktis melayani sepenuh waktu di lingkungan Keuskupan Bandung . Ia pernah ditugaskan di Keuskupan Agats yang kemudian memberinya ‘oleh-oleh’ penyakit malaria yang semoga tidak akan banyak mengganggunya. Ia pernah menjadi pastor untuk pelayanan gerejani di lingkungan mahasiswa.

Saya ingat bagaimana Mgr. Anton waktu itu tidak mau memberi beasiswa untuk mahasiswa yang merokok, punya HP (waktu itu masih mahal), dan punya kendaraan pribadi.
Bersama rekan OSC: Pastor Anton OSC
Dalam semua musyawarah pastoral Keuskupan Bandung, Mgr. Anton selalu terlibat sebagai anggota Panitia Pengarah dan selalu ikut merumuskan hasil akhir Musyawarah Pastoral.

Berkarya di bidang pendidikan
Ada berbagai rumusan Mgr. Anton yang masih tertulis di buku-buku hasil Musyawarah Pastoral. Entah mengapa Mgr. Anton tidak pernah menjadi Pastor Paroki. Barangkali karena tugas-tugasnya yang sudah cukup berat di lingkungan OSC, Yayasan Salib Suci, dan Universitas Katolik Parahyangan.

Di Yayasan Salib Suci yang mempunyai 81 unit sekolah di semua paroki dan hampir di semua kota dan kabupaten di wilayah Keuskupan Bandung, Mgr. Anton masih menjadi Sekretaris Yayasan dan Direktur Eksekutif yang pasti harus ditinggalkannya.

Sebagai Uskup Bandung, Mgr. Anton otomatis akan menjadi Ketua Pembina Yayasan Salib Suci. Beliau juga otomatis akan menjadi Ketua Pembina Yayasan Mardiwijana dan Satya Winaya yang mengurus Sekolah Aloysius dan Ketua Pembina Yayasan Melania yang mengurus sekolah dan lembaga lain di Melania.

Semua lembaga pendidikan tersebut mengharapkan kepemimpinan Mgr. Anton sebagai Uskup Bandung agar menjadi lembaga pendidikan yang mewartakan kabar gembira, unggul, dan lebih berpihak kepada yang miskin.

Di lingkungan Universitas Katolik Parahyangan, Mgr. Anton aktif sebagai Dosen tetap Fakultas Filsafat. Ia pernah memimpin Pusat Kajian Humaniora Unpar (sekarang Lembaga Pengembangan Humaniora Unpar) yang mengurusi kuliah MKDU untuk semua fakultas dan merintis berbagai bentuk gladi pembinaan bagi mahasiswa.

Di Yayasan Unpar, Mgr. Anton pernah menjadi Sekretaris Pengurus, Anggota Pembina sebagai Provinsial OSC, dan sebagai Uskup Bandung otomatis akan menjadi Ketua Pembina Yayasan Unpar.

Mgr. Anton juga masih menjadi anggota Badan Pengurus APTIK dan aktif mengikuti berbagai kegiatan APTIK yang barangkali akan berubah dengan terpilihnya sebagai Uskup Bandung.

Unpar sebagai universitas Katolik tertua di Indonesia ditantang untuk mengembangkan diri menjadi perguruan tinggi yang sesuai cita-cita pendiri alm. Mgr. Geise OFM dan alm. Mgr. Artnz OSC agar menjadi agen transformasi masyarakat dengan menjadi perguruan tinggi yang berkualitas sesuai visi Unpar menjadi komunitas akademik humanum. Sebuah perguruan tinggi yang bersemangat kasih dalam kebenaran untuk mengembangkan potensi lokal menuju tataran internasional demi peningkatan martabat manusia dan keutuhan alam ciptaan, berdasarkan sesanti Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti.

Tantangan Keuskupan Bandung saat ini yang juga sangat penting adalah bagaimana menjadi bagian dari masyarakat Jawa Barat. Jumlah umat katolik tidak sampai seratus ribu jiwa. Peran dalam berbagai bidang masyarakat, misalnya politik, ekonomi, kebudayaan, lingkungan hidup, sosial, hukum, dll masih terbatas.
Belum banyak tokoh Katolik yang dikenal kontribusinya bagi masyarakat. Peran Gereja Katolik bagi dan bersama masyarakat belum sungguh terasa dan nampak.

Selanjutnya mari kita ucapkan terima kasih untuk Mgr. Johannes Pujasumarta Pr yang dengan menjadi Uskup Bandung sempat membawa banyak hal positif dan memberi dasar untuk perkembangan Keuskupan Bandung.

Terima kasih juga untuk Mgr. Ignatius Suharyo Pr yang sudah bersedia memimpin Keuskupan Bandung di tengah banyak tanggungjawab beliau yang sangat banyak. Terbayang bagaimana Mgr. Suharyo rela bolak balik Jakarta-Bandung dan sungguh ikut memikirkan perkembangan Keuskupan Bandung.

Terima kasih untuk Romo Paulus Wirasmohadi Soeryo yang bertahun-tahun praktis membantu kedua bapak uskup tersebut untuk ikut memimpin Keuskupan Bandung sebagai Vikaris Jenderal. Terbayang banyak waktu dihabiskan untuk kesana kemari, bicara dengan banyak kedua monsinyur, dan sungguh memikirkan Keuskupan Bandung.

Mari kita doakan agar Gereja Keuskupan Bandung khususnya semakin berkembang sesuai visinya menjadi komunitas yang hidup, mengakar, mekar, dan berbuah bersama masyarakat Jawa Barat.

Dengan demikian, komitmen Gereja Katolik Keuskupan Bandung ialah bersama komunitas-komunitas lain lintas agama, ras, suku, dan bahasa yang hadir di Jawa Barat membangun suatu masyarakat yang bermartabat dan manusiawi. Dilandasi oleh kemurahan hati dan kerelaan berbagi, Gereja Katolik Keuskupan Bandung hendak berperan aktif dalam peningkatan kesejahteraan material dan spiritual masyarakat.

Mohon doa juga dari para bapak uskup almarhum seperti Mgr. Goumans OSC, Mgr. PM Artnz OSC, dan Mgr. Alexander Djajasiswaja Pr dan para sesepuh Keuskupan Bandung yang sudah mendahului kita semua.

Maka selamat untuk Mgr. Anton yang bersedia memikul tanggung jawab yang besar sebagai Uskup Bandung. Kita doakan dan kita dukung. Selamat bekerja dan melayani Mgr. Anton. Modal kecerdasan, kepemimpinan, sifat supel dan mudah bergaul, kegembiraan, mau mendengarkan, keterlibatan dalam sejarah keuskupan, dan banyak karakter dan potensi lainnya akan menyuburkan perkembangan Keuskupan Bandung di tengah masyarakat Jawa Barat. GBU. Amin.

(Sumber: http://www.mirifica.net/2014/06/04/lebih-dekat-dengan-uskup-bandung-mgr-dr-antonius-subianto-bunyamin-osc/)

Surat Gembala KWI Menyambut Pemilihan Presiden 9 Juli 2014

Mgr Ignatius Suharyo (kiri) dan Mgr Johanes Pujasumarta (kanan).
PILIHLAH SECARA BERTANGGUNGJAWAB, BERLANDASKAN SUARA HATI
Segenap Umat Katolik Indonesia yang terkasih,
Kita bersyukur karena salah satu tahap penting dalam Pemilihan Umum 2014 yaitu pemilihan anggota legislatif telah selesai dengan aman. Kita akan memasuki tahap berikutnya yang sangat penting dan menentukan perjalanan bangsa kita ke depan. Pada tanggal 9 Juli 2014 kita akan kembali memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin bangsa kita selama lima tahun ke depan. Marilah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden ini kita jadikan kesempatan untuk memperkokoh bangunan demokrasi serta sarana bagi kita untuk ambil bagian dalam membangun dan mengembangkan negeri tercinta kita agar menjadi damai dan sejahtera sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangsa kita.

Ke depan bangsa kita akan menghadapi tantangan-tantangan berat yang harus diatasi di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden yang baru, misalnya masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial, pendidikan, pengangguran, tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Masalah dan tantangan lain yang tidak kalah penting adalah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, kerusakan lingkungan hidup dan upaya untuk mengembangkan sikap toleran,  inklusif dan plural demi terciptanya suasana rukun dan damai dalam masyarakat. Tantangan-tantangan yang berat ini harus diatasi dengan sekuat tenaga dan tanpa henti. Kita semua berharap semoga di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden yang akan terpilih, bangsa Indonesia mampu menghadapi, mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah itu.

Kami mendorong agar pada saat pemilihan mendatang umat memilih sosok yang mempunyai integritas moral. Kita perlu mengetahui rekam jejak para calon Presiden dan Wakil Presiden, khususnya mengamati apakah mereka sungguh-sungguh mempunyai watak pemimpin yang melayani dan yang memperjuangkan nilai-nilai sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja: menghormati kehidupan dan martabat manusia, memperjuangkan kebaikan bersama, mendorong dan menghayati semangat solidaritas dan subsidiaritas serta memberi perhatian lebih kepada warga negara yang kurang beruntung. Kita sungguh mengharapkan pemimpin yang gigih memelihara, mempertahankan dan mengamalkan Pancasila. Oleh karena itu kenalilah sungguh-sungguh para calon sebelum menjatuhkan pilihan.

Agar pemilihan Presiden dan Wakil Presiden bisa berjalan dengan langsung, umum, bebas dan rahasia serta berkualitas, kita harus mau terlibat. Oleh karena itu kalau saudara dan saudari memiliki kesempatan dan kemampuan, sungguh mulia jika Anda bersedia ikut menjaga agar tidak terjadi kecurangan pada tahap-tahap pemilihan. Hal ini perlu kita lakukan melulu sebagai wujud tanggungjawab kita, bukan karena tidak percaya kepada kinerja penyelenggara Pemilu.

Kami juga menghimbau agar umat katolik yang terlibat dalam kampanye mengusahakan agar kampanye berjalan dengan santun dan beretika, tidak menggunakan kampanye hitam dan tidak menggunakan isu-isu  SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Khususnya kami berharap agar media massa menjalankan jurnalisme damai dan berimbang. Pemberitaan media massa hendaknya mendukung terciptanya damai, kerukunan serta persaudaraan, mencerdaskan dan tidak melakukan penyesatan terhadap publik, sebaliknya menjadi corong kebaikan dan kebenaran.

Marilah kita berupaya sungguh-sungguh untuk mempertimbangkan dan menentukan pilihan dengan hati dan pikiran yang jernih. Konferensi Waligereja Indonesia menyerukan agar saudara-saudari menggunakan hak untuk memilih dan jangan tidak ikut memilih. Hendaknya pilihan Anda tidak dipengaruhi oleh uang atau imbalan-imbalan lainnya. Sikap demikian merupakan perwujudan ajaran Gereja yang menyatakan, “Hendaknya semua warga negara menyadari hak maupun kewajibannya untuk secara bebas menggunakan hak suara mereka guna meningkatkan kesejahteraan umum” (Gaudium et Spes 75).

Pada akhirnya, marilah kita dukung dan kita berikan loyalitas kita kepada siapa pun yang akan terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014 – 2019. Segala perbedaan pendapat dan pilihan politik, hendaknya berhenti saat Presiden dan Wakil Presiden terpilih dilantik pada bulan Oktober 2014. Kita menempatkan diri sebagai warga negara yang baik, menjadi seratus prosen Katolik dan seratus prosen Indonesia, karena kita adalah bagian sepenuhnya dari bangsa kita, yang ingin menyatu dalam kegembiraan dan harapan, dalam keprihatinan dan kecemasan bangsa kita (bdk. Gaudium et Spes 1).

Marilah kita mengiringi proses pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dengan memohon berkat dari Tuhan, agar semua berlangsung dengan damai serta berkualitas dan dengan demikian terpilihlah pemimpin yang tepat bagi bangsa Indonesia. Semoga Bunda Maria, Ibu segala bangsa, senantiasa melindungi bangsa dan negara kita dengan doa-doanya.

Jakarta, 26 Mei 2014

P R E S I D I U M  KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,

Mgr Ignatius Suharyo – K e t u a

Mgr Johanes Pujasumarta – Sekretaris Jenderal

(Sumber: mirifica.net)



Vatikan Angkat Pastor Subianto Sebagai Uskup Bandung

Uskup (terpilih) Antonius Subianto Bunyamin OSC
VATICAN - Paus Fransiskus telah mengangkat Pastor Dr. Antonius Subiyanto Bunyamin OSC menjadi uskup Bandung, Jawa Barat, yang hampir empat tahun tidak memiliki uskup.

Saat pengangkatannya, ia masih menjabat sebagai Provinsial  Ordo Salib Suci (OSC) Provinsi Indonesia, yang berpusat di Bandung.

Berita pengangkatan Pastor  Subiyanto sebagai uskup mengemuka melalui ‘siaran pers’ yang ditulis oleh Pastor Dr. Eddy Putranto OSC.

Pengangkatan uskup baru untuk Keuskupan Bandung diumumkan di Vatikan pada pukul 12.00 waktu Roma atau pkl. 17.00 WIB.

Rabu, 4 Juni 2014, akan berlangsung pertemuan internal Kuria Keuskupan Bandung dan Dewan Konsultores Keuskupan Bandung bersama Mgr Ignatius Suharyo selaku Administrator Apostolik untuk Keuskupan Bandung untuk membicarakan hal-hal berkaitan dengan rencana tahbisan episkopal uskup baru tersebut.

Uskup (terpilih) Subianto lahir pada 14 Februari 1968. Ia  mengucapkan kaulnya sebagai imam religius untuk tarekat OSC pada 28 Agustus 1994 dan menerima tahbisan imamat pada 26 Juni 1996. Pada 3 Juni 2014 diangkat menjadi Uskup untuk Diosis Bandung oleh Takhta Suci.

Sede Vacante
Sejak kekosongan takhta uskup (sede vacante) di Keuskupan Bandung pada 2010 karena Mgr Johannes Pujasumarta mesti mengemban tugas sebagai Uskup Agung Semarang, belum ada uskup yang bisa memimpin seluruh wilayah Parahyangan. Hanya dua tahun Mgr Pujasumarta menjadi Uskup Bandung. Sejak itu, kursi uskup tidak ada yang menduduki.

Rupanya ini kekosongan yang paling lama dibanding kekosongan uskup di Ketapang dan Tanjung Karang pada 2012 yang masing-masing hanya tiga bulan dan satu tahun setelahnya baru ada Uskup.

Kini, dengan penuh sukacita dan hati yang berbunga umat di Keuskupan Bandung menerima uskup baru. “Dengan penuh syukur, kami mengabarkan bahwa baru saja, tepat pukul 12.00 waktu Roma (17.00 WIB), Bapa Paus Fransiskus mengumumkan pengangkatan Pastor Antonius Subianto Bunyamin OSC, Provinsial Ordo Salib Suci sebagai Uskup Keuskupan Bandung yang baru,” ujar Pastor Eddy.

(Sumber: mirifica.net)

Paus Angkat Mgr Agus Jadi Uskup Agung Pontianak

Mgr Agustinus Agus.
VATICAN - Paus  Fransiskus pada Selasa (3/6/2014, telah  mengangkat Mgr Agustinus Agus  sebagai Uskup Agung Pontianak menggantikan Mgr Hieronimus Bumbun OFMCap.

Pada hari yang sama Paus Fransiskus menerima pengunduran diri Uskup Agung Bumbun karena usia lanjut.

Takhta Suci juga menunjuk Mgr Agus  sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat, untuk batas waktu yang belum ditentukan, hingga ada pengangkatan uskup baru untuk keuskupan itu.

Mgr Agus selama ini adalah Uskup untuk Keuskupan Sintang, salah satu Provinsi Gerejawi Pontianak.

Mgr Agus lahir di Lintang, Kapuas, Sanggau, Kalimantan Barat, 22 Oktober 1949. Ia ditahbiskan sebagai uskup Sintang pada 6 Februari 2000.

Menurut Buku Petunjuk Gereja Katolik 2009, Keuskupan Agung Pontianak memiliki 23 paroki.

(Sumber:mirifica.net, UCAN Indonesia)

Jumat, 30 Mei 2014

Rosalina Endang Jempormasse: Darah Seni Mengalir dari Ayahnya


Rosalina Endang Jempormasse
Foto-Foto: Dok. Pribadi
“Info Koor: Sabtu 12 Oktober jam 3 sore di rumah Endang. Snack Bu Sari, Bu Carol. Aqua Pak Happy. Dimohon hadir ya Bapak/Ibu, latihan bersama Yoan organis.Tks”
Begitu salah satu bunyi pesan yang biasa dikirim Rosalina Endang Jempormasse, sang dirigen koor  Wilayah St Stefanus ke peserta koor yang berasal dari warga Komunitas Umat Basis (KUB) A,B, dan C dalam seminggu sebelum latihan koor berlangsung melalui pesan pendek yang dikirim via BBM, WhatsApp Group dan sms biasa maupun Facebook group Wilayah St. Stefanus.

Endang identik dengan seni suara. Perempuan kelahiran Saumlaki ini mengaku tertarik dengan dunia seni lantaran ayahnya, Mathias Jempormasse adalah seorang guru yang juga pencinta seni (seni suara, seni lukis, seni musik, seni ukir).

“Ayah saya bisa nyanyi, mencipta lagu (lagu ciptaannya antara lain berjudul Lelemuku yang artinya Bunga Anggrek, Mars HUT Kodam XV Pattimura), membuat patung, membuat guitar/biola. Beliau juga bisa bermain guitar/biola/piano/suling bambu. Ayah saya meninggal saat saya berumur 10 tahun dan saya sangat percaya, saya mempunyai darah seni yang mengalir dari ayah saya dan pastinya akan turun ke cucu-cucunya,”jelas ibu dari Mathias Aji Chndro Triono (17) dan  Agnes Widorini Fajarpratiwi (8).

Aji bermain  saxophone
Bakat seni suara dan menjadi dirigen telah dilakoni Endang sejak duduk di bangku SMP Katolik St Dominikus Savio Larat, di Kecamatan Tanimbar Utara kota Larat, SMP dimana dulu ayahnya mengajar dan sebagian besar gurunya adalah murid ayahnya.

Suatu ketika, cerita Endang, saat ada kunjungan Imam baru, Endang disuruh menjadi dirigen dan kebetulan sekali lagu yang mereka nyanyikan adalah lagu karangnya ayahnya. Endang mengaku sangat senang bercampur terharu.

Setamat SMP St. Dominikus Savio Larat, Endang melanjutkan ke jenjang SMA di kota Ambon, tepatnya di SMA Katolik St Xaverius Ambon. Di kota Ambon, Endang tinggal di asrama dari tahun 1985-1994 hingga menamatkan kuliah, di Asrama Puteri Atma Kencana, milik Suster Puteri Bunda Hati Kudus. “Di sini, kami hampir setiap hari latihan belajar not dan bernyanyi. Saya aktif di koor lingkungan maupun koor gereja. Saya tidak pernah belajar menjadi dirigen,”ungkap perempuan energik ini.

Sebelumnnya, sambil kuliah di Universitas Patimura, Ambon dengan mengambil jurusan Sosiologi, anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Mathias Jempormasse seorang guru dari Saumlaki desa Lauran Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Liem So Tju keturunan Tionghoa, seorang Pedagang, sudah memilih kerja part time di Keuskupan Amboina bersama Mgr A.P.C. Sol MSC selama 2 tahun. Setelah itu Endang bekerja di  Sekretariat Paroki Katedral Ambon. Tugas Endang kala itu adalah mengetik teks liturgi misa, mencatat atau membuat Surat Baptis/Kematian/Pernikahan dan administrasi gereja lainnya. Jadi, Endang kuliah pagi dan kerja sore.

Rini bermain piano
Endang kemudian berkenalan dengan Joseph Lokan, aktivis gereja di Katedral Amboina yang  juga  pimpinan perusahaan yang kini Endang bekerja.

“Bos saya orang Katolik dan setelah selesai Kuliah Kerja Nyata (KKN), beliau meminta saya bekerja di kantornya di bagian Finance. Padahal, beliau sudah tahu bahwa saya lulusan Sosiologi. Tapi, puji Tuhan saya bisa menyesuaikan diri. Sejak tahun 1992, saya bergabung di perusahaan tersebut,”kenang penyuka parfum White Musk.

September 2000, Endang bersama keluarga hijrah ke Jakarta. Sebelum tinggal di Depok, Endang bersama keluarga tinggal di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan  selama kurang lebih 7 tahun. April 2008 keluarga ini pun memilih tinggal di Grand Depok City Cluster Anggrek, Depok, Jawa Barat.

Ihwal hijrahnya keluarga Budi Panca Prasetyo yang juga suami Endang ke Jakarta berawal ketika tahun 1999, Ambon dan sekitarnya dilanda kerusuhan. Suami Endang yang bekerja di Ambon serta  perusahaan tempat kerja Endang  pun harus pindah ke Jakarta akibat kerusuhan tersebut.

Ditunjuk Jadi Dirigen
Bapak-bapak tim Stefanus Choir
Tahun 2008 pula Endang resmi menjadi Dirigen untuk Wilayah St Ignatius Loyola, wilayah yang kini telah dimekarkan menjadi wilayah baru bernama Wilayah St. Stefanus.

”Awal jadi dirigen itu, waktu Ignola  masih bergabung gabung dengan Wilayah St. Agustinus. Pada saat misa ke-2, dirigennya berhalangan dan misa hampir mulai dan tak ada yang memimpin. Saat itu semua nunjuk saya dan kata mereka ayo bu Endang mimpin. Saya juga bingung gimana mimpinnya, dirigen aja ngga pernah, mau gimana lagi misa sudah mulai terpaksa deh gemetar dan keringat dingin. Setelah itu Romo Tauchen Hotlan Girsang bilang, St Ignola mulai saat ini pisah dan Bu Endang mimpin. Dalam hati saya, waduh gawat nih bagaimana caranya? Ternyata Roh Kudus bekerja dan Ignola bisa mandiri koornya selama 4 tahun  dengan jadwal latihan seminggu 2 kali yaitu Selasa dan Kamis, setiap pukul 20.00-22.00 wib malam. Semuanya dijalani dengan penuh ikhlas,”kenang adik dari Dominikus Savio Jempormasse, Kapolres Kupang, NTT.

  Ibu-ibu tim Stefanus Choir
Setelah Endang dan sebagian warga wilayah St Ignola pisah dan bergabung dengan wilayah baru St Stefanus, Endang masih tetap menjadi dirigen dan pelatih koor. Di St Stefanus sejak tahun 2012, Endang tampak lebih total melayani. Berbagai gebrakan dilakukan Endang. Mulai dari soal grooming. Endang pula yang mengusulkan seragam koor. Batik merah tanda semangat koor St Stefanus yang tak pernah padam.

Meski demikian perempuan yang mengaku suaranya jelek alias fals ini pun melewati suka-duka dalam pelayanan tersebut. Sukanya, apabila semua anggota koor hadir rutin mengikuti latihan. Ketika suasana latihan tampak canda-tawa, saling berbagi satu sama lain sehingga tidak sekadar latihan, ketika tampil di gereja membawakan lagu dengan baik, ketika tidak ada yang tersinggung dan berusaha untuk tidak menyinggung perasaan orang.

Suasana saat latihan koor
“Dukanya adalah di  saat hujan dan yang hadir sedikit orang, ketika saya kurang mengerti baca not dan tanda-tanda biramanya. Kadang pengen ikut pelatihan/les dirigen namun masalah waktu karena saya juga kerja. Sementara kalau pas cuti biasanya untuk keluarga,”jelas perempuan yang mau dikenang orang sebagai penyemangat bagi orang lain.

Endang rupanya punya impian dengan koor yang dipimpinnya.“Impian saya, ingin agar semua warga di wilayah St Stefanus bisa membaca not, ikut koor dan bisa kompak memuji Tuhan. Semua orang pasti bisa bernyanyi asal mau belajar. Di kelompok koor kami tidak hanya kumpulan orang pintar bernyanyi tetapi diberi kesempatan juga bagi yang tidak bisa bernyanyi untuk sama-sama berlatih membaca not,”ungkap  perempuan yang mengaku memuji Tuhan itu dua kali lipat dari berdoa.

Stefanus Choir masa depan
Meski baru memasuki usia setahun, Endang bersama tim koornya dipercaya untuk tugas koor misa malam Natal 25 Desember 2013. Latihan pun mulai dilakukan sejak 20 Oktober 2013 lalu. Semua lagu sudah dilatih dan kini tinggal diperhalus.

Dedikasinya di lingkungan yang kini akrab dengan sebutan wilayah, khususnya koor mendapat dukungan penuh dari suami dan anak-anaknya. Selain bernyanyi, Endang juga anggota Dewan Keuangan Paroki Santo Paulus Depok, Legio Maria, akan tetapi karena benturan waktu sementara ini sebagai anggota auxilier.

Endang menyadari betul bahwa darah seni ayahnya itu pasti mengalir ke anak-anaknya.“Anak saya yang pertama Mathias Aji sejak TK, suka menggambar dan minta belajar musik tapi karena kami tinggal di Pasar Minggu yang bolak balik harus lewat rel kereta dan tidak ada yang mengantarnya, maka terpaksa belum bisa les. Nah, setamat SD, kami pindah ke Depok dan langsung saya ikutkan les gitar. Setelah les gitar, dia sendiri yang minta untuk ikut les saxophone. Sementara adiknya Agnes, dari TK  A sudah ikut les piano, les nyanyi, les biola. Semuanya mereka yang minta dan  kami orang tua hanya mengikuti keinginan mereka. Puji Tuhan mereka enjoy, Aji dan Rini mulai berani tampil di Gereja dan itu tujuan utama kami agar mereka bisa memuji dan memuliahkan Tuhan lewat talenta yang mereka miliki,”terang pehobi bekerja, shopping, dan masak.

Tetap semangat Bu Endang!“Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian......”(Mazmur 66:2).(Farida Denura)


BIODATA
Nama                               : Rosalina Endang Jempormasse
Jenis kelamin                   : Perempuan
Tempat, tanggal lahir       : Saumlaki, 04 Oktober 1970
Status                              : Menikah
Suami                              : Budi Panca Prasetyo
Anak                                : 2 orang : Mathias Aji Chndro Triono (17 tahun) dan
                                           Agnes Widorini Fajarpratiwi (8 tahun)   
E-mail                              : rosalina_endang@yahoo.com

Pendidikan Formal:

1976 - 1982 : SD  GPM Arma
1982 - 1985 : SMP St. Dominikus Savio Larat
1985 - 1988 : SMA Xaverius Ambon
1988 - 1992 : Program Sarjana (S-1) Sosiologi Universitas Pattimura, Ambon

Hobi:

Menyanyi, bekerja, shopping, masak

Falsafah Hidup:

 “Tantangan, Menjadi Peluang  dan Menjadikan Diri Lebih Baik”










Jumat, 09 Mei 2014

Romo Alfons S Suhardi OFM, Tidak Merasa Tua di Usia 75 Tahun

Romo Alfons R Suhardi, OFM siap memotong kue tar ultah ke-75 tahun di hari ulang tahunnya Senin 5 Mei 2014 di halaman depan Pastoran Paroki St. Paulus Depok. [Foto-Foto: Endang R. Jempormasse]
SENIN,  5 Mei 2014 merupakan hari bahagia Romo Alfons S. Suhardi, OFM. Pasalnya pada hari itu, Romo Alfons S Suhardi, OFM, Pastor yang belum lama bertugas di Paroki St Paulus Depok itu genap berusia 75 tahun.
   
Putra ke 2 dari 12 bersaudara kelahiran Muntilan, 5 Mei 1939 mengaku sampai saat ini masih sehat, masih bisa bekerja dan tidak merasa tua. “Saya tidak merasa tua. Saya masih sehat dan masih bisa bekerja. Saya sadar tua, pas jalan menanjak yang membuat nafas saya terengah-engah atau naik tangga hingga 20-30 anak tangga. Atau, ketika saya bersama anak muda, misalnya novis baru maka saya baru merasa tua dan saya ingat mereka saat 53 tahun lalu tepatnya tahun 1961 saya masuk novis,”ungkap putera seorang Katekis yang lahir pada Jumad Kliwon.
   
Senin malam itu sekitar 30 orang hadir merayakan ulang tahun Romo Alfons yang digelar di halaman depan pastoran. Mereka yang hadir antara lain Romo DR Alex Lanur, OFM, Romo Yan,OFM, Romo Yosef Tote, OFM, Romo Anton S Manurung, OFM, Seminaris dari Transitus serta beberapa Romo lagi, sejumlah pengurus DPP dan  sejumlah pengurus DKP.
   
Ditanya WP (Warta Paroki St Paulus Depok-Red) kenapa tidak merasa tua, Romo Alfons begitu dia disapa umat, dan memiliki nama asli Suhardi ini, mengaku bahwa tubuhnya sehat dan baru sekali masuk rumah sakit karena menderita paru-paru basah dan 5 tahun lalu menderita sakit jantung namun saat ini sudah pulih kembali. Romo Alfons mensyukuri tubuhnya yang sehat dengan nafas yang tidak tersenggal-senggal. “Tarik nafas waktu nyanyi juga satu kali dibanding anak muda yang bisa tarik nafas 3 kali,”akunya bangga.
   
Romo Alfons R Suhardi, OFM sedang memotong kue tar ultah ke-75 tahun.
Sepanjang usianya, Romo Alfons telah 46 tahun menjalani imamat. Pilihan imamatnya diakui dia sebenarnya menyalahi rumus Bapaknya. “Bapak saya suruh jadi misdinar, lalu jadi Romo akan tetapi saya terlanjur menjadi anggota koor sejak kelas IV SD dan tidak pernah menjadi misdinar,”cerita Romo yang menguasai 7 bahasa asing yaitu bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Latin, Italia, Arab. Selain itu Romo pernah mempelajari bahasa Ibrani.
   
Lebih lanjut dia menjelaskan  pilihan imamatnya timbul ketika suatu hari Romo Pastoran di Metro Lampung menunjukan padanya foto anak-anak seminari Palembang. “Saya lihat teman saya kelas 6 SD itu ada di foto itu. Namanya Surip. Dia teman kelas 6 SD di Metro tapi dari Panti Asuhan Pringsewu. Di situlah saya sadar dan memicu saya juga untuk masuk seminari,”kenang Romo yang juga fasih berbahasa Jawa, Sunda ini.
   
Ketika dirinya berkonsultasi dengan Frater Achiles, Frater menyarankan untuk masuk Fransiskan dengan melanjutkan seminari di Cicurug. Alasannya, Frater Achiles dulu gagal masuk seminari tersebut jadi meminta dia meneruskan.

Romo Anton sedang menyalahkan lilin ultah.
Frater Achiles juga sambung dia yang diam-diam menulis surat ke Uskup Bogor, Mgr N.J.C. Geise, OFM dan diterima meski keputusan masuk seminari itu membuat ayahnya agak kecewa. Romo Alfons akhirnya masuk biara tahun 1953 tepatnya di Seminari Cicurug dan ditabiskan 3 Desember 1968 di Pringsewu, Lampung. Maklum kedua orang tuanya memang tinggal di Pringsewu.
   
Romo Alfons lebih cepat ditabiskan dibanding dua temannya karena mau dikirim tugas belajar di Kairo guna mendalami Islamilogi di American University selama kurang lebih 2,5 tahun. Status Romo Alfons waktu itu saat mau ditabiskan hanyalah seorang Frater dan harus segera ditabiskan Mgr. Albert Hermelink Gentiaras SCJ, Uskup pertama keuskupan Lampung sementara dua teman lainnya harus menjalani tugas pastoral dulu di paroki.
   
Karena belum menjalani tahapan sebagai sub diakon, diakon, dan imamat, padahal harus ditabis maka dia pun cepat-cepat berangkat ke Pringsewu, dua minggu sebelum tabisannya. Mula-mula ditabiskan menjadi sub diakon oleh Mgr Hermelink SCJ yang juga dihadiri kedua orangtuanya, adiknya seorang biarawati di Kapel Pringsewu. Sementara pada Minggu sore dia menjalani tabisan diakon di kapelnya Susteran FSGM yang dijadikan sebagai paroki. Baru kemudian pada Kamisnya ditabiskan menjadi imam. Waktu yang begitu singkat harus menjalani tabisan membuat Romo Alfons tidak sempat membuat jubah baru, sehingga jubah yang dikenakan adalah jubah saat menjalani kaul kekal dan diakui dia sudah robek-robek.

Bergelut di Dunia Pendidikan
Usai ditabis pria yang sangat berbakat pada ilmu eksata dan pernah menjadi siswa nomor 1 dalam ujian akhir nasional se-Sumatera Selatan ini langsung dikirim ke Kairo. Di sana dia belajar bahasa Arab guna mendalami Islamilogi selama kurang lebih 2,5 tahun.
   
Selesai tugas belajar di Kairo, Romo Alfons melanjutkan studi selama 5 tahun di Belanda. Niatnya untuk mempelajari bahasa Arab namun di tempat tersebut hanya mengajarkan Sastra Arab sehingga Romo Alfons akhirnya memutuskan untuk pindah jurusan dengan mengambil misiologi.
   
Tahun 1977, Romo Alfons kembali ke Indonesia dan langsung menjadi Magister para Frater di Jakarta serta 2 tahun pertama mengajar di Seminari Agung (Seminari Tinggi Fermentum), di Unpar, Bandung. Dua tahun kemudian dia ditarik ke KWI. Waktu bertugas di KWI, Romo Alfons merangkap menjadi Dosen di STF Driyakarya dan juga merangkap Magister Frater Fransiskan di Wisma Padua, Cempaka Putih selama kurang lebih 5 tahun. Di KWI Romo Alfons pernah bertugas di Komisi HAK, Dokpen KWI.
   
Sebagian tamu yang hadir. Tampak Romo DR Alex Lanur OFM.
Selama menjalani imamat, Romo Alfons selalu bergelut dengan dunia pendidikan. Selain itu selama 9 tahun dia menjabat sebagai Kepala Komisi Pendidikan OFM Indonesia. Dari KWI Romo Alfons kemudian diminta pembesarnya menjadi Direktur Vincentius.
   
Di Vincentius pulalah Romo Alfons mengakui menjalani tugas paling berat karena mengurus 420 anak yang berasal dari berbagai latar belakang dan pada saat itu adalah masa reformasi dimana sering terjadi demo dan mereka sering berkelahi. Anak-anak semangatnya luar biasa. Saat pintu gerbang digubrak, mereka menghadangnya dan untung ada tentara yang membantu mereka.
   
“Pertama kali demo itu khan banyak sekali. Macam-macam, tembak-tembakan. Saya akhirnya bilang ke atasan kalau keadaan terus-menerus begini saya tidak tahan. Saya ini khan dibesarkan oleh keluarga yang tenang. Orang tua saya mengajarkan bahasa yang santun dan tidak ada bentak. Situasi yang lunak,”kenang Romo yang memiliki semboyan imamat “Berjaga-jagalah dan Berdoalah”.
   
Ditanya soal hobinya, dia mengaku memiliki hobi yang berkaitan dengan teknik, dan elektronika khususnya. Selain itu dia juga ketularan bakat ayahnya sebagai tukang kayu.“Saya ketularan itu dan berkembang juga sehingga waktu di seminari pas pesta nama, Rektor saya buatkan podium dan saya juga yang sambungkan kabel-kabel,”tuturnya.
   
Romo Alfons tidak bisa melihat buku teknik. Kalau ada buku teknik, dia akan membacanya sampai habis. Dia mencari tahu apa saja seperti mengapa radio koq bisa berbunyi? Rasa ingin tahu yang begitu tinggi itu membuat dirinya ketika belajar di Kairo ada radio yang rusak langsung dia membeli perkakas kemudian diperbaiki. Dan, radio tersebut bisa dipakai kembali.
   
Secara otodidak, Romo Alfons juga belajar tentang komputer dan jaringan. Ketika mengajar di STF Driyakarya, Romo membuatkan program aplikasi mengelola data mahasiswa. Dengan aplikasi itu terang dia, data mahasiswa dapat diperoleh dengan cepat. Program aplikasi buatan dia dipakai selama 25 tahun sehingga untuk mengakses transkrip nilai mahasiswa secara keseluruhan pun dapat dilakukan hanya dalam waktu 5 menit.
   
Di akhir perbincangannya dengan WP, Romo Alfons menegaskan dalam menjalankan panggilan, apapun panggilan itu kita harus serius. Bagi seorang imam, kebahagiaan seorang imam itu harus ditemukan dalam imamat itu sendiri.
   
“Dalam hidup rohani semasa menjalani novisiat, kalau hidup gersang, kering maka tingkat hidup rohanimu menjadi lebih kuat. Kalau dihadapi dengan baik dan tegap pada tujuan semula, maka walaupun goyang suatu ketika akan selesai dan berakhir. Ini yang dinamakan proses inisiasi,”ungkap Romo yang telah menerjemahkan buku bahasa Belanda sebanyak 300 halaman dan Sejarah Fransiskan di Papua sebanyak 500 halaman.
   
Karena usianya sudah 75 tahun, sebagai Pastor dirinya sudah pensiun dan karena masih sehat maka di paroki St Paulus Depok, Romo Alfons siap membantu pelayanan sakramen bagi umat atau memimpin misa selama masih mampu. Dia tidak diberi beban tanggung jawab lagi untuk menetapkan kebijakan. Namun demikian Romo Alfons masih dapat memberikan pendapat.

Selamat ulang tahun Romo Alfons, doa kami semua umat paroki St Paulus Depok agar panjang umur dan sehat selalu serta senantiasa setia dalam pelayanan! (Farida Denura)
   

Rabu, 07 Mei 2014

Cerita di Balik Serunya Paskah Padang Wilayah St. Stefanus

Umat wilayah St Stefanus foto bersama dengan Romo Yosef Tote, usai misa Paskah Padang Bersama di Golf Sawangan, Bojongsari, Depok, Kamis (01/05/2014). [Foto-Foto: Aries & Farida Denura]
MINGGU 23 Maret 2014 lalu usai latihan koor, beberapa ibu dari KUB A berkumpul bersama Ketua KUB A, Elven Rajalewa di kediaman Pak Andreas, di Cluster Gardenia lokasi dimana koor berlangsung. Rupanya, ibu-ibu rindu berkumpul di luar ruang memuji dan memuliahkan Tuhan Yesus Kristus melalui sebuah kegiatan bertajuk Paskah Padang Bersama.
   
Ide ibu-ibu tersebut langsung diutarakan ke Elven Rajalewa dan disambut baik. Elven kala itu menjanjikan akan mempersiapkan konsep Paskah Padang Bersama untuk didiskusikan pada pertemuan berikutnya. Ibu-Ibu pun sepakat dengan Ketua KUB A. Ide Elven kemudian didiskusikan bersama Sekretaris dan lahirlah konsep Paskah Padang Bersama yang semula dikhususkan bagi warga KUB A dan KUB C yang kemudian ditingkatkan menjadi kegiatan berskala wilayah St Stefanus.
   
Rapat akhirnya digelar kembali dengan mengundang beberapa ibu pada Sabtu 29 Maret 2014 di kediaman sementara Ibu Agatha di Cluster Gardenia. Mereka yang hadir antara lain Ibu Nova Taroreh, Ibu Agatha, Ibu Endang, Maria P. Daeli, Ibu Sinaga, Ibu Ella, dan Ibu Lucy Happy. Sementara Bapak-Bapak yang hadir adalah Pak Tommy, Pak Elven, Pak Sinaga, dan Pak Aries.
   
Meski hujan deras, tetap tidak menyurutkan semangat mereka untuk hadir pada rapat tersebut. Diawali dengan Doa Pembuka dan dilanjutkan dengan pemaparan konsep Paskah Padang Bersama oleh Ketua KUB A.
   
Paskah Padang Wilayah St Stefanus.
Elven mulai menjelaskan konsep Paskah Padang Bersama tersebut. Paskah Padang terang Elven merupakan acara Paskah Bersama umat Kristiani yang digelar di luar ruangan, biasanya di hamparan padang, bentangan alam yang luas. Digelar usai perayaan Paskah dan digabung dengan kegiatan bersifat outbound atau kegiatan rekreatif bentuk lainnya.
   
Paskah Padang yang dimaksud tambah Elven, juga akan mengundang warga KUB C untuk bergabung bersama dalam dua kegiatan besar yaitu: Kegiatan Ibadah Dewasa & Anak-Anak dan Kegiatan Outbound atau Rekreasi dan Games.
   
Dalam kesempatan tersebut Elven menawarkan tema Paskah Padang Bersama yang selaras dengan visi Keuskupan Bogor yaitu Communio dan tema yang diputuskan adalah:“Communio et Progessio” (Persekutuan dan Kemajuan). Sedangkan sub temanya adalah: “Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan”. (Filipi 2: 2b).
   
Konsep beserta tema pun langsung disetujui peserta rapat dan  langsung dibentuk panitia yang terdiri dari: Ketua (Pak Elven Rajalewa), Sekretaris (Ibu Farida Denura), Bendahara (Ibu Nova Taroreh). Sementara Seksi-Seksi: Seksi Ibadah & Liturgi: Pak Hermanto Situmorang (Koordinator) dan Pak Adrianus Angkur. Seksi Koor: Ibu Endang (Koordinator) dan Ibu Maria P. Daeli. Seksi Konsumsi: Ibu Agatha Atin (Koordinator), Ibu Ella Aries, Ibu Elda. Seksi Acara (Anak & Dewasa): Ibu Veronica Lucy (Koordinator), dan Ibu Merry Martens. Seksi Dokumentasi: Pak Aries. Seksi Perlengkapan dan Transportasi: Pak Tommy (Koordinator), Pak Bernard Sinaga dan Pak Budi Muyanto .
         
Menu hasil saweran.
Rapat juga memutuskan untuk dana, akan dipungut iuran ke masing-masing KK, sebesar Rp 50.000/KK. Sementara untuk konsumsi diputuskan dalam bentuk potluck (saweran) terdiri dari beberapa menu yaitu: Nasi Putih, Ayam Goreng, Mie goreng, Sayur (Pecel), Ikan Bakar, Gurame, Buah, Babi Kecap, Tumis Bunga Pepaya, Aqua dan menu lain atas  sumbangan warga. Panitia juga  tidak menyewa kendaraan dari luar, akan tetapi menggunakan mobil-mobil milik warga KUB A dan KUB C.

Seru, Praktis, Tak Banyak Rapat
Guna mensosialisasikan rencana tersebut, Ketua Panitia bersama Sekretaris memutuskan untuk tidak membuat surat undangan maupun sejenisnya. Yang dilakukan, adalah berkunjung ke rumah warga, berkenalan lebih dekat sekaligus menjelaskan kegiatan tersebut. Biasanya dilakukan malam hari usai pulang kerja atau kegiatan lainnya.
   
Rupanya kunjungan tersebut membangkitkan kesadaran warga  untuk bersekutu bersama dalam Paskah Padang tersebut.
   
Lokasi Golf Sawangan yang disurvei.
Di sela mengunjungi warga, Ketua Panitia bersama Sekretaris langsung melakukan survei di 2 lokasi yaitu Golf Sawangan, Bojongsari, Depok dan Taman Budaya Sentul City, Sentul, Jawa Barat. Hasil survei di-share ke panitia baik melalui email maupun WA dan suara terbanyak memutuskan memilih Golf Sawangan. Alasannya, selain murah, juga dekat dan ada kolam renang.
   
Koordinasi selanjutnya lebih banyak dilakukan melalui WA Group maupun WA pribadi masing-masing panitia dan puji Tuhan panitia kompak komunikasi terjalin dengan baik. Koordinasi pun berjalan dan semuanya oke hingga akhir acara pada hari H.

Rapat berikutnya yaitu rapat kedua, digelar di kediaman Bu Endang, Minggu, 20  April 2014 sore. Rapat cuma mengagendakan laporan perkembangan masing-masing seksi sekaligus check list masing-masing seksi.

Komunikasi yang paling intens dengan Sekretaris maupun Bendahara adalah Sie Konsumsi dan Si Acara. Kedua seksi ini memang super sibuk memikirkan soal menu, kemasan acara, maupun aneka hadiah. Tentu semuanya harus didukung dengan  dana yang tersedia di Bendahara.
   
Guna memastikan kehadiran Romo pada acara tersebut, Pak Tommy dan Pak Elven menemui Romo Yosef Tote di Pastoran. Ketika niat diutarakan Romo Yosef Tote setuju untuk memimpin misa dan membatalkan kegiatan lainnya pada hari tersebut di Jakarta. “Romo ingin dekat dengan umat, khususnya umat di wilayah St Stefanus,”ujar Tommy.
   
Romo Yosef Tote bermain harmonika.
Romo Yosef Tote juga menyarankan agar acara ditingkatkan dari skala KUB menjadi skala wilayah dan disetujui Ketua Wilayah St Stefanus. Ketua Wilayah pun mulai berkoordinasi dengan warga KUB B dan mereka antusias menyambut kegiatan tersebut. Meski singkat sosialisasi ke KUB B ternyata cukup banyak warga KUB B yang hadir pada acara tersebut. Tak hanya itu Seksi Acara yang menjadi motornya juga didukung Ibu Filumena Shanty Nugroho serta tak kalah penting adalah MC yang juga dibawakan Pak Nugroho dari KUB B. Kedua pasutri ini memang kompak mensukseskan acara. Luar biasa!
   
Suatu kali di sekolahan Mardi Yuana, berkumpulah 3 ibu yang kebagian seksi pada acara tersebut. Mereka adalah Ibu Agatha, Ibu Lucy, serta Ibu Santhy. Ketika sedang menunggu anak-anaknya latihan drumband mereka menggelar rapat seksi. Bu Lucy mencatat hasil rapat.
Trio ibu super sibuk.

Saat saya sedang berada di Bandung, tiba-tiba mendapat WA dari Bu Agatha yang berbunyi:”Bu, siapa yang bisa bikin bakiak tandem buat lomba?” Saya menjawabnya,”Bakiak Tandem itu apa Bu? Lalu dijelaskan Bu Agatha. Saya pun langsung berkoordinasi dengan Pak Aries melalui WA.

Pak Aries langsung mengiyakan dan bertanya pada saya,”Tandem buat berapa orang Bu, terus Bakiak Tandemnya mau dibuat berapa pasang Bu?”. Saya pun langsung meminta Pak Aries untuk koordinasi lebih lanjut dengan Bu Lucy.

Koordinasi berlangsung baik dan hasilnya bakiak tandem karya Pak Aries membuat acara menjadi tambah seru dan diminati bapak-bapak maupun ibu-ibu.
   
Bu Lucy sedang MC.
Untuk hadiah buat anak-anak, Pak Yosi dan Istri via WA Group langsung menawarkan snack untuk anak-anak. Pak Yosi langsung berkoordinasi dengan Bu Lucy untuk hal tersebut. Awalnya via WA Pak Yosi bertanya pada saya,"Saya mau tanya, jumlah anak-anak yang pasti akan ikut Paskah Padang  jumlahnya berapa orang,Bu? saya ada rencana sama istri mau sumbang snack untuk anak-anak, Bu". Langsung dijawab saya,"Saya koordinasi dulu dengan Bu Lucy dan team ya".

Komunikasi dengan Pak Yosi terus berlangsung dan Pak Yosi menginformasikan akan menyumbang snack berupa Taro, Biskuit, dan Teh Pucuk sekitar 70 bungkus. Luar biasa donasi keluarga muda ini.
   
Menjelang H-1 ada juga cerita-cerita seru ibu-ibu yang mendapat jatah konsumsi. Bu Agatha selaku Koordinator Seksi Konsumsi setiap saat mengupdate soal menu makanan.

Bapak-Bapak sedang ikut lomba bakiak.
Bu Novi Hermanto yang kebagian menyiapkan ikan arsik pada H-1 sempat kebingungan karena bumbu Andaliman, bumbu khusus untuk Arsik tidak ada. Karena mengetahui saya berada di Pasar Agung, Bu Novi pun WA saya. “Bu, lagi di Pasar Agung ya. Boleh titip ngga, belikan Andaliman dan Bawan Kucai. Ngga ada di Pasar Pucung. Andaliman Rp 5 ribu dan Bawan Kucai 4 ikat”. Kemudian saya menjawabnya,”Wah saya sudah di stasiun Depok Lama mau ke kantor. Coba hubungi Bu Asamta, dia masih di Pasar Agung, tadi ketemu”.
   
Hingga malam hari pada H-1 Bu Novi masih juga belum tenang karena belum mendapatkan Andaliman. Bu Agatha meminta saya mencarikan usai pulang kerja, namun saya tidak menyanggupi karena pasar sudah tutup pada jam tersebut. Akhirnya pada Kamis 01 Mei 2014 pagi buta, Bu Novi mendapatkan bumbu tersebut.
   
Untuk urusan nasi, Bu Maria P Daeli yang mengkoordinir ibu-ibu. Bu Agatha mengirim WA di group:”Malam ibu-ibu, mengingatkan yang bertugas membawa nasi: Bu Tommy, Bu Farida, Bu Endang, Bu Maria Pa Daeli, Bu Nova, Bu Carol, Bu Lucy, Bu Lista, Bu Tanti, Bu Kathrien dan Bu Agatha”. Esok paginya Bu Maria P Daeli mengirim WA ke group tepat pukul 05.43 wib,”Ibu-ibu nasinya masih ditunggu ya. Bu Carol Suseno meski tidak ikut bergabung di acara tersebut karena berhalangan langsung menyahut,”Saya ke sana ya Bu”. Sementara Bu Agatha,”Oke Bu Maria, aku siapin anak-anak dulu nih”. Bu Katharina, Bu Wisnu, Bu Lucy, Bu Lista dan saya pun menyahut oke.
   
Menikmati menu saweran.
Di luar dugaan konsumsi berlimpah melebihi daftar konsumsi yang ditetapkan seksi Konsumsi. KUB C juga menyumbang aneka makanan. Yang mengharukan adalah beberapa anggota keluarga yang tidak ikut namun berbondong-bondong mengantarkan sumbangan. Bu Carol menyumbang nasi dan ayam goreng, Bu Silvy menyumbang buah dan 2 dus aqua, serta Bu Lik juga menyumbang minuman. Kebersamaan yang sungguh membanggakan. Bahu membahu menyukseskan acara Paskah Padang Bersama.
       
Nah, soal dana yang paling krusial. Meski sudah ditalangi KUB A dan donasi sebesar Rp 1 juta dari Bapak Bernard Sinaga untuk sewa tenda, tetap saja masih kurang karena dan dari warga KUB A, B, dan C semuanya belum terkumpul. Dalam perjalanan pulang saya dari Bandung, Sabtu 26 April 2014, Seksi Acara, Seksi Konsumsi intens berkomunikasi dengan saya via WA dan juga mempublish kebutuhan dana di group WA KUB B untuk kebutuhan kedua seksi tersebut. Sementara dana yang ada sebagian sudah dibayar untuk sewa lahan, tenda, dan lain-lain. Saya belum sempat mengumpulkan dana. Tiba di Depok, malam harinya saya bersama Ketua Panitia langsung keliling mengumpulkan dana di KUB C, KUB A dan dilanjutkan Minggu 27 April 2014 saat mengikuti latihan koor di rumah Pak Meno.
Bapak-bapak kompak dalam sebuah permainan.
Usai koor saya mohon ijin sebentar mengupdate informasi perserta, kebutuhan dana dan lain-lain dan saat itu juga peserta koor yang belum mengumpulkan dana serentak menyerahkan ke saya. Sekali lagi Puji Tuhan atas kemurahanNya semua warga wilayah St Stefanus. Acara pengumpulan dana masih tetap berlangsung ketika ada misa memperingati arwah di kediaman Pak Asamta.

Setelah selesai misa, saya pun masih saja mengumpulkan dana dan malam itu terkumpul lagi. Pada hari H usai acara masih juga mengumpulkan dana. Sisa dana dari KUB C hari itu diserahkan ke saya dan beberapa warga KUB B pada hari itu juga menyerahkan ke saya.

Duduk di selasar.
Di saat bersamaan Pak Tommy mengirim WA ke saya meminta ke rumah Bu Christine untuk mengambil dana dari kas wilayah yang telah disediakan Bu Christin. Bu Nova selaku Bendahara mengambil dana tersebut. Selain itu ada juga warga yang selain menyumbang Rp 50 ribu karena atas nama kebersamaan menghubungi Ketua Panitia untuk mengambil dana tambahan.
   
Di saat-saat terakhir itu pula Ibu Cathy Christopher yang juga mengikuti percakapan seputar dana di WA Group ikut menyumbang dana dalam jumlah yang cukup besar. Terima kasih Bu Cathy untuk persembahan kasih yang begitu besar buat acara ini. Tuhan memberkati ibu selalu. Sayang karena kesibukan, Ibu Cathy tidak bisa hadir bersama warga Wilayah St Stefanus di acara tersebut.
   
Tuhan memang luar biasa baik. Di saat kebutuhan masing-masing seksi akan dana, pada Rabu malam hari H, semua dana terkumpul dan semua kuitansi dibayar, semua kewajiban dilunaskan. Kini, saatnya Panitia menggelar rapat membahas acara yang telah berlangsung, mengevaluasi serta membuat Laporan Pertanggungjawaban Kegiatan. Karena kasih dan kuasa Tuhan dana yang dihimpun panitia pun menjadi surplus. Luar biasa dan semua indah pada waktunya! Yang menarik Sekretaris diberi kuasa Bendahara untuk langsung mengelola dana yang diterima dengan langsung mengalokasikan ke seksi-seksi yang membutuhkan. Terima kasih Bu Nova atas kepercayaan tersebut.
   
Hal menarik lainnya, saat hendak menuju lokasi adalah urusan check list. Bu Agatha dalam WA mengingatkan Bu Endang,”Bu Endang jangan lupa termos untuk air panas ya”. Dan dijawab Bu Endang,”Siap!”
   
Sebagian umat wilayah St Stefanus berkumpul bersama sebelum menuju lokasi.
Bu Nova yang tiba lebih awal di lokasi melapor di WA Group,”Kami udah menuju lokasi Bu sambil membawa Pecel dkk. Tambah lagi peringatan dari Bu Agatha,”Bapak Ibu yang membawa aqua, jangan lupa ya”.
   
Check list lainnya datang dari Bu Endang. Ketika rombongan kami, rombongan paling akhir meninggalkan GDC menuju arah Sawangan, tepat mendekati pertigaan menuju arah Sawangan, tiba-tiba Bu Endang memposting di WA Group sbb: “Bapak Ibu ada yang bawa Kitab Suci ngga ya? Bu apa Romo ada bacaan ngga? Langsung saya menjawab,” Wah, kami putar  ke gereja dulu ambil Bu. Bacaan sudah Bu di sub tema Filipi 2:2B. Dijawab Bu Endang,”Baik Bu, dan sekalian titip Puji Syukur. Apa peralatan misa sudah lengkap? Saya bawa salib dan lilin. Akhirnya daripada ada yang kurang melalui koordinasi yang baik dengan Satpam Gereja kami pun dipinjamkan Kitab Suci, Puji Syukur, Taplak Meja Putih. Semua aman dan tim sapu jagat  yang terdiri Pak Elven, saya dan Bu Maria Gayatri pun bertolak menuju Sawangan.
   
Sesampai di lokasi semua panitia langsung menata meja altar, membentangkan tikar, memasang backdrop. Kerja kilat semuanya beres dan misa langsung dimulai pukul 08.15 wib. Khidmat, dan meriah dengan puji-pujian yang dibawakan Stefanus Choir, meski mereka sedikit berkeringat karena disiram panas matahari pagi.
   
Bahagia mendapat hadiah games.
Usai misa, digelar games-games yang tak kalah seru dengan hadiah-hadiah menarik. Dua MC yang memandu acara ini adalah ibu Lucy dan Ibu Merry. Mereka piawai memandu games khusus Balita, anak-anak, serta orang dewasa.  Untuk Batita, lomba memindahkan bola, untuk balita digelar lomba mencari telur Paskah dan untuk anak-anak ada lomba rebutan kursi, lomba menghias telur, lomba memindahkan karet dengan sedotan beregu. Untuk dewasa, lomba bakiak untuk bapak-bapak dan ibu-ibu serta lomba menyambung sedotan. Terima kasih Bu Lucy, sang komando yang luar biasa mempersiapkan acara di sela harus mengurus ketiga puteranya.
   
Mendung mulai menutupi langit dan usai lomba Bakiak serta bagi-bagi hadiah, hujan pun turun dengan derasnya. Tak ada acara bebas  berenang bagi anak-anak. Semuanya duduk di selasar bergelar tikar, menikmati kopi, teh dan snack yang tersedia.

Hujan pun mulai reda dan satu persatu meninggalkan lokasi. Rombongan saya dan rombongan Bu Lucy adalah rombongan sapu jagat setelah menyelesaikan semua pembayaran dan lain-lain.
   
Semua yang hadir benar-benar puas dengan lomba-lomba yang digelar dengan aneka hadiah. Makanan berlimpah dibungkus dan dibawa pulang masing-masing. Sungguh, sebuah kebersamaan yang mengesankan. Indahnya sebuah kebersamaan! (Farida Denura)

   
   
   
   
       
       


     

Senin, 05 Mei 2014

Paskah Padang Wilayah St Stefanus dan Semangat Membangun Persekutuan

Pastor Paroki St Paulus Depok, RP Yosef Paleba Tolok Tote, OFM sedang memimpin misa Paskah Padang Bersama Wilayah St. Stefanus Paroki St. Paulus Depok, Kamis (1/5/2014) di Golf Sawangan, Bojongsari, Depok.[Foto-Foto: Aries]
Kamis, 01 Mei 2014, di atas hamparan rumput hijau yang luas tepatnya di areal Golf Sawangan, Bojongsari, Depok, sekitar 200 umat dari wilayah Santo Stefanus, paroki St Paulus Depok berhimpun memuji dan memuliakan  Yesus Kristus dengan menggelar Misa Paskah Padang Bersama.
   
Misa dimulai tepat pukul 08.15 wib dan dipimpin Pastor Paroki St Paulus Depok, RP Yosef Paleba Tolok Tote, OFM serta diiringi paduan suara dari Stefanus Choir. Umat yang hadir sebelum misa kudus dimulai telah memenuhi tenda dan dan areal di luar tenda.
   
Misa diawali dengan lagu pembukaan berjudul “Hari Ini Kurasa Bahagia”. Pilihan lagu pembuka yang mencerminkan umat yang tengah bersukacita, bergembira dalam persekutuan tersebut. “Di Paskah Padang, kita berkumpul, bergembira, bersuka cita. Karena itu kita awali dengan lagu “Hari Ini Kurasa Bahagia”,”ungkap Romo Yosef Tote.
   
Dalam homili Romo Yosef Tote yang dikaitkan dengan tema Paskah Padang yaitu “Communio et Progessio” (Persekutuan dan Kemajuan) serta sub tema: “Hendaklah Kamu Sehati Sepikir, dalam Satu Kasih, Satu Jiwa, Satu Tujuan”. (Filipi 2: 2b) dikatakan bahwa umat yang berhimpun pada Paskah Padang ini merupakan sebuah persekutuan dari wilayah St Stefanus. Persekutuan tersebut tambah Romo, menunjukkan kemajuan karena mereka bisa sehati sepikir, sehati sejiwa, dan sungguh-sungguh satu tujuan karena tugas kita adalah membangun dan memajukan persekutuan ini. Jika ada persekutuan tersebut maka tidak akan ada acara Paskah Padang.
   
Paduan suara Stefanus Choir sedang melantunkan pujian-pujian mengiringi perayaan misa Paskah Padang Bersama.
Paskah Padang Bersama ini kata Romo Yosef Tote, adalah untuk membangun sebuah persekutuan. Melalui nats Filipi 2:2B, maka banyak hal yang dapat dibangun di wilayah St Stefanus untuk sebuah kemajuan, sebuah Communio et Progressio.   
   
Oleh karena itu tambah Romo Yosef Tote, semangat dasar yang harus dibangun adalah kasih dan kasih itu menjadi pijakan. “Komunio harus kita bangun mulai dari keluarga-keluarga kita,”ujarnya.
   
Dalam bacaan pertama, kata Romo Yosef Tote, ada satu hal yang menarik yaitu setelah Yesus bangkit, murid-muridnya mewartakan tentang kebangkitan Yesus dimana-mana. Mereka semakin berani mewartakan. Semakin mereka dilarang, semakin mereka berani mewartakannya.
   
Persekutuan ini menurut Romo Yosef Tote, harus mau melayani satu sama lain. Persekutuan ini merupakan kumpulan murid-murid Yesus dan harus saling melayani. Ini merupakan ciri dari murid-murid yang percaya pada Yesus dan ini pula yang menjadi kesaksian. Persekutuan ini harus mampu memberi kesaksian.
   
“Kita bangun persekutuan dengan kasih, membina relasi yang baik dengan warga dan Kristus maka pada akhirnya kita menjadi saksi Kristus,”tegas Romo Yosef Tote.

Romo Yosef Tote, OFM  didampingi misdinar sedang memberi komuni kepada sebagian umat wilayah St Stefanus.
Di akhir homilinya Romo Yosef Tote mengajak umat di persekutuan ini utnuk berusaha secara terus menerus membangun sebuah komunio.
   
Usai misa, Ketua Panitia Paskah Padang Bersama Wilayah St Stefanus, Elven Rajalewa menjelaskan bahwa kegiatan Paskah Padang Bersama ini merupakan salah satu sarana membangun komunio, kebersamaan umat di wilayah St Stefanus. 
   
Ibu-Ibu Wilayah St Stefanus sedang mengikut lomba bakiak.
“Umat wilayah St Stefanus dari Komunitas Umat Basis (KUB): KUB A, KUB B dan KUB C memiliki sebuah kerinduan untuk memuji dan memuliakan Tuhan Yesus dan diwujudkan dengan merayakan misa Paskah Padang Bersama. Misa  ini memang tidak lazim dilaksanakan di lingkungan gereja Katolik dan kami ingin menghadirkan suasana baru. Tujuan  digelarnya acara ini sebagai bentuk perayaan peringatan Paskah dan lebih meningkatkan keakraban  seluruh umat di wilayah St Stefanus,”jelas Elven.
   
Anak-anak balita mencari telor.
Elven juga menambahkan tema acara ini terinspirasi oleh kotbah-kotbah Romo Yosef Tote  dan selaras  dengan visi Keuskupan Bogor yaitu Communio.  

Communio (Komunio) merupakan suatu persekutuan, paguyuban, dan persaudaraan yang memelihara hubungan kesatuan dengan Allah, melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus, memelihara hubungan kesatuan dengan Gereja Universal, Gereja Partikular, dan antar umat sendiri serta memelihara hubungan kesatuan dengan orang-orang lain, dengan kebudayaan dan agama-agama lain.

Kerjasama dan Kekompakan


Lomba Bakiak Bapak-Bapak. Tujuan permainan ini adalah membangun kerjasama dan menjaga kekompakan.

Games-games (permainan-Red) yang dikemas seksi acara pun selaras dengan tema acara tersebut. Koordinator Seksi Acara, Veronica Lucy pada kesempatan tersebut menjelaskan maksud dan tujuan dari permainan yang dilombakan bagi anak-anak dan dewasa adalah membangun kerjasama dan kekompakan serta melatih ketangkasan, kesabaran, dan kecermatan.
   
Untuk anak-anak balita digelar lomba mencari telur Paskah balita. Ada juga lomba memindahkan bola untuk anak-anak batita. Lomba lainnya bagi anak-anak yang tak kalah menariknya adalah lomba rebutan kursi untuk anak-anak, lomba menghias telur Paskah kategori kelas 1-3 SD, lomba memindahkan karet dengan sedotan beregu 3 orang.
   
Untuk orang dewasa, tambah Lucy, ada lomba bakiak bapak-bapak dan bakiak untuk ibu-ibu serta lomba menyambung sedotan untuk bapak-bapak dan ibu-ibu, beregu 3 orang.
Anak-anak dari Bina Iman Anak (BIA) sedang mengikuti lomba menghias telur Paskah.
Sejumlah hadiah dipersiapkan Lucy bersama teamnya. Seluruh umat yang hadir pada acara tersebut merasa puas dan bahagia dengan permainan-permainan tersebut.
   
Ketua Wilayah St Stefanus, Thomas Tommy Hendrasmoro mengaku bangga dengan umat wilayah St Stefanus. “Saya bangga dengan umat di wilayah ini mereka kompak, bersatu, dan hebat-hebat,”ujarnya.
   
Ke depannya Tommy mengatakan akan menggelar kegiatan-kegiatan serupa yang intinya membangun sebuah komunio yang kompak, dan mau melayani serta memuliahkan nama Tuhan Yesus Kristus. [Farida Denura]