Translate

Rabu, 22 Juli 2015

Paus Fransiskus Ucapkan Selamat Idul Fitri Kepada Umat Muslim Sedunia

Paus Fransiskus mengucapkan Selamat Idul Fitri kepada umat Muslim sedunia.Paus tampak menyalami Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan  Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. DR. M. Din Syamsuddin, MA.[Foto: Ist]
 
Pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus mengucapkan selamat Idul Fitri kepada umat Muslim di seluruh dunia. Salam ini disampaikan melalui Presiden Dewan Kepausan Dialog Antaragama Jean-Louis Kardinal Tauran, dari Vatikan, Rabu (15/7/2015).

Berikut teks selengkapnya:
UCAPAN SELAMAT  Idul Fitri 1436 H

Saudara-saudari Muslim yang terkasih,
Dengan senang hati, atas nama seluruh umat Katolik sedunia dan atas nama saya pribadi, saya mengucapkan selamat merayakan pesta Idul Fitri yang penuh kedamaian dan kebahagiaan. Dalam bulan Ramadhan, saudara sekalian sudah melaksanakan banyak kegiatan menyangkut agama dan sosial seperti puasa, doa, sedekah, bantuan kepada kaum miskin, kunjungan kepada sanak saudara dan sahabat. Saya berharap dan berdoa agar buah amal bakti ini dapat memperkaya kehidupan saudara sekalian!

Bagi beberapa di antara saudara, demikian juga beberapa dari anggota komunitas agama lain, kegembiraan pesta ini dinaungi oleh ingatan sedih akan para kekasih yang telah kehilangan hidup atau harta-miliknya, atau menderita secara fisik, mental dan spiritual, disebabkan oleh kekerasan yang menimpa mereka. Beberapa komunitas etnik dan agama di sejumlah negara pun mengalami penderitaan yang amat besar dan tidak adil: pembunuhan anggota mereka, perusakan warisan kebudayaan dan keagamaan, pengusiran paksa dari rumah dan kota mereka, pelecehan dan pemerkosaan perempuan, perbudakan, perdagangan manusia, jual-beli organ tubuh dan bahkan penjualan mayat!

Kita semua sadar akan beratnya kejahatan-kejahatan ini. Tetapi, yang membuatnya lebih menjijikkan lagi adalah usaha untuk membenarkannya atas nama agama. Sungguh jelas bahwa ini merupakan suatu penyalahgunaan agama untuk memperoleh kekuasaan dan kekayaan.

Tak disangkal bahwa mereka yang diserahkan tanggung-jawab untuk menjaga keamanan dan ketenteraman umum, juga berkewajiban untuk melindungi orang dan harta-miliknya dari kekerasan buta para teroris. Namun, ada juga tanggung-jawab mereka yang bertugas untuk mendidik: keluarga, sekolah, buku pegangan sekolah, pemuka agama, wadah diskusi agama, media. Kekerasan dan terorisme lahir lebih dahulu di dalam pikiran orang yang menyimpang, kemudian dilaksanakan di lapangan.

Mereka yang terlibat dalam pendidikan orang muda dan dalam beragam kancah pendidikan, seharusnya mengajar tentang kesakralan hidup dan keterkaitannya dengan martabat setiap pribadi, terlepas dari suku, agama, budaya, jenjang sosial, atau pilihan politiknya. Tidak ada orang yang hidupnya lebih berharga dari hidup orang lain hanya karena suku atau agamanya. Karena itu, tidak seorang pun boleh membunuh. Dan tidak seorang pun boleh membunuh atas nama Allah. Bahkan, itu merupakan kejahatan dua kali lipat: karena melawan Allah dan melawan manusia.

Tidak bisa ada sikap mendua dalam pendidikan. Masa depan seseorang, atau suatu komunitas, bahkan seluruh umat manusia tidak boleh didirikan di atas ambiguitas itu atau di atas kebenaran yang semu. Baik umat Kristiani maupun umat Islam, sesuai dengan tradisi masing-masing, memandang Allah dan berhubungan dengan Dia sebagai wujud Kebenaran. Kehidupan kita dan tingkah laku kita harus mencerminkan keyakinan ini.

Menurut Santo Yohanes Paulus II, kita, umat Kristiani dan umat Islam, mempunyai “privilese doa” (Pidato kepada Alim Ulama Muslim, Kaduna, Nigeria, 14 Februari 1982). Doa kita sangat dibutuhkan: untuk keadilan, perdamaian, dan ketenteraman di dunia; bagi mereka yang telah menyimpang dari jalan kehidupan yang benar dan melakukan kekerasan atas nama agama, supaya berpaling kepada Allah dan memperbaiki hidupnya; bagi orang miskin dan sakit.

Perayaan-perayaan kita, antara lain, memupuk harapan kita untuk masa kini dan masa depan. Kita memandang masa depan umat manusia dengan penuh harapan, terutama ketika kita berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan impian kita yang benar agar menjadi nyata.

Bersama dengan Paus Fransiskus, kami berharap agar buah-buah bulan puasa Ramadhan dan kegembiraan Idul Fitri menganugerahkan kepada saudara sekalian kedamaian dan kesejahteraan, sambil meningkatkan perkembangan saudara sebagai manusia dan sebagai orang beriman.

Selamat Hari Raya kepada saudara sekalian!

Vatikan

Jean-Louis Kardinal Tauran
Presiden Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama

Teks  ini diterima UCAN Indonesia dari  Pater Markus Solo Kewuta SVD, Sekretaris Desk Dialog Kristen-Muslim di Asia Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Vatikan.

Sumber: http://indonesia.ucanews.com/2015/07/16/paus-fransiskus-menyampaikan-selamat-idul-fitri-kepada-umat-muslim-sedunia/

Kamis, 09 Juli 2015

Warga Muslim Berbuka Puasa Bersama Pemeluk Agama Lain di Gereja Katolik

Suasana berbuka puasa bersama Pengurus Gereja Santo Antonius di Banjarnegara, Jawa Tengah, di dalam gereja. [Foto-Foto: tribun-timur.com/NET TV & BBC]
TRIBUN-TIMUR.COM - Nah, buka puasa ini lain daripada yang lain.

Dikutip dari video NET TV, pengurus Gereja Santo Antonius di Banjarnegara, Jawa Tengah, menyelenggarakan buka puasa dengan mengundang warga Muslim dan non-Muslim di sekitar gereja.

Buka puasa pada Ramadan tahun ini merupakan kali ketujuh digelar dan akan digelar lagi Ramadan tahun depan.

“Sudah tahun ketujuh dan harapannya terjalin komunikasi, tali silaturahmi, dan persaudaraan semakin erat,” kata pengurus Gereja Santo Antonius, Vincentius Suranto.

Sementara, tokoh agama yang hadir, Khayatul Makki mengatakan, buka puasa bermaksud mengimplementasikan semangat toleransi antarumat beragama.

“Perbedaan ras, golongan ini harus dihilangkan, dihapus. Bagaimanakah menjalin kebersamaan antarumat beragama, bagaimana menjalin hubungan antargolongan, bagaimana menjalin antarras,” katanya.

Undang Non-Muslim
Selama bulan puasa dalam tiga tahun terakhir ini, para mahasiswa di London rajin mengadakan acara buka puasa bersama dengan mengundang warga Muslim dan non-Muslim.

Acara ini antara lain ditujukan untuk "mengangkat kesadaran tentang Islam," kata Heidi Green, salah seorang penyelenggara.

Melalui Tenda Ramadan, Greg, mahasiswa Prancis mengatakan dapat mengetahui arti Ramadan yang sebenarnya.
Dinamakan Tenda Ramadan, penyelenggara mengundang umat Muslim, tunawisma, dan masyarakat dari berbagai keyakinan dan latar belakang agar dialog antar agama dapat ditingkatkan, tambah Heidi.

"Dari survei tahun lalu, diperkirakan setengah dari peserta yang mengikuti adalah non-Muslim," kata Hedi.

"Bukti menunjukkan bahwa acara ini membawa kebersamaan dengan cara unik," tambah Heidi.

Heidi Green sendiri mengatakan sebagai non-Muslim, ia mulai terlibat sebagai sukarelawan dalam program yang digagas mahasiswa SOAS, University of London, sejak tiga tahun lalu.

Selain di London, Tenda Ramadan juga diselenggarakan di Manchester dan Plymouth.

Belajar Pesan Ramadan
"Saat pertama kali saya mengetahui adanya Tenda Ramadan, saya jadi belajar tentang Ramadan, saya kagum dengan berbagai upaya dalam satu bulan untuk membantu (sesama) dan beribadah."

Para sukarelawan yang juga termasuk non-Muslim menyiapkan makanan untuk berbuka.
Sementara itu, Kim, warga Inggris lain yang ikut datang dalam acara buka bersama di Tenda Ramadan mengatakan melalui blog di situs Tenda Ramadan, "Apa yang paling saya suka adalah tidak ada kewajiban untuk ikut beribadah dan langkah saling menghargai antar keyakinan yang berbeda."
Setengah dari peserta tahun lalu adalah non-Muslim kata Heidi Green
"Mengundang tunawisma, menurut saya juga menunjukkan prinsip fundamental setiap agama di dunia, untuk membantu mereka yang kurang beruntung," tambahnya.

Greg, warga Prancis yang tengah belajar di London mengatakan melalui acara ini ia dapat mengetahui "pesan yang sebenarnya dari Ramadan, yaitu saling membantu di antara komunitas."(net tv/bbc)

Sumber: www.tribun-timur.com