Translate

Kamis, 20 Maret 2014

Laksamana Muda TNI (Purn), Christina Maria Rantetana, SKM, MPH: Perempuan Serba Pertama

Laksamana Muda TNI (Purn), Christina Maria Rantetana, SKM, MPH [Foto: Dok. Pribadi & Ist] 
JALAN HIDUP seseorang memang sudah ada rancangan masing-masing. Dan jalan hidup Laksamana Muda TNI (Purn), Christina Maria Rantetana, SKM, MPH sudah dirancang Tuhan untuk selalu menjadi pionir dalam berbagai hal. Itu diakui perempuan kelahiran Makale, Tana Toraja, 24 Juli 1955 dalam perbincangan dengan SH, Kamis (6/3/2014) di Jakarta dan beberapa kesempatan sebelumnya. 
 
Christina adalah perempuan pertama di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL) yang mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) di luar negeri, yakni di Royal Australian Naval Staff Course di Sydney, Australia. 

Anggota Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) pertama yang ditugaskan menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI. Perempuan pertama yang menjabat Direktur Sekolah Kesehatan di Angkatan Laut. Anggota Kowal pertama yang mengikuti pendidikan strata dua di Tulane University New Orleans, Amerika Serikat. Anggota Kowal pertama yang menjadi staf ahli Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Bidang Ideologi dan Konstitusi. Dan, Jenderal bintang dua perempuan pertama di Angkatan Laut serta se-Asean.

Perempuan yang biasa disapa Marike ini juga masuk dalam jajaran ‘Seratus Wanita Indonesia Terinspiratif 2008’ versi Majalah Kartini. Bahkan, ia menjadi salah satu dari 21 tokoh favorit pilihan dewan juri. Selain itu, ia pun termasuk dalam deretan ‘Sepuluh Bukan Perempuan Biasa’ pilihan Majalah Tempo. Ia juga salah satu perempuan dari “21 Tokoh Kristiani 2013” pilihan Majalah Narwastu.

“Saya yakini bahwa jalan hidup seseorang itu memang sudah ada rancangan masing-masing. Dan saya juga sudah tahu bahwa jalan hidup saya itu memang rancangannya seperti itu. Saya selalu menjadi pionir dalam berbagai hal dan ini merupakan kerja keras dan melakukan yang terbaik secara maksimal sesuai dengan kemampuan saya selama ini,”terang Ketua Umum Persatuan Perempuan Toraja.

Christina ketika masih aktif di AL
Ditanya motivasi utama ibu lima anak ini sehingga sukses dalam berkarier, Christina mengatakan bahwa motivasinya adalah memuliahkan Tuhan sehingga setiap kali Christina naik satu tangga dalam karier maka ia selalu mengucap syukur kepada Tuhan dan melakukan kerja yang lebih baik lagi. “Setiap kali saya naik tangga, saya berkomitmen kepada Tuhan untuk berhikmat, bekerja lebih baik secara bertanggungjawab dan bertujuan untuk memuliahkan Tuhan,”ujar ibu dari Belo P. Birana, Mada P. Birana, Lambe P Birana, Rinding P. Birana dan Irianto P. Birana.

Motto hidup Christina sendiri adalah to do my best—lakukan yang terbaik, secara maksimal dan sesuai dengan kemampuannya. Dia mengaku tidak pernah mau kerja tanggung-tanggung—total footbal. Prinsip itulah yang dipegang kuat untuk memberi warna dan memberi kontribusi pada negara ini. 
 
Christina selalu bekerja keras dan terus bekerja cerdas. Menjadi seorang ibu, sekaligus seorang Laksamana dengan tugas menumpuk tentu tidaklah mudah.
Ditanya soal dominasi laki-laki yang begitu kuat di dalam kepemimpinan, menurut Christina itu sangat menarik dan sebagai perempuan kita menjadi bersyukur karena semua pekerjaan itu bisa dilakukan kaum perempuan. Perempuan mengandung, melahirkan, merawat dan meneruskan keturunan.

Makanya sambung dia, orang biasa bilang kalau mendidik perempuan itu sama dengan mendidik satu generasi dibanding mendidik laki-laki. Semua pekerjaan bisa dikerjakan perempuan dan belum tentu bisa dikerjakan laki-laki.

“Dari sisi kesehatan masyarakat sebenarnya daya tahan perempuan itu jauh lebih tinggi daripada laki-laki. Itu terlihat dari statistik kesehatan masyarakat dimana angka kematian perempuan jauh lebih rendah daripada laki-laki, perempuan lebih tahan dari penyakit, angka sakit lebih tinggi dibanding laki-laki. Lebih banyak janda daripada dua, serta lebih banyak perempuan lajang daripada laki-laki,”ungkap istri dari Ir Cosmas S Birana, MS.

Menyadari potensi besar yang dimiliki kaum perempuan itu maka Christina pun mempergunakannya dengan masuk ke dalam kehidupan politik dimana di dalam kehidupan politik itu sendiri diakuinya time consuming, tenaga consuming, dan bahkan menghabiskan uang. Perempuan ini pernah terpilih menjadi anggota DPR-MPR RI untuk fraksi TNI Polri selama dua periode berturut-turut. Periode pertama tahun 1997-1999 dan periode kedua 1999-2004. Pada periode kedua, Christina dipercaya menjabat Sekretaris Fraksi TNI-Polri. Usai berkarya di DPR-MPR RI, Christina ditugaskan sebagai Staf Ahli Menkopolhukam bidang ideologi dan konstitusi.

Menurut Chrisitina, perempuan sukses itu adalah perempuan luar biasa. Dia bisa mengurus rumah tangga, suami dan juga karier. Itu juga menjadi modal bagi dirinya karena memang dari kecil keluarganya telah mengajarkan untuk bekerja dan terbiasa hidup disiplin.

Disiplin yang ditanamkan keluarga sejak dini, ditambahkan di lingkungan Angkatan Laut juga ditanamkan disiplin, hirarki, dan kehormatan militer dimana semuanya mengandung etika, moral, dan kerja keras, itu menurut Christina menjadi modalnya di dalam sukses berkarier.

“Kalau kita disiplin, semua waktu teralokasi dengan baik. Saya sangat menghargai waktu. Bagi saya kita harus well organized. Kalau kita mau ubah dunia maka kita harus mengubah diri kita sendiri. Itu prinsip saya,”aku Ketua I Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia ini secara terus terang.

Perempuan yang telah mendapatkan sejumlah tanda jasa maupun penghargaan di antaranya SL Kesetiaan XXXII, SL Gom IX/Raksasa Dharma , serta Anugerah Citra Kartini, dan Maritime Woman Award ini berbagi pengalaman heroiknya yang pernah dialami. Ketika tahun 1980, pertama kali berlayar ke Kepulauan Natuna dengan KRI Patimura bersama 5 perempuan lainnya dan 60 laki-laki dari AL, Christina mengaku bahwa itu merupakan tugas yang berat dalam berlayar dari satu pulau ke pulau lain. Angin laut yang luar biasa di tengah ombak laut China yang ganas. 
 
Christina di SH
Dalam perjalanan itu, yang mengesankan bagi dirinya adalah ketika mereka tiba di sebuah pulau yang masyarakatnya sudah kehabisan beras. “Untung ada banyak persediaan beras di kapal. Kami akhirnya membawakan beras tersebut dan kami bagikan ke masyarakat. Itulah yang saya lihat bahwa betapa perjuangan yang harus ditempuh untuk menjumpai saudara kita di daerah terpencil. Bagi saya, itu sangat mengesankan,”kata alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Bagi anggota Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS), hambatan terbesar di dalam mengemban karier adalah perspektif orang yang mengambil keputusan. Karena pada umumnya pengambil keputusan itu adalah laki-laki sehingga apapun keputusan mereka akan sangat dipengaruhi oleh perspektif mereka tentang gender. Makanya, Christina setuju yang diperjuangkan kaum perempuan adalah bukan soal emansipasi akan tetapi kesetaraan dan keadilan gender.
 
Satu lagi hal yang mempengaruhi karier seseorang adalah karakter. Karakter menurut dia sangat penting karena jika tidak memiliki karakter maka seseorang akan diombang-ambingkan orang lain. Dan, itu menjadi prinsip hidup Christina.

“Karakter itu penting. Saya pernah baca di kalender abadi saya, ada anonim menulis bahwa “Profesional membawa orang pada satu kedudukan puncak, akan tetapi karakter membuat dia awet di situ”. Jadi, yang memelihara keberadaan kita adalah karakter.

Selain karakter faktor penting lainnya dalam mempengaruhi sukses tidaknya karier seseroang adalah latar belakang pendidikan, dan kultur, wawasan seseorang, hubungan antar manusia. Dia mencontohkan bahwa banyak orang pinta tidak sukses karena arogan, sombong. 
 
Faktor sukses lainnya yang sangat penting adalah dukungan keluarga. “Suami saya tidak membatasi, tidak pernah risau dengan saya karena kami saling percaya. Demikian juga anak-anak saya,”kata perempuan yang memiliki hobi membaca.

Diminta komentarnya tentang peran perempuan sekarang, Calon Anggota Legislatif DPR RI 2014-2019 dari Dapil Jabar VI yang meliputi kota Bekasi dan Kota Depok dengan urutan nomor 5 ini mengatakan perempuan sekarang ini kiprahnya luar biasa, cuma belum berarti karena jumlahnya sedikit dibanding statistik perempuan itu sendiri yang berkisar sekitar 50%. Perempuan yang menduduki jabatan strategis pun sangat kecil. Menurut dia, masih jauh dari harapan.

Kuota Perempuan Penting
Christina Rantetana (duduk-blouse merah)
Menurut Christina jumlah atau kuota perempuan itu penting. Jika prosentase minimum 30% itu terpenuhi maka perempuan itu luar biasa. Christina sadar seperti halnya di AL, dia pernah mengalami hambatan naik pangkat lantaran karena seorang perempuan dan bukan dari Akademi Angkatan Laut yang memang waktu itu hanya menerima laki-laki.

Sadar akan hal tersebut, dia pun berjuang agar dibukanya peluang perempuan masuk AAL menjadi taruni sehingga bisa menduduki jabatan Panglima Tinggi. Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil dan tahun 2013 AAL menerima perempuan untuk masuk AAL. Bukan hanya itu, Christina pun minta agar jumlah yang diterima minimal 10 taruni. Christina bangga dengan perjuangan itu dan ketika bertemu dengan para taruni itu dia berujar,”Saya bintang dua maka minimal kalian harus bintang 3 karena kalian taruni. Kerja baik-baik, di AL semua sudah diatur dan kamu kerjakan dengan baik maka kamu berhasil,”ucapnya.

Perempuan yang mengidolakan Margaret Thatcher, wanita besi yang dulu membangun Inggris Raya itu merupakan sosok yang pintar, berani, dan baik penampilan. Selain itu dia juga mengidolakan Hillary Rodham Clinton lantaran pintar dan cantik.

Selain itu Christina juga mengagumi Laksamana Malahayati. Dia adalah seorang panglima perang angkatan laut dari Aceh yang hidup sekitar abad ke-15. “Saya baca sejarah perjuangannya. Dia memimpin 3.000 prajurit dan membentuk Inong Bale serta membangun benteng Inong Bale. Saya pertama kali ke Aceh, saya cari makamnya,”ceritanya.

Selain Malahayati, Christina juga mengagumi Martha Christina Tiahahu adalah Pahlawan Nasional perempuan pertama yang gugur di medan perang saat bertempur melawan Belanda demi mempertahankan tanah Maluku yang kaya akan hasil bumi. Ketika ke Ambon dia langsung mencari makamnya.

Di akhir perbincangannya, Christina rupanya punya harapan pada kaum perempuan. Dia ingin kaum perempuan harus mengambil peran yang sama dengan laki-laki di dalam membangun bangsa. Saya yakin kaum perempuan mampu dan akan muncul perempuan-perempuan muda yang memiliki sumbangan bagi negeri ini.(Farida Denura)


Biodata
Nama : Christina M. Rantetana
Tempat : Makale. Sulawesi Selatan
Tanggal Lahir : 24 Juli 1955
Pangkat : Laksamana Pertama TNI
Jabatan : Staf Ahli Menko Polhukam Bidang Ideologi dan Konstitusi
Suami : Ir. Cosmas S. Birana, MS

Anak-anak :
* Belo P. Birana
* Mada P. Birana
* Lambe P. Birana
* Rinding P. Birana
* Irianto P. Birana

Pendidikan:
* Akademi Perawatan Umum Ujung Pandang
* Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
* Tulane University, New Orleans, Lousiana, Amerika Serikat

Organisasi:
  • Anggota Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI)
  • Ketua Umum Persatuan Perempuan Toraja
  • Ketua I Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia
  • Anggota Ikatan Wanita Sulawesi Selatan (IWSS)
  • Anggota Komisi Kerawam KWI
Lain-lain:
Ketua Panitia Pembangunan Gereja (PPG) Santo Albertus Bekasi, Harapan Indah, Bekasi


Note: Tulisan ini dengan angle yang berbeda juga dimuat di halaman 1 harian sore Sinar Harapan dalam rangka Women International Day, edisi Sabtu-Minggu, 08-09 Maret 2014. Juga dimuat di majalah Info Gender, KWI yang akan terbit Kamis 20 Maret 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar