Translate

Jumat, 22 November 2013

Renungan Harian (Jumat 22 November 2013)

Yesus Mengusir Pedagang di Bait Allah
Pekan Biasa XXXIII
Pw Sta. Sesilia, Prw. Mrt. (M)
St. Filemon, rekan kerja St. Paulus
Bacaan I    : 1 Mak. 4:36–37.52-59
Mazmur    : 1Taw. 29:10–11abc,11d–12a; R:13b
Bacaan Injil: Luk. 19:45–48
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulai­lah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: ”Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

Renungan
Bait Allah adalah tempat yang suci di mana banyak orang datang untuk mempersembahkan kurban kepada Allah dan untuk mendengarkan ajaran-ajaran Tuhan sebagaimana tertulis dalam Hukum Taurat. Ironisnya adalah justru bait Allah menjadi sarang penyamun dimana orang justru berdagang dengan harga yang sangat tinggi demi keuntungan pribadi. Lebih gila lagi adalah, bait Allah justru menjadi tempat bagi musuh-musuh Yesus untuk merancang rencana jahat membunuh-Nya.

Mari kita berefleksi tentang kemunafikan. Penyakit rohani yang paling kronis adalah kemunafikan. Kelihatan dari luar indah dan bagus, namun sebetulnya kita memiliki begitu banyak borok yang kita sembunyikan. Yesus dengan tegas selalu mengkritik orang Farisi dan Ahli Taurat tentang kemunafikan. Ada istilah lain, misalnya kosmetika rohani. Kegiatan-kegiatan rohani kadangkala hanya sebagai topeng untuk menyembunyikan hal-hal buruk yang kita lakukan di luar sana. Bisa juga ini disebut sebagai paham ateisme praktis. Di dalam gedung ibadah kita berkata ”I love You, Lord!” dan memuji-muji Tuhan, namun dalam kehidupan praktis sehari-hari kita sama sekali tidak mengingat Tuhan apalagi menjalankan perintah-perintah-Nya.

Di sinilah titik penting perjuangan iman kita. Kita ditantang untuk melaksanakan nasihat ini: Hendaknya apa yang kauimani, kauajarkan, dan apa yang kauajarkan kaulaksanakan!

Doa: Tuhan, ampunilah aku bila aku sering kali menjadi manusia yang munafik, tidak sungguh-sungguh mencintai Engkau. Amin.

Sumber:www.obormedia.com/.../renungan-ziarah-batin-2013

Renungan Harian (Kamis 21 November 2013)

Yesus menangis di kota Yerusalem
Pekan Biasa XXXIII
Pw Maria Dipersembahkan kepada Allah (P)
St. Nikolo Giustiniani
Bacaan I    : 1Mak. 2:15–29
Mazmur    : 50:1–2.5–6.14–15; R:23b
Bacaan Injil    : Luk. 19:41–44


Ketika Yesus telah dekat [Yerusalem] dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: ”Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

Renungan
Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang menangisi kota Yerusalem. Kota Yerusalem bagi banyak orang adalah kota kemenangan, simbol kekuasaan. Namun, Yesus melihat Yerusalem secara berbeda. Para murid-Nya ketika memasuki kota Yerusalem mungkin barharap bahwa Yesus sebentar lagi mengalahkan semua musuh-Nya dan bertakhta sebagai raja. Akan tetapi, Yesus melihat kota Yerusalem itu sebagai tempat di mana Dia akan memasuki penderitaan-Nya yang sangat ngeri lalu akhirnya dibunuh.

Yesus tetap mantap memasuki Yerusalem walaupun ada kegetiran dalam hati-Nya. Ia tetap masuk ke sana karena ketaatan kepada misi Bapa-Nya. Ia rela mati demi menyelamatkan seluruh umat manusia.

Setiap kita memiliki misi dalam hidup. Kadangkala misi itu tidak selamanya misi yang indah dan membahagiakan. Kerap kali justru kita harus menjalankan suatu tugas yang berat, tidak enak dan menyakitkan. Dan banyak dari kita kadangkala memilih tugas kalau bisa yang enak-enak saja. Belum lama ini beberapa orang pergi bersama-sama untuk menjadi tenaga sukarelawan di beberapa panti yang menampung orang-orang miskin, cacat dan terbuang.

Banyak dari mereka yang memilih pergi ke tempat anak-anak bayi karena tempatnya bersih dan ringan tugas di sana. Sebagian menolak datang ke tempat orang cacat ganda untuk bertugas memandikan orang cacat itu.

Mari kita belajar untuk berani menjalankan tugas apa pun yang diserahkan kepada kita walau kadang tugas tersebut adalah tugas yang tidak kita inginkan dan tidak membahagiakan kita.

Doa: Tuhan, semoga aku memiliki kualitas hidup yang sudah diajarkan oleh Putra-Mu, Yesus, yaitu berani taat sampai akhir menjalankan misi hidupku di dunia. Amin.

Sumber: www.obormedia.com/.../renungan-ziarah-batin-2013