Translate

Tampilkan postingan dengan label Kegiatan Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan Ibadah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2015

Paskah Bersama KUB A Wilayah St. Stefanus: Mengenal Allah Melalui Aksi Berbagi Kasih di Panti Asuhan Yayasan ABAS




MENGENAL ALLAH--Rektor Seminari Menengah Stella Maris Bogor, Romo Yohanes Suparto, Pr dalam homili misa Paskah Bersama, Jumat (1/5/2015) menekankan hidup adalah soal menambahkan berkat Tuhan, kegembiraan, 
 suka cita. Dengan cara itulah tambah dia kita mengenal Allah. [Foto-Foto: Aris Suprihyanto]

Life is not just about to get but is life about to add”(Hidup itu tidak soal untuk mendapatkan, melainkan hidup itu adalah soal menambahkan) Rektor Seminari Menengah Stella Maris Bogor, Romo Yohanes Suparto, Pr dalam homilinya ketika memimpin misa Paskah Bersama Komunitas Umat Basis A, Wilayah St. Stefanus, Paroki St. Paulus Depok yang berlangsung di aula Panti Asuhan Yayasan Awam Bina Amal Sejati (ABAS), Parung, Bogor, Jumat (1/5/2015) pagi mengisahkan Rasul Thomas yang tidak percaya pada Tuhan. 
 
Rasul Thomas, kata Romo Suparto, adalah orang yang tidak percaya kalau Yesus bangkit, Yesus hidup, Yesus hadir. Thomas percaya, jika dia melihat sendiri dengan mencucurkan tangannya ke luka Yesus.

Melalui Thomas, kata Romo Suparto, inilah kehidupan kita. Inilah manusia yang sulit percaya pada realita. “Kita itu seperti Rasul Thomas, kita tidak percaya. Melalui Thomas, Allah mau menunjukan bahwa Allah itu adalah Allah yang maha baik, Allah yang menyadari kelemahan manusia, membiarkan dirinya untuk dikenal manusia,”ungkap Romo Suparto yang juga alumnus Panti ABAS.

Misa hari ini melalui Thomas, kita diajarkan untuk bersikap rendah hati, membuka diri, dan bertanya pada Tuhan. Keterbukaan dan pertemuan dengan Tuhan ini kata Romo Suparto, akan menjadi cara kita memperkenalkan diri dan Tuhan memperkenalkan. Itu adalah cara-cara kita mengenal Tuhan melalui alam semesta.

Tema perayaan Paskah Bersama “Diberkati untuk Memberkati” (1 Petrus 3:9) menurut Romo Suparto merupakan cara kita mengenal Tuhan dengan mengenal orang lain. Ketika kita sungguh memanusiakan, mengorangkan orang lain, maka kita menemukan Allah.
Melalui kerendahan hati sambung Romo Suparto, kita mau bertanya pada orang lain maka kita mengenal Allah.

“Life is not just about to get but is life about to add”(Hidup itu tidak soal untuk mendapatkan melainkan hidup itu adalah soal menambahkan),”tegas Romo Suparto.

Anak-anak Panti mempersembahkan koor misa.
Dikatakan dia, kita telah mendapat berkat dari Tuhan. Hidup adalah soal menambahkan berkat Tuhan, kegembiraan, suka cita. Dengan cara itulah tambah dia kita mengenal Allah. Romo Suparto juga dalam kesempatan itu mengajak umat KUB A selain berkunjung ke panti juga mengagendakan kunjungan ke Seminari Stella Maris, Bogor yang dipimpinnya.

Homili yang disampaikan Romo Suparto tersebut selaras dengan maksud terselenggaranya kegiatan ini. Umat KUB A Wilayah St Stefanus melalui Seksi Sosial KUB A yang dikoordinir Bernard Sinaga seperti disampaikan dalam laporan kegiatan oleh salah satu Panitia Paskah Bersama, Nova Yasinta Taroreh ditegaskan bahwa KUB A melalui Seksi Sosial memiliki suatu kerinduan untuk berbagi kasih dengan semua penghuni Panti Asuhan Yayasan Awam Bina Amal Sejati (ABAS), Parung melalui kegiatan Paskah Bersama dan Berbagi Kasih dengan warga Panti Asuhan Yayasan ABAS yang berlokasi di Jl. Melati no.15 Desa Tonjong, Bogor.

Pengorbanan yang dilakukan Allah sendiri menurut Nova adalah dengan menyerahkan Anak-Nya yang tunggal itu menjadi spirit bagi warga KUB A dalam kegiatan ini.

Selain itu tambah Nova, umat KUB A ini juga ingin mengajarkan kepada putera-puterinya tentang hal berbagi kasih kepada sesama yang berkekurangan sehingga anak-anak kelak menjadi anak-anak yang berbelas kasih dan peka serta peduli terhadap sesama yang berkekurangan.

Lebih lanjut Nova menjelaskan alasan panitia memilih Panti Abas sebagai panti kunjungan umat KUB A. Pertama, Panti Asuhan ini berada di wilayah Keuskupan Bogor, yang juga merupakan wilayah Keuskupan Paroki St. Paulus Depok. Kedua, penghuni panti ini juga beragam mulai bayi hingga lansia sehingga aksi berbagi kasih ini dapat dimanfaatkan untuk berbagi kasih kepada sesama manusia mulai dari bayi hingga lansia. Ketiga, jarak yang dekat dengan Depok sehingga mudah dan cepat dijangkau.
Selain itu di panti tersebut penghuni pantinya beragam dan dihuni sekitar 63 orang ini mulai dari balita, anak-anak (mulai dari PG-SMK) dan lansia (Oma-Oma). Di luar juga terdapat karyawan panti sebanyak 46 orang.

Nova berharap melalui aksi berbagi kasih umat KUB A ini diharapkan dapat membangkitkan semangat berbelas kasih, semangat berbagi yang senantiasa membara dalam diri masing-masing umat KUB A serta mengajarkan kepada anak-anak dari keluarga-keluarga yang berhimpun sebagai umat KUB A Wilayah St Stefanus tentang makna memberi atau berbagi kasih kepada sesama yang berkurang beruntung. Selain itu, sebagai ajang silahturami yang baik kepada antara sesama umat beriman.

Sumbangan Perusahaan
Nova Yasinta Taroreh membacakan laporan.
Nova menjelaskan, panitia juga menggandeng beberapa perusahaan swasta untuk bersama-sama bergandengan tangan berbagi kasih kepada panti. “Respon beberapa perusahaan sangat antusias dan menyambut baik gagasan kami, melalui kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) mereka. Perusahaan-perusahaan itu adalah PT Sari Husada, PT Frisian Flag Indonesia, PT GarudaFood, PT Softex Indonesia, PT Simba Indosnack Makmur, dan Christour sebagai sponsor terbesar dalam acara kami,”jelas Nova.

Adapun sumbangan dari perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT Sari Husada menyumbang 30 karton Susu SGM (Susu Pertumbuhan), PT Frisian Flag Indonesia menyumbang 40 karton Susu Cair, PT GarudaFood menyumbang 10 karton produk minuman Okky Jelly Drink, serta PT Simba Indosnack Makmur menyumbang 10 karton Simba Tuffis dan 10 karton Bubur Risotto dan PT Softex Indonesia berupa 2 karton besar pembalut wanita, Softex. Sedangkan Ibu Cathy Christopher, yang juga pemilik Cristour secara pribadi turut menyumbang dana yang jumlahnya cukup besar dan telah dibelikan produk-produk kebutuhan panti.

Selain itu secara internal panitia juga menggalang dana dari warga-warga KUB dan puji Tuhan terhimpun dana yang cukup besar. Selain dana, warga KUB A juga seperti berlomba menyumbang aneka ragam natura mulai sembako, obat-obatan, sabun, pakaian layak pakai dan lain-lain dalam jumlah cukup besar.

Sumbangan-sumbangan kemudian diisi dalam beberapa kardus yang berisi: gula pasir, cerelac bubur bayi, sirup kacang hijau, 6 dus susu Produgen, teh Sariwangi, sikat gigi formula, sikat gigi Pepsoden untuk anak, rinso, pampers dewasa, tisue basah, tisu kering, minya kayu putih, minyak telon, sabun mandi, obat-obatan, vitamin dan Diapet, minyak goreng, bihun, kacang ijo, kecap ABC, pembersih lantai, pembersih cuci piring, indomie rebus, sampho bayi.


Tiga Frater dari Transitus, turut ambil bagian menghibur anak-anak panti dan anak-anak KUB A melalui games-games menarik. Tampak Frater Alexander Wahyu tampil memandu acara.
Koordinator Seksi Acara, Veronica Lucy menjelaskan jenis kegiatan yang disiapkan seksinya berupa hiburan penampilan angklung anak dan penampilan solo anak-anak untuk menghibur para penghuni Panti Asuhan serta games-games yang melibatkan anak KUB A Wilayah St. Stefanus dan anak panti.
 
“Ada games kata berbisik yang dilombakan untuk ibu-ibu dan bapak-bapak dan anak-anak panti. Ini dilakukan untuk diambil kesimpulan betapa komunikasi satu arah bisa menimbulkan salah presepsi dan apa yang disampaikan secara lurus dari satu orang ke orang lain tanpa komunikasi timbal balik sering menimbulkan salah tafsir,”terang Lucy. 
 
Hadiah dari games tersebut kata Lucy, untuk bapak-bapak berupa seperangkat handuk mandi untuk 3 orang. Sementara untuk ibu-ibu berupa tea set untuk 3 ibu dan hadiah untuk anak-anak berupa life journal.

Games lainnya tambah Lucy, yaitu lomba mencari telor Paskah untuk anak-anak. Anak panti dan anak KUB A bergabung bersama-sama mencari telur Paskah yang disembunyikan panitia. Tujuan digelarnya lomba ini adalah melatih keuletan, kecekatan, juga kebersamaan.

Anak-anak sedang mencari telor Paskah.
“Diambil 5 pemenang yang terbanyak mengumpulkan telur . Juara pertama mendapatkan hadiah boneka besar Santa Claus, juara ke-2 mendapat boneka Teddy Bear, juara ke-3 mendapat hadiah boneka Panda, hadiah ke-4 mendapat bantal bulu besar, dan hadiah ke-5 mendapat bantal bulu besar,”jelas Lucy.

Selain itu, juga ada games yang dimainkan oleh para frater dari Transitus yang hadiahnya disediakan dari panitia. Kuis tebak seputar ajaran gereja dan menyebut Bapak Uskup berbagai Keuskupan dengan hadiah beberapa bantal peluk, tas, plus alat tulis serta games menebak nama-nama para Rasul dengan hadiah tongsis dan tas plus alat tulis.

Di akhir acara, Sie Acara sambung Lucy menyediakan kenang-kenangan kepada panti asuhan berupa scrapbook frame yang sudah ditempel foto bersama KUB A Wilayah St. Stefanus bersama penghuni panti yang di dalamnya tertulis “Terima kasih, kami boleh berkunjung ke Panti Asuhan Yayasan ABAS, Parung, Bogor. Salam sayang: KUB A Wilayah St. Stefanus, Paroki St. Paulus Depok.

Sie acara juga menyediakan goody bag kepada penghuni panti berupa tas, buku, kaos kaki, dan alat tulis. Untuk anak-anak KUB A, mendapat goody bag yang masing-masing berisi buku, pulpen, pensil, dan kaus kaki.
 
Rini tampak siap memotong kue tar ultahnya untuk dibagikan ke anak-anak panti dan anak KUB A. Rini juga berbagi goody bag.
Di luar acara yang dirancang Sie Acara, Agnes Widorini yang berulang tahun ke-10 pada Selasa 28 April juga merayakan bersama anak-anak panti. Putri dari Budi Panca Prasetyo dan Rosalina Endang Jempormasse ini secara khusus juga menyiapkan 70 tas goody bag untuk diberikan ke anak-anak panti dan anak-anak KUB A. 
 
Rini tampak bahagia memotong kue tar ulang tahunnya untuk dibagikan ke semua anak-anak diiringi dengan lagu Selamat ulang Tahun, Happy Birthday dari anak-anak panti maupun anak-anak panti. 
 
Rossa, selaku pimpinan Panti Asuhan Yayasan ABAS dalam kesempatan tersebut menyambut baik kegiatan berbagi kasih ini. Artinya kata Rossa umat KUB A memiliki semangat option for the poor. ”Kami di sini ingin bersama-sama merasakan cinta Tuhan. Dari pohon yang jelek kadang membuahkan pohon yang bagus. Panti ini telah mempersembahkan seorang putra terbaiknya menjadi Romo yang kini menjabat Rektor Seminari Menengah Stella Maris Bogor,”ucap Rossa penuh bangga.

Hari itu sepertinya semua orang berlomba berbagi kasih. Hanya karena kasih yang tulus membuat semua ini terjadi. Kasih itu sungguh indah dan luar biasa! (Farida Denura)

Rabu, 26 Maret 2014

Ketika Umat KUB A Bicara Menjadi Katolik yang Nasionalis

Suasana ketika ibadah APP Ketiga berlangsung Sabtu (22/3/2014) di kediaman Emmanuel Equator. [Foto-Foto: Farida Denura]
SABTU, 22 Maret 2014 sore menjadi Sabtu seru dan hangat di kediaman keluarga Pak Emmanuel M. Equator T.W, tepatnya di GDC Cluster Anggrek 2. Depok. Pasalnya, sekitar 12 KK dari Komunitas Umat Basis (KUB) A berkumpul mengikuti ibadah APP 2014 yang merupakan pertemuan ketiga dan mereka seru mendiskusikan topik APP.
   
Pertemuan ketiga tersebut mendiskusikan topik berjudul “Menjadi Katolik yang Nasionalis” dan dipandu Pak Hermanto Situmorang. Topik ini bertujuan agar umat semakin memahami dan menghayati bahwa beriman mendalam harus dinyatakan dalam hidup bermasyarakat dengan semangat sebagai seorang Katolik yang sekaligus seorang nasionalis.
   
Hermanto mengawali dengan refleksi Kitab Suci tentang membayar pajak kepada kaisar (Matius 22:15-22). Usai refleksi dilanjutkan dengan pendalaman kitab suci dengan 3 pertanyaan yang sore itu menjadi topik diskusi tersebut yaitu: Apa makna menjadi orang Katolik yang nasionalis menurut teks kitab suci pada bacaan tersebut, lalu seperti apakah menjadi orang Katoli yang nasionalis itu serta bagaimana mewujudkan menjadi orang Katolik yang nasionalis dalam kehidupan sehari-hari?
   
Tibalah sesi diskusi dibuka Hermanto. Ketua KUB A, Elven Rajalewa mengawali diskusi tersebut menanggapi pertanyaan: Apa makna menjadi orang Katolik yang nasionalis menurut teks kitab suci pada bacaan tersebut? Elven mengatakan menurut bacaan tersebut jelas Yesus mau memberikan nasihat pada kita untuk bersikap bijaksana. Apa yang menjadi tugas dan kewajiban kita terhadap Allah. 

Elven Rajalewa berbagi pengalaman imannya
Elven menceritakan bahwa dulu ketika masih kuliah, dirinya lebih mengutamakan kewjiban masyarakat. Elven mengaku lebih enjoy dibanding kewajiban pada Allah. Elven akhirnya menyadari apa yang dia lakukan salah dan Tuhan memintanya untuk membagi waktu bagi dirinya dan juga untuk Tuhan. Elven akhirnya kembali aktif di gereja dengan giat beribadah, mengikuti koor dan lain-lain.
   
Lain lagi komentar Ny Bernard Sinaga. Menjawab pertanyaan nomor satu,  dia  mengatakan menjadi Katolik nasionalis berarti orang Katolik harus terbuka dan sangat mencintai negaranya, tidak terpaku dalam hal-hal Kekatolikan. Di dalam nasionalis kata Sinaga, dia juga harus mencintai peraturan yang ada di dalam negaranya.
   
“Dimana kita berada, kita harus berbaur menasionalis dan tidak terpaku pada suatu daerah. Berbaur pada aturan lingkungan yang kita tinggal. Kita memang harus terbuka ikut berperan serta dalam kegiatan masyarakat,”imbuhnya.
   
Sementara Maria Gayatri menanggapi pertanyaan nomor dua dan tiga mengatakan nasionalis seseorang tampak ketika dia berbaur di organisasi kemasyarakatan tanpa memandang suku agama, ras dan antar golongan.
   
Sebagai warga negara kata Gayatri, dia harus taat bayar pajak, tidak memilih golput dan taat pada peraturan. Dia juga harus menjadi agent of change - agen perubahan dari suatu lingkungan dengan membawa semangat kasih. Dia juga harus menjadi garam dan terang.   
Suasana saat sharing ibadah APP Ketiga.

Lain lagi dengan sharing yang dibawakan Pak Ignatius Edy Purnama. Edy mengatakan sebagai warga negara kita harus taat pada negara dan harus selalu membawa ciri khas Katolik yaitu: Kasih, jujur, Bersih, dan Tidak Korupsi di dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara.

Kalau kita tidak membawa semangat itu maka kita tidak membawa ciri khas Katolik tersebut. Kita kadang berbuat baik namun masih saja orang mencela kita. Meski demikian kita tidak boleh kehilangan misi kita di dalam lingkungan.
   
“Garam dan terang dunia, harus kita maknai di dalam hidup kita. Ajaran kasih, kejujuran harus kita tunjukan karena itu sebagai ciri khas kita orang Katolik,”pinta Edy.
   
Menurut Hermanto sharing Pak Edy dapat disimpulkan bahwa orang Katolik harus mampu mengampuni musuh, menjadi motivator bagi orang lain.
   
Bernard Sinaga mengaku bangga sebagai pengikut Kristus. Nasionalis seorang Katolik kata dia dapat ditunjukkan melalui disiplin seperti halnya datang tepat waktu menghadiri ibadah APP serta komitmen. “Ketepatan waktu, komitmen itu harus menjadi ciri khas orang Katolik,”tegasnya.

Membawa dan Menjaga Nilai

Sebagian umat KUB A
Pak Emmanuel Equator yang juga tuan rumah ibadah APP tersebut punya pandangan berbeda. Menurut Emanuel agak berat di zaman sekarang menjadi Katolik yang nasionalis. Banyak regulasi menurutnya parameternya agak tidak jelas serta berbagai urusan seperti urusan perpajakan kita orang Katolik dipersulit. Banyak tantangan yang dialami kelompok minoritas.
   
Menanggapi komentar Emmanuel, Edy menambahkan bahwa kondisi obyektif negara kita itu ada ketimpangan. Pemerintah tidak membela yang kecil, yang minoritas karena takut dengan yang besar atau mayoritas.
   
Melalui pemilu kata Edy tugas kita adalah memilih para caleg yang bisa bicara di forum kewarganegaraan tentang Kristen yang plural. Menghadapi kondisi riil tersebut kata Edy, kita memang kadang diam tapi kadang harus juga bicara.
   
Farida Denura lebih banyak berbagi pengalamannya ketika aktif di ormas PP Pemuda Katolik. Nasionalis, kebangsaan bukan hal baru yang dilakukan di organisasi tersebut. Bahkan menurut Farida organisasi ini pula yang ikut mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Organisasi ini pula telah mengkader begitu banyak kader Katolik menjadi pemimpin yang berjiwa nasionalis yang menjaga dan mempertahankan NKRI. Di organisasi tersebut juga diajarkan menjadi 100% Katolik, 100% Indonesia melalui semangat Pro Eclesia Et Patria---Untuk Gereja dan Tanah Air.
   
Kegiatan-kegiatan yang digelar dan sinergi yang dibangun organisasi tersebut pun kata Farida umumnya mengusung semangat nasionalis tersebut.
   
Sementara Yohanes mengatakan bahwa panggilan kita menjadi Katolik itu tidak dengan membawa ritual. “Kita dipanggil untuk membawa nilai, menjadi orang baik, orang jujur. Kita justru malu kalau kita tidak berbuat apa-apa. Ketika kita makin dikekang maka kita tetap menjaga nilai itu,”ungkapnya.
Bu Anny tampak sedang bersaksi.

Anny Novika Ruttyastuti yang biasa disapa Bu Anny berbagi pengalaman suaminya, Elves Fatima Rebelo yang juga seorang birokrat di Pemkot Depok. Anny menuturkan sejak kecil sekolah di negeri sehingga merasa lebih nyaman di gereja. Setelah nikah dengan suami yang juga seorang Pamong Praja, Anny diajari bagaimana hidup bermasyarakat.
   
Suatu ketika, Anny memulai ceritanya, Tuhan memberikan kepercayaan pada suaminya untuk menjadi Sekretaris Kelurahan di Kelurahan Depok yang mayoritas dihuni warga Belanda Depok. Paling tidak menurut Anny Tuhan telah mewujudkan cita-citanya. Ketika itu Pak Lurahnya meninggal dan suaminya akhirnya dipercaya untuk menjadi Pelaksana Tetap (Plt) selama 9 bulan. Mestinya setelah itu diangkat menjadi Lurah. Rupanya Tuhan berkehendak lain, suaminya tidak diangkat menjadi Lurah, jabatan tidak diturunkan, melainkan dipindahkan ke kantor yang baru.
   
Peristiwa itu membuat suaminya terpukul namun berkat istrinya yang beriman dan setia menghibur suaminya tetap tegas. Kata Anny,”Tuhan punya rencana lain di tempat ini dan bukan berarti melenyapkan cita-citamu itu”.
   
Anny mengajak umat KUB A untuk saling menguatkan. Apa yang harus dilakukan untuk masyarakat, mari kita lakukan dan untuk Tuhan mari kita lakukan. Jangan berpikir apa yang kita lakukan itu sia-sia. Kita harus tulus melakukannya. Itu juga menjadi ciri khas kita sebagai  orang Katolik di tengah masyarakat.
   
Sebagai penutup sharing sore itu Yosef Ugie Rachmawan secara singkat mempunyai pandangan yang agak berbeda. “Saya agak berbeda pandangan. Ternyata menjadi nasionalis itu ngga perlu susah. Cukup ikuti Yesus, seluruh perkataan itu sudah menjadi seorang nasionalis.
   
Pada akhirnya Hermanto menyimpulkan hasil diskusi tersebut bahwa sebagai orang Katolik kita mesti menjadi garam dan terang dunia. Juga sebagai agen perubahan (agent of change). Sebagai pemangku jabatan harus berani jujur, kasih, dan tidak korupsi. Kita juga harus memisahkan antara kenegaraan dan agama. Harus juga membawa nilai dan mengikuti Yesus.
   
Acara kemudian dilanjutkan dengan Doa Umat, Doa Harian Prapaskah 2014, Berkat, dan Penutup.
   
Duh, serunya diskusi tersebut sehingga usai kegiatan ibadah, Emmanuel sebagai tuan rumah langsung mengirim pesan di WA Group KUB A,” Bapak/Ibu, terima kasih akan kedatangannya di rumah saya. Kalau ada yang kurang, mohon dimaafkan. Dapat obrolan yang berbobot di Sabtu Seru..hehehe”.
   
Terima kasih juga Pak Emmanuel atas kesediaan memberikan tempat untuk ibadah tersebut. Tuhan memberkati keluarga Pak Emmanuel.(Farida Denura)
   

Selasa, 03 Desember 2013

Ketika Warga KUB A, Berbagi Pengalaman Iman dan Kerja

Suasana saat sharing pendalaman iman dan kerja warga KUB A, Sabtu (30/11/2013). Foto: Farida Denura
MEMASUKI masa Adven 2013, warga Komunitas Umat Basis (KUB) A, Wilayah Stefanus Paroki St Paulus Depok menggelar ibadah dan renungan Aksi Adven Pembangunan (AAP) 2013. Pertemuan pertama digelar di kediaman Budi Mulyanto, Grand Depok City, Cluster Gardenia, Depok, Sabtu (30/11/2013) pukul 20.00 wib.

Pertemuan yang dipandu Hermanto Situmorang, salah satu warga KUB A ini mengusung tema Adven Keuskupan Bogor yakni “Kedatangan Kristus Menguatkan Semangat Bekerja”. Warga yang hadir pada pertemuan tersebut sebanyak 13 Kepala keluarga.    

Hermanto lebih lanjut menjelaskan melalui tema ini diharapkan warga KUB A semakin mengimani bahwa kita bekerja tidak sendirian melainkan bersama Allah, yang secara nyata hadir dalam diri Yesus Kristus. Sementara sub tema pertama yang didalami bersama malam ini yakni “Keluarga yang Beriman, Keluarga yang Giat Bekerja”.

Mengutip Lukas 10:38-42 pada bacaan Injil, Elven Rajalewa menggarisbawahi orang kerja selalu sibuk mementingkan kerja dan lupa akan Tuhan. Seperti Marta dalam bacaaan Injil tersebut, tambah Elven, ketika Yesus tiba di sebuah kampung, Yesus diterima Marta dan ia tampak sibuk sekali melayani Yesus. Sementara Maria, saudara Marta duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya. Maria, telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.

Pada sesi pertanyaan pendalaman iman, warga pun berbagi pengalaman iman dan kerja. Hermanto memulai dengan pertanyaan,”Apa yang menjadi tantangan Anda ketika berhadapan dengan dua pilihan, misalnya menghadiri pendalaman iman atau hanya bekerja saja untuk memenuhi kebutuhan hidup”. Pertanyaan ini menjadi topik yang sangat menarik bagi warga untuk berbagi pengalaman.

Ketua Wilayah Stefanus yang juga warga KUB A, Thomas Tommy Hendrasmoro mengawali sharing tersebut dengan mengatakan dua pilihan, tinggal warga dapat mengatur waktu. Pendalaman iman di malam hari dan kerja di siang hari. Berbeda jika dilaksanakan pada hari libur. Siang atau malam kata Tommy, sama saja.

Elven Rajalewa memiliki pengalaman iman yang berbeda. Suatu ketika Elven harus mengikuti kebaktian di lingkungan. Sementara pimpinan di tempat Elven bekerja meminta Elven menemani. Elven akhirnya lebih memilih menemani pimpinannya ketimbang mengikuti kebaktian.

Menurut Elven, menolak permintaan pimpinan merupakan hal yang tidak baik di mata pimpinan. “Mana yang saya harus pilih, menyenangkan bos atau ikut kebaktian. Ini merupakan pilihan sulit dan salah satunya harus dikorbankan,”ujar Elven.

Endang Rosalina Jempormasse pun demikian dengan pengalamannya. “Dalam kenyataan, kita prioritas pada kebutuhan hidup kita. Pendalaman iman kita bisa sesuaikan,”kata dia.

Berbeda dengan sharing warga lainnya. Sabtu, 30 November 2013, merupakan hari padat acara bagi Farida Denura. Acara seminar yang diselenggarakan kantor dan wajib hadir, mengurus kegiatan Yayasan Pelayanan Kasih serta Lomba Membuat Korona 2013 di gereja.

Ketiga kegiatan tersebut sama-sama penting namun Farida harus memilih satu di antara 3 kegiatan tersebut. Pilihan, akhirnya jatuh pada mengikuti kegiatan Lomba Membuat Korona 2013 di gereja. Alasan Farida, melalui kegiatan tersebut, Farida ingin memuliahkan Tuhan dan ingin hadir bersama ibu-ibu KUB A lainnya. Ini menurut Hermanto merupakan dilema yang dialami dalam kehidupan. 

Sementara Listarini mengaku bahwa sharing yang disampaikan Farida menginspirasi.“Hadapi dua pilihan, mengalahkan urusan dunia untuk lebih mementingkan urusan Tuhan,”katanya.

Listarini pada kesempatan tersebut juga memberi kesaksian tentang pengalaman iman Katolik yang dilewati dalam kehidupannya. Baginya, Bunda Maria adalah penolong abadi dalam hidupnya. Awal cerita Listarini bermimpi didatangi seorang ibu berkerudung. Ibu itu adalah Bunda Maria. Dalam perjumpaan dengan Bunda Maria itu, Listarini menjadi semakin yakin akan maksud perjumpaan tersebut. Dia pun akhirnya setiaa menjalankan devosi  Novena 3 kali Salam Maria.

Setiap doa dan permintaan dalam doa Novena 3 kali Salam Maria selalu dikabulkan Bunda Maria. Dirinya semakin yakin dan percaya dengan pertolongan Bunda Maria. “Saya minta apapun dan baru doa 2-3 kali Novena permohonan saya langsung terkabul. Suatu kali anak saya sakit, saya ambil Rosario yang digantung di salib. Saya tak peduli akan debu yang menempel pada Rosario tersebut. Saya celupkan di air dan memberi minum ke anak saya. Puji Tuhan, langsung sembuh. Jalan untuk beriman banyak seperti Doa Novena,”cerita Listarini.

Christiningsih belakangan ini sangat sibuk. Maklum Cawara (Calon Wakil Rakyat-Red) dari Hanura ini harus membagi waktu antara keluarga, kegiatan politik maupun kegiatan ibadah di KUB, dan lain-lain. Sabtu-Minggu merupakan hari-hari yang melelahkan bagi Christin. Di kedua hari ini Christin harus rajin turba (turun ke bawah-Red) melakukan sosialisasi dirinya. Meski demikian menurut dia, tinggal bagaimana membagi waktu dan memilih mana yang lebih penting.

Pasianus Daeli dalam kesempatan tersebut juga berbagi pengalaman. Ketika masih bergabung dengan Wilayah St Ignatius Loyola, Pasianus hampir tidak pernah ikut latihan koor karena dilaksanakan pada malam hari di hari kerja. 

“Tuhan tidak kehendaki seperti itu bagi saya. Dan sekarang ketika latihan koor di Wilayah St Stefanus pada Sabtu atau Minggu, saya pun bisa bergabung,”ungkapnya.

Pasianus kemudian menyimpulkan sharing yang disampaikan warga KUB A. “Ini khan namanya dilema. Tantangan dan secara jasmani kita ngga bisa berada lebih dari satu tempat. Satu hal sebagai patokan, adalah kita memilih benar atau tidak dan kita memilih dengan tenang pilihan itu,”kata Pasianus. (Farida Denura)

Senin, 18 November 2013

Ibadah Bulanan Perdana KUB A St Stefanus

Suasana sharing firman Tuhan
DEPOK - Komunitas Umat Basis (KUB) A wilayah St. Stefanus, Sabtu 16 November 2013 sore lalu menggelar Ibadah Bulana Perdana di kediaman keluarga Bapak Hermanto.

Ibadah juga sekaligus mengucap syukur atas bertambahnya usia ibu Novi Hermanto dan Devin Hermanto, putra ke-2 Pak Hermanto, serta Bapak Elvent Rajalewa, Ketua KUB A.

Firman yang dibawakan Bapak Adrianus Angkur dengam mengutip
Lukas 18:1-8 yang mengisahkan Hakim yang Lalim menarik didiskusikan warga yang hadir.

Ada Ibu Susi Hambali, warga baru KUB A, Ibu Endang, dan Pak Elvent Rajalewa berbagi pengalaman pribadi maupun yang dicermati di lingkungan sosial soal praktek keadilan, penegakan hukum.

Intinya, firman hendak mengajarkan warga KUB A bahwa di atas segala-galanya adalah Kasih. Kita mengalah untuk menang.

Ibu Nova Hermanto memotong kue tar ultah
Usai ibadah dilakukan acara pemotongan kue tar ulang tahun. Ibu Novi dan putranya serta Pak Elven didaulat untuk memotong kue tar tersebut. Tiup lilin, tepuk tangan meriah membahana di sore itu.

Warga KUB A yang hadir pada ibadah tersebut sebanyak 12 KK termasuk tuan rumah yaitu: Bapak Tommy (Ketuwil St Stefanus) & Keluarga, Bapak Adrianus Angkur & Keluarga, Bapak Andreas & Keluarga, Bpk Happy & Keluarga, Bapak Yoseph Ugi & Keluarga, Bapak Eddy Rajalewa & Keluarga, Ibu Endang & Keluarga, Ibu Agatha & Keluarga, Ibu Christin & Keluarga, Ibu Merry Martens & Keluarga, Ibu Susi Hambali (warga baru KUB A).

Luar biasa keakraban yang terjalin. Hangat dan diberkati Tuhan.

Tetap semangat dan salam Stefanus.