Translate

Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Februari 2014

Perutusan Gereja: (Renungan Kamis 6 Februari 2014)

Yesus dan Para Rasul [Foto: Ist]
Pekan Biasa IV; 1Raj 2:1-4, 10- 12; MT 1Taw 29:10,11ab,11d- 12a,12bcd; Mrk 6:7-13

Istilah “dua belas” bagi penginjil Markus sama arti dengan murid-murid Yesus yang pertama. Mereka memiliki kedudukan istimewa, yakni tinggal bersama Yesus, menyertai Dia dalam perjalanan pewartaan Kerajaan Allah, dan mereka dipersiapkan untuk melanjutkan pewartaan itu.

Para murid diutus berdua-dua dengan pesan agar tidak boleh membawa bekal untuk perjalanan. Mereka harus percaya dan mengandalkan Allah yang akan menjamin hidup mereka. Barang-barang bawaan dalam perjalanan itu dapat menjadi penghalang dalam pewartaan, maka harus dilepaskan.

Peringatan lain adalah jika mereka ditolak maka debu tempat itu yang melekat pada kaki mereka harus dikebaskan. Hal ini sesuai kebiasaan orang Yahudi, debu dari tempat orang yang tidak mengenal Allah harus dikebaskan. Artinya, tidak akan terjalin hubungan dengan mereka. Seperti itu pula yang dipesan Yesus bagi mereka yang menolak untuk mendengarkan para murid.

Berita yang disampaikan para murid adalah ajakan untuk “bertobat”, yakni pembaruan diri secara utuh dalam pikiran, kehendak, dan perbuatan. Mereka menerima kuasa ilahi dari Yesus untuk mengusir setan dan menyembuhkan berbagai penyakit. Pewartaan itu menghadirkan keselamatan jiwa dan raga. Itu pula yang menjadi tugas perutusan Gereja sekarang.

Oleh: Sr Grasiana PRR (Sumber: www.hidupkatolik.com)

Sabtu, 30 November 2013

Renungan Harian (Sabtu, 30 November 2013)

Pekan Biasa XXXIV
Pesta St. Andreas, Rasul (M)
Bacaan I    : Rm. 10:9–18
Mazmur    : 19:2–3.4–5; R: 5a
Bacaan Injil    : Mat. 4:18–22

Ketika Yesus sedang berjalan me­nyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: ”Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Renungan
Hari ini kita merayakan Pesta St. Andreas Rasul. Injil suci menceritakan bagaimana Yesus memanggil kedua belas rasul-Nya, salah satunya adalah Andreas yang sedang bekerja menjala ikan bersama Petrus.

Yesus tidak memilih rasul-rasul-Nya dari kalangan elite agama maupun pejabat masyarakat. Yesus justru memilih orang-orang bisa yang tampaknya berpendidikan rendah, karena mereka hanya seorang nelayan. Yang menarik adalah bagaimana Yesus melatih dan mendidik para rasul-Nya untuk menjaankan suatu tugas yang mulia. Dan harus diakui kaderisasi kepemimpinan yang Yesus lakukan sangatlah berhasil karena Gereja tetap berdiri sampai saat ini dengan jumlah pengikut yang luar biasa.

Cara pendidikan atau kaderisasi yang Yesus lakukan sebenarnya sangatlah sederhana, ikutilah aku! Para murid ”nyantrik”, tinggal bersama Yesus dan mengikuti ke mana pun Yesus pergi. Maka, mereka dengan mudah bisa melihat apa yang dilakukan oleh Yesus secara detail. Para rasul bisa merasakan apa yang Yesus rasakan ketika berhadapan dengan situasi tertentu.  Walaupun tentu saja, kita tidak bisa berkata bahwa para murid mengerti 100% tentang visi dan misi hidup Yesus karena terbukti mereka pun tidak mengerti jalan penderitaan yang harus Yesus alami.

Mari kita belajar seperti St. Andreas dan para murid yang lain, yang meninggalkan kehidupan yang lama  dan mengikuti Yesus secara penuh dan menjadi perpanjangan tangan untuk memperluas Kerajaan Allah. Kita belum tentu kaum pandai dan terdidik, namun asalkan kita mau mengikuti Dia dengan sepenuh jiwa dan raga kita, cukuplah itu.

Doa: Tuhan, berilah aku rahmat-Mu untuk semakin secara total mengikuti Engkau. Biarlah aku ikut serta menjalankan misi-Mu di dunia ini dengan segala konsekuensinya. Amin.

Sumber: http://www.obormedia.com/content/renungan-ziarah-batin-2013-3



Jumat, 29 November 2013

Renungan Harian (Jumat, 29 November 2013)

Pekan Biasa XXXIV (H)
B. Fredericus dr Regensburg
Bacaan I    : Dan. 7:2–14
Mazmur : Dan. 3: 75, 76, 77, 78, 79, 80, 81:
Bacaan Injil    : Luk. 21:29–33

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: ”Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”

Renungan
Injil hari ini mengajar kita agar kita mempunyai keterampilan rohani untuk membaca tanda-tanda zaman. Mengapa ini disebut keterampilan rohani?
Dalam hidup ini kita sering dipenuhi dengan pertanyaan, apakah yang Tuhan kehendaki dalam hidupku? Mengapa peristiwa ini terjadi dalam hidupku? Belum lagi bila kita berada dalam kebimbangan-kebimbangan keputusan untuk memilih apa yang terbaik untuk hidup. Oleh karena itu, keterampilan rohani diperlukan untuk membaca ke arah mana sebenarnya Tuhan menuntun hidup kita. Maka pentinglah apa yang disebut Spiritual Discernment. Kita dilatih untuk menimbang-nimbang dengan cermat di saat kita harus mengambil keputusan yang penting.

Persoalannya adalah roh jahat tidak tinggal diam. Roh jahat juga bergerak mengacaukan usaha kita untuk menemukan rencana dan kehendak Tuhan. Roh jahat tahu titik lemah setiap  manusia. Ia akan melakukan segala usaha untuk membuat kita terlena sehingga menjauh dari kehendak Tuhan.

Maka, untuk memperkuat keterampilan rohani dan ketajaman batin menemukan kehendak Tuhan dalam hidup, diperlukan hidup doa pribadi yang tertata dengan baik. Tanpa relasi pribadi yang  erat dengan Tuhan, usaha untuk mengenali seluruh kehendak-Nya dalam hidup kita sulit untuk digapai.

Doa: Tuhan, ajarilah aku untuk semakin terampil dan memiliki ketajaman batin untuk mem­­­­­­­­baca tanda-tanda zaman dalam hidupku, dimana Engkau menunjukkan kehendak-Mu. Amin.

Sumber: http://www.obormedia.com/content/renungan-ziarah-batin-2013-3

Kamis, 28 November 2013

Renungan Harian (Kamis, 28 November 2013)

Pekan Biasa xxxiv (H)
SP Maria Tak Bernoda dr Medali Wasiat; St. Yakobus dr Persia;
St. Virgilius; St. Fransiskus – Antonius Fasami


“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan pen­jara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesem­patan bagimu untuk ber­saksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. 

Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Renungan
Dalam sebuah wawancara tes masuk sebuah fakultas di sebuah universitas negeri di Jakarta, seorang calon mahasiswa ditanya, ”Kamu keturunan atau bukan, kamu agamanya apa?”Si calon mahasiswa mensharingkan pengalamannya bahwa ia secara sadar dan dengan sengaja mengingkari data tentang dirinya. Ia tidak mengakui bahwa dirinya adalah keturunan Chinese dan ia tidak mengakui bahwa ia adalah Katolik. Alasannya sederhana, pertanyaan dalam wawancara itu tidak relevan karena seharusnya terkait dengan kompetensi dan profesionalisme. Maka, buat dia kebohongan yang ia buat tidak ada kaitannya sama sekali dengan iman dia sebenarnya.

Kita kadangkala dihadapkan pada situasi di mana kita harus mengalami perlakuan tidak adil karena keyakinan dan iman yang kita miliki. Dalam arti tertentu memang terjadi banyak kasus dimana keyakinan agama justru digunakan untuk mendiskriminasi sesama. Itulah yang dimaksudkan oleh Yesus dalam Injil hari ini bahwa ternyata menjadi pengikut Yesus memiliki konsekuensi-konsekuensi yang tidak mudah dalam hidup bermasyarakat. Kadangkala hal yang sama bisa terjadi sebaliknya. Di mana Kristianitas menjadi agama mayoritas, bisa jadi kita pun justru mendiskriminasi dan memojokkan yang minoritas.

Yesus memberi kita suatu kekuatan bahwa kita seharusnya tidak boleh takut terhadap segala sesuatu. Allah sendirilah yang akan memberi kekuatan. Idealnya adalah entah sebagai mayoritas ataupun minoritas, kita tetap harus mengedepankan kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Doa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk tabah menghadapi aneka konsekuensi dari menjadi pengikut-Mu, berilah aku rahmat untuk selalu menghadirkan damai kepada semua orang. Amin.

Sumber: http://www.obormedia.com/content/renungan-ziarah-batin-2013-3

Rabu, 27 November 2013

Renungan Harian (Rabu,27 November 2013)

Pekan Biasa xxxiv (H)
SP Maria Tak Bernoda dr Medali Wasiat; St. Yakobus dar Persia;
St. Virgilius; St. Fransiskus – Antonius Fasami
Bacaan I    : Dan. 5:1-6.13-14.16-17.23-28
Mazmur    : Dan. 3:62,63,64,65,66,67;
Bacaan Injil    : Luk. 21:12-19


“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan pen­jara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesem­patan bagimu untuk ber­saksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Renungan
Dalam sebuah wawancara tes masuk sebuah fakultas di sebuah universitas negeri di Jakarta, seorang calon mahasiswa ditanya, ”Kamu keturunan atau bukan, kamu agamanya apa?” Si calon mahasiswa mensharingkan pengalamannya bahwa ia secara sadar dan dengan sengaja mengingkari data tentang dirinya. Ia tidak mengakui bahwa dirinya adalah keturunan chinese dan ia tidak mengakui bahwa ia adalah Katolik. Alasannya sederhana, pertanyaan dalam wawancara itu tidak relevan karena seharusnya terkait dengan kompetensi dan profesionalisme. Maka, buat dia kebohongan yang ia buat tidak ada kaitannya sama sekali dengan iman dia sebenarnya.

Kita kadangkala dihadapkan pada situasi di mana kita harus mengalami perlakuan tidak adil karena keyakinan dan iman yang kita miliki. Dalam arti tertentu memang terjadi banyak kasus dimana keyakinan agama justru digunakan untuk mendiskriminasi sesama. Itulah yang dimaksudkan oleh Yesus dalam Injil hari ini bahwa ternyata menjadi pengikut Yesus memiliki konsekuensi-konsekuensi yang tidak mudah dalam hidup bermasyarakat. Kadangkala hal yang sama bisa terjadi sebaliknya. Di mana Kristianitas menjadi agama mayoritas, bisa jadi kita pun justru mendiskriminasi dan memojokkan yang minoritas.

Yesus memberi kita suatu kekuatan bahwa kita seharusnya tidak boleh takut terhadap segala sesuatu. Allah sendirilah yang akan memberi kekuatan. Idealnya adalah entah sebagai mayoritas ataupun minoritas, kita tetap harus mengedepankan kedamaian dan kesejahteraan bersama.

Doa: Tuhan, berilah aku kekuatan untuk tabah menghadapi aneka konsekuensi dari menjadi pengikut-Mu, berilah aku rahmat untuk selalu menghadirkan damai kepada semua orang. Amin.

Sumber: http://www.obormedia.com/content/renungan-ziarah-batin-2013-3

Selasa, 26 November 2013

Renungan Harian (Selasa,26 November 2013)

Pekan Biasa XXXIV (H)
St. Yohanes Berchmans; St. Silvester Gozzolini;
St. Leonardus a Porto Mauritio; St. Sarbel Maklouf
Bacaan I: Dan. 2:31–45
Mazmur: Dan. 3:57,58,59,60,61
Bacaan Injil: Luk. 21:5–11

Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus: ”Apa yang kamu lihat di situ—akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: ”Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Jawab-Nya: ”Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera.” Ia berkata kepada mereka: ”Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.”

Renungan
Banyak kisah nyata di mana ada ajaran sesat yang mengajak orang untuk mati bunuh diri karena meyakini sebentar lagi akan datang hari kiamat. Ada lagi ramalan-ramalan yang menakut-nakuti orang dengan mengungkapkan tanda-tanda bahwa hari kiamat sudah semakin nyata di depan mata. Terhadap semua isu itu, hendaknya kita mengingat teks yang hari ini kita baca dari Injil Lukas: ”Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka.”

Mungkin sikap paling baik adalah memasrahkan hidup kita setiap saat. Kapan pun itu terjadi bukanlah suatu masalah. Tugas kita hanyalah hidup setiap hari dengan baik karena toh cepat atau lambat hidup kita akan berakhir juga dari dunia ini. Ada banyak hal yang tidak bisa kita prediksi dalam hidup ini. Jangankan soal kedatangan Yesus yang kedua, kadangkala untuk memprediksi apa yang akan terjadi esok hari pun kita tak bisa mengetahuinya. Hari-hari kita dipenuhi oleh misteri dan ketidakpastian, tugas kita adalah menyelesaikan tugas hidup yang menjadi tanggung jawab kita sebaik-baiknya setiap hari.  Ada orang-orang yang tidak bisa memprediksi apakah mereka besok masih bisa makan atau tidak, namun mereka memiliki keyakinan, kesusahan hari ini biarlah untuk hari ini. Mereka yakin Tuhan terus memelihara mereka. Ini adalah cara menjalani hidup yang sangat sederhana. Entah kapan mau datang hari kiamat itu, aku  sudah siap hari ini, esok atau entah kapan.

Doa: Tuhan, ajarlah aku setiap hari untuk memasrahkan hidupku ke dalam tangan-Mu. Apa pun yang terjadi, aku serahkan, ya Tuhan. Amin.

Sumber: http://www.obormedia.com/content/renungan-ziarah-batin-2013-2

Senin, 25 November 2013

Renungan Harian (Senin,25 November 2013)

Yesus melihat persembahan janda miskin
Sta. Katarina dr Aleksandria;
B. Elisabet dr Reute
Bacaan I    : Dan. 1:1–6.8–20
Mazmur    : Dan. 3:52,53,54,55,56;
Bacaan Injil    : Luk. 21:1–4

Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

Renungan
Belakangan ini ada begitu banyak orang Katolik bertanya tentang persepuluhan. Apakah orang Katolik wajib melakukannya? Ketika ditanya demikian ada orang katolik yang menjawab dengan mengatakan para pastor wajib menyisihkan 20% dari apa yang ia terima dan harus digunakan untuk membantu sesama yang kesulitan. Jadi, bukan lagi persepuluhan melainkan perduapuluhan. Maksudnya adalah jangan pernah kita mengukur persembahan kita berdasarkan kewajiban hukum ataupun berdasarkan besarnya jumlah. Gereja Katolik mengajak umatnya untuk memberikan persembahan yang mengalir dari hati dan kerelaannya.

Yesus mengamati dengan cermat dua orang yang memasukkan uang ke kotak persembahan di Bait Allah. Tentu sumbangan si orang kaya jauh lebih besar daripada sumbangan si janda miskin, namun Yesus lebih memuji si janda miskin karena dia memberi dari kekurangannya, artinya memberikan seluruh dirinya.

Injil hari ini ingin mempertegas bahwa di hadapan Tuhan yang lebih penting adalah persembahan diri yang utuh dan tulus kepada-Nya. Segala bentuk persembahan yang lain biasanya akan mengalir dari persembahan diri itu.

Setiap orang bisa melakukan persembahan dalam bentuk apa pun. Ada yang memang dikaruniai rezeki banyak, ia bisa mempersembahkan itu untuk karya pelayanan Gereja. Namun, ada juga orang yang mempersembahkan keahliannya, mempersembahkan waktunya, dan bentuk-bentuk lainnya. Semua itu akan berkenan kepada Tuhan bila mengalir dari hati yang tulus.

Doa:
Tuhan, bukalah hatiku untuk mampu mempersembahkan diriku kepada-Mu dan mem­berikan yang terbaik dari yang aku miliki. Amin. 

Sumber: www.obormedia.com/.../renungan-ziarah-batin-2013

Renungan Harian (Minggu, 24 November 2013)

Kristus Raja Semesta Alam
Pekan Biasa XXXIV - HR Kristus Raja Semesta Alam (P)
St. Andreas Dung Lac, Im.dkk.Mrt. Vietnam
St. Krisogonus; St. Vinsensius Liem; St. Ignasius Delgado;
St. Dominikus An-Kham
Bacaan I    : 2Sam. 5:1–3
Mazmur    : 122:1–2.4–5; R:1
Bacaan II    : Kol. 1:12–20
Bacaan Injil    : Luk. 23:35–43

Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin meng­ejek Dia, katanya: ”Orang lain Ia selamat­kan, biarlah sekarang Ia menyelamat­kan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata: ”Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: ”Inilah raja orang Yahudi”.

Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: ”Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: ”Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu ia berkata: ”Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Renungan
Hari ini kita merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Menurut Kalender Liturgi, inilah akhir dari tahun liturgi kita dan minggu berikutnya kita akan memulai tahun liturgi yang baru dimulai dengan Minggu Adven I.

Secara manusiawi, yang namanya raja selalu berkuasa, menang, memiliki banyak pasukan, dan bisa melakukan apa pun. Akan tetapi, ironis sekali bahwa kita merayakan Hari Raya Kristus sebagai Raja Semesta Alam justru dihadapkan dengan kisah Yesus yang dimahkotai duri di kayu salib dan diolok-olok. Kematian di kayu salib adalah kematian yang konyol dan rendah.

Semua pihak mengolok-olok: ”orang lain ia selamatkan, biarlah Ia menyelamatkan dirinya sendiri!” Yesus tampak sebagai raja yang tak berdaya.
Namun, pada bagian akhir hidup-Nya, Yesus justru menganugerahkan suatu karunia yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun. Yesus menunjukkan kuasa-Nya yang luar biasa, yaitu Ia menganugerahkan Kerajaan Surga kepada penjahat di sebelah kanan yang mau bertobat dan menyembah-Nya.

Pada momen inilah mari kita merenungkan bahwa secara duniawi tampaknya hidup Yesus kalah oleh kekuatan-kekuatan jahat yang sejak awal karyanya mengincar diri-Nya. Kehadiran Yesus ke dunia ini bukan untuk membangun suatu kesuksesan, kemakmuran dan kekuasaan dunia. Ia ingin mengajak kita masuk dalam Kerajaan-Nya bersama Bapa.  Maka, kalau kita sering mengeluh tentang betapa beratnya salib hidup kita di dunia, mari kita tengok salib Tuhan kita. Ia telah lebih awal menjalani salib itu. Yang Tuhan janjikan bukan kemuliaan duniawi, namun kemuliaan surgawi.

Doa: Tuhan, bantulah aku memanggul salib kehidupanku agar aku bisa menerima rahmat Kerajaan Surga sebagaimana Kauanugerahkan kepada penjahat yang bertobat itu. Amin.

Sumber:
www.obormedia.com/.../renungan-ziarah-batin-2013

Renungan Harian (Sabtu,23 November 2013)

Yesus bersama orang Saduki
Pekan Biasa XXXIII (H)
St. Klemens I, Paus; St. Kolumbanus;
B. Mikhael Agustinus Pro
Bacaan I    : 1Mak. 6:1-13
Mazmur    : 9:2-3.4.6.16b.19; R:16a
Bacaan Injil : Luk. 20:27-40

Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:“Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.

Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.”

Jawab Yesus kepada mereka: “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.” Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.

Renungan
Kapan persisnya usia manusia akan berakhir, kita tidak akan pernah mengetahuinya. Ada yang bisa awet tua sampai usia 90-an  lebih,  namun  ada yang harus  meninggal dunia  pada usia muda bahkan  saat  masih anak-anak. Hidup manusia selalu dipenuhi dengan misteri.

Persoalan  bertambah rumit  ketika  kita bertanya,  apa yang terjadi  dengan tubuh manusia setelah kita mati? Gereja Katolik percaya akan adanya  kebangkitan badan.  Namun, bukan dalam arti bahwa tubuh fisik kita akan persis sama dengan tubuh fisik kita dalam kehidupan yang akan datang. Yesus mengatakan bahwa di surga tidak ada yang kawin dan dikawinkan  karena kita akan sama seperti  para malaikat. Menurut Rasul Paulus, tubuh manusiawi kita diubah secara radikal, kita akan  mengenakan tubuh yang sama sekali baru.

Akan tetapi, rahmat kebangkitan badan  pada kehidupan yang akan datang  tersebut hanya dapat  kita terima  kalau kita mulai mempersiapkannya sejak saat ini. Perbuatan-perbuatan kita selama di dunia akan dihakimi dan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Mari kita persiapkan kehidupan kita di ”masa depan” sejak saat ini.

Doa: Tuhan, berilah aku kebijaksanaan untuk mengatur hari-hari hidupku agar aku beroleh rahmat kebangkitan badan bersama Engkau nantinya. Amin.
Sumber: www.obormedia.com/.../renungan-ziarah-batin-2013

Jumat, 22 November 2013

Renungan Harian (Kamis 21 November 2013)

Yesus menangis di kota Yerusalem
Pekan Biasa XXXIII
Pw Maria Dipersembahkan kepada Allah (P)
St. Nikolo Giustiniani
Bacaan I    : 1Mak. 2:15–29
Mazmur    : 50:1–2.5–6.14–15; R:23b
Bacaan Injil    : Luk. 19:41–44


Ketika Yesus telah dekat [Yerusalem] dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: ”Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

Renungan
Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang menangisi kota Yerusalem. Kota Yerusalem bagi banyak orang adalah kota kemenangan, simbol kekuasaan. Namun, Yesus melihat Yerusalem secara berbeda. Para murid-Nya ketika memasuki kota Yerusalem mungkin barharap bahwa Yesus sebentar lagi mengalahkan semua musuh-Nya dan bertakhta sebagai raja. Akan tetapi, Yesus melihat kota Yerusalem itu sebagai tempat di mana Dia akan memasuki penderitaan-Nya yang sangat ngeri lalu akhirnya dibunuh.

Yesus tetap mantap memasuki Yerusalem walaupun ada kegetiran dalam hati-Nya. Ia tetap masuk ke sana karena ketaatan kepada misi Bapa-Nya. Ia rela mati demi menyelamatkan seluruh umat manusia.

Setiap kita memiliki misi dalam hidup. Kadangkala misi itu tidak selamanya misi yang indah dan membahagiakan. Kerap kali justru kita harus menjalankan suatu tugas yang berat, tidak enak dan menyakitkan. Dan banyak dari kita kadangkala memilih tugas kalau bisa yang enak-enak saja. Belum lama ini beberapa orang pergi bersama-sama untuk menjadi tenaga sukarelawan di beberapa panti yang menampung orang-orang miskin, cacat dan terbuang.

Banyak dari mereka yang memilih pergi ke tempat anak-anak bayi karena tempatnya bersih dan ringan tugas di sana. Sebagian menolak datang ke tempat orang cacat ganda untuk bertugas memandikan orang cacat itu.

Mari kita belajar untuk berani menjalankan tugas apa pun yang diserahkan kepada kita walau kadang tugas tersebut adalah tugas yang tidak kita inginkan dan tidak membahagiakan kita.

Doa: Tuhan, semoga aku memiliki kualitas hidup yang sudah diajarkan oleh Putra-Mu, Yesus, yaitu berani taat sampai akhir menjalankan misi hidupku di dunia. Amin.

Sumber: www.obormedia.com/.../renungan-ziarah-batin-2013

Rabu, 20 November 2013

Renungan Harian (Rabu 20 November 2013)

Pekan Biasa XXXIII (H)
St. Feliks dr Valois; St. Edmund
Bacaan I: 2Mak. 7:1.20–31
Mazmur : 17:1.5-6.8b.15; R:15b
Bacaan Injil : Luk .19:11–28

Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyang­ka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. Maka Ia berkata: ”Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.

Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota.

Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur. Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.” (Bacaan selanjutnya lihat Alkitab....)

Renungan
Injil hari ini mengajak kita untuk berefleksi sejauh mana hidup kita sudah berbuah. Kepada setiap kita diberikan sejumlah ”uang mina” oleh Tuhan. Besarnya tentu berbeda-beda menurut kemampuan dan situasi hidup kita. Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan kita tidak adil dengan memberikan talenta dan siatuasi hidup yang berbeda-beda kepada manusia. Keadilan bukanlah sama rata, sama rasa. Maka, sikap yang harus disingkirkan jauh-jauh dari hidup kita adalah sikap iri hati.

Selama kita hidup di dunia, memang berkesan ada perbedaan-perbedaan. Namun, pada akhirnya kita semua akan menikmati Surga secara bersama-sama.

Kuncinya adalah apakah talenta yang Tuhan telah berikan kepada kita, kita maksimalkan? Apakah hidup kita sudah diabdikan untuk mencintai Tuhan dan sesama. Buah hidup kita tidak diukur dari hal-hal material seperti uang dan kekayaan lainnya, namun sejauh mana hidup kita yang sederhana ini diabdikan untuk Tuhan dan sesama.

Doa: “Tuhan, ajarilah aku untuk rela menyumbangkan talentaku untuk kemuliaan nama-Mu dan kebaikan hidup bersama. Amin”.

Sumber: www.obormedia.com/.../renungan-ziarah-batin-2013

Makna Sebuah Renungan

Merenung adalah aktivitas atau situasi yang tidak lumrah untuk kebanyakan orang di zaman ini. Di tengah-tengah tuntutan produktivitas, suasana yang normal adalah orang aktif melakukan sesuatu, sebanyak mungkin, beraksi, dan sibuk bergerak. Bukan berpangku tangan pasif dan diam merenung. Orang diam semacam itu dianggap tidak menghasilkan apa pun.

Merenung sebuah aktivitas ke dalam dan internal. Maka, orang mengatakan proses merenung sebagai peziarahan batin untuk mendapatkan inspirasi. Tidak relevan untuk bertanya, ”Apa hasil permenunganmu?” Renungan adalah inspirasi, bukan mencari produk.

Merenung merupakan sarana pemeriksaan diri yang efektif. Orang melihat dan mengumpulkan kembali segala pengalaman dan peristiwa. Memeriksanya satu per satu. Inilah rekoleksi harian. Sebuah aktivitas yang berguna untuk umat beriman. Bahkan, sangat berguna bagi umat manusia pada umumnya. Merenung adalah saat untuk menjelaskan dan menegaskan kembali orientasi hidup.

Merenung menyerupai manusia yang mengambil dan menghirup oksigen. Bernapas dibutuhkan agar kita tetap bisa bergerak dan maju ke depan. Tetapi ingat, ini bukan aktivitas yang dilakukan setelah bekerja keras. Seakan bernapas hanya dibutuhkan setelah bekerja. Bernapas itu aktivitas terus-menerus. Ia seiring dan bersamaan dengan aktivitas hidup yang lain. Kalau kita menunda pemenuhan kebutuhan oksigen dan melepaskannya dalam bentuk gas asam arang, kita akan mati.

Dengan demikian, merenung bukanlah saat yang diadakan setelah bekerja seharian. Merenung adalah setiap saat. Merenung adalah membangun kesadaran terus-menerus. Orang hadir di hadapan Tuhan dalam setiap keadaan. Orang menemukan Tuhan dalam segala. Setiap detik, Roh Kudus dibiarkan bekerja dan membimbing kita semua.

Tentu dibutuhkan saat-saat di mana kita bernapas dengan lebih tenang. Yaitu, ketika aktivitas dan pekerjaan jauh lebih reda. Ketika kecemasan dalam keadaan minimum. Pada saat itu kita bisa bernapas dengan lebih teratur, dan merenung serta menyadari kehadiran Tuhan secara lebih nyata.

Tetapi, kita tidak usah membesar-besarkan dan melebih-lebihkan aktivitas ini. Banyak orang tidak melakukan aktivitas meditatif toh tetap bisa bertahan dan tetap hidup. Merenung ternyata tidak mutlak.

Merenung bahkan bisa menjadi aktivitas tidak sehat. Yaitu, ketika aktivitas ini menjadi ekstrem. Beberapa orang berkecenderungan, misalnya, terlalu mencari kesalahan- kesalahan diri. Merenung menjadi saat yang murung karena hampir semua perkara negatif yang dilihat. Merenung akan merusak psikologi jika tidak disertai dengan penilaian seimbang dan sikap matang dalam memandang hidup. Ia tidak menjadi saat-saat doa, jika perasaan sesal tidak disertai denganrasa syukur kepada Tuhan.

Jadi, merenung setiap hari tidak selalu menjadi aktivitas yang bermanfaat. Ia membutuhkan cara berpikir dan cara merasa yang tepat. Tidak bisa tidak, kita kembali pada Injil, pada Yesus sendiri. Bagaimana Yesus berpikir, merasa, dan bertindak adalah teladan bagaimana kita merenung.

Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bagaimana Dia bisa marah (Mrk 3:1), tetapi Dia juga bisa bersikap lembut (Lk 7:40-50). Kita jumpai Yesus yang membentak dan menegur (Yoh 2:15-16), tetapi juga yang penuh ampun, pemaaf, dan motivator yang agung (Yoh 8:1-30). Dengan orang-orang dekat-Nya, seperti Maria dan Marta, Yesus bisa berduka dan serius (Yoh 11:5), tetapi juga bisa santai dan gembira (Lk 10:38-42).

Merenung yang produktif adalah belajar akrab dengan situasi paradoks dan ambiguitas yang sudah dicontohkan oleh Yesus di atas. Karena hidup yang sesungguhnya adalah hidup yang penuh dengan kontradiksi dan ketegangan. Hanya dengan memasuki situasi tersebut dan tetap damai di dalamnya, manusia merasakan hidup yang kaya dan produktif.

Di atas dikatakan bahwa tidak relevan berbicara tentang ’hasil’ dalam aktivitas merenung. Ternyata, merenung setiap hari dan setiap saat, bila dipraktikkan secara tepat, adalah sebuah aktivitas yang sangat produktif. (Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 34 Tanggal 22 Agustus 2010)