Translate

Tampilkan postingan dengan label KWI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KWI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juni 2014

Lebih Dekat dengan Uskup Bandung: Mgr. Dr. Antonius Subianto Bunyamin OSC

Uskup Bandung yang baru, Mgr. Antonius Subianto Bunyamin OSC
Oleh: Romo Ferry Sutrisna Wijaya Pr ( 4 JunI 2014)

USKUP Bandung yang baru, Mgr. Antonius Subianto Bunyamin OSC lahir di Bandung, 14 Februari 1968, masuk Ordo Salib Suci (OSC) dan mengucapkan kaul kekal tanggal 28 Agustus 1994; menerima tahbisan imamat di Bandung tanggal 26 Juni 1996.

Mgr. Anton dibesarkan di Paroki St. Odilia Cicadas, Bandung, dan sempat aktif menjadi misdinar dan anggota Legio Mariae di paroki hingga kemudian meneruskan studi di Seminari Menengah Mertoyudan di Magelang. Di Mertoyudan ia dikenal cerdas dan sempat menjadi Ketua OSIS dan itu cukup menunjukkan bakat kepemimpinannya.

Di lingkungan Ordo Salib Suci (OSC), Mgr. Anton praktis selalu dilibatkan sebagai salah satu tokoh dan pemimpin yang banyak memberi warna. Ia diterima dengan baik, disukai, dan diharapkan oleh banyak rekan-rekan OSC untuk memimpin Ordo Salib Suci Provinsi Indonesia.

Dalam satu kesempatan berbincang-bincang, Mgr. Anton menceritakan dengan jelas dan gamblang bagaimana peran OSC di Indonesia yang sangat penting bagi perkembangan OSC di seluruh dunia. OSC Propinsi Sang Kristus saat ini juga berkarya di Keuskupan Agats (Papua), Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Sibolga, dan Keuskupan Agung Medan berharap banyak dari kepemimpinan Mgr. Anton.

Saat ini juga ada anggota OSC dari Indonesia yang berkarya di Roma, Amerika Serikat, dan Brasil.

Terpilihnya Mgr. Anton di satu pihak membawa kegembiraan bagi rekan-rekan OSC di seluruh dunia. Di lain pihak mungkin ada yang merasa sedih karena sempat memperkirakan dan berharap bahwa Mgr. Anton akan segera dipilih menjadi Magister General OSC yang diharapkan akan memimpin OSC di seluruh dunia.

Sebagai Uskup Bandung, perhatian Mgr. Anton untuk kepentingan OSC tentu tidak bisa sama lagi. Kerja sama OSC dengan Keuskupan Bandung diharapkan akan semakin lancar, mesra, dan berbuah.

Belajar di Leuven dan Roma
Mgr. Anton menyelesaikan studi S1 di Fakultas Filsafat Unpar, S2 di Leuven Belgia dalam bidang filsafat, dan S3 Doktor filsafat dari Roma.

Ia selalu dikenal sebagai orang yang cerdas. Homilinya dinilai bagus, lucu, dan menarik. Ia pandai merumuskan kata-kata. Kalau ada konfrater OSC yang meninggal, maka kata sambutan selalu diberikan oleh Mgr. Anton.

Menurut saya, Mgr. Anton bisa menggambarkan dengan baik profil yang bersangkutan dengan tajam, cocok, dan menarik. Di Majalah Melintas ada banyak tulisan Mgr. Anton. Ia masih Dosen filsafat di Unpar dan memberikan banyak ceramah dan kuliah di berbagai tempat.

Mgr. Anton lahir, dibesarkan, dan praktis melayani sepenuh waktu di lingkungan Keuskupan Bandung . Ia pernah ditugaskan di Keuskupan Agats yang kemudian memberinya ‘oleh-oleh’ penyakit malaria yang semoga tidak akan banyak mengganggunya. Ia pernah menjadi pastor untuk pelayanan gerejani di lingkungan mahasiswa.

Saya ingat bagaimana Mgr. Anton waktu itu tidak mau memberi beasiswa untuk mahasiswa yang merokok, punya HP (waktu itu masih mahal), dan punya kendaraan pribadi.
Bersama rekan OSC: Pastor Anton OSC
Dalam semua musyawarah pastoral Keuskupan Bandung, Mgr. Anton selalu terlibat sebagai anggota Panitia Pengarah dan selalu ikut merumuskan hasil akhir Musyawarah Pastoral.

Berkarya di bidang pendidikan
Ada berbagai rumusan Mgr. Anton yang masih tertulis di buku-buku hasil Musyawarah Pastoral. Entah mengapa Mgr. Anton tidak pernah menjadi Pastor Paroki. Barangkali karena tugas-tugasnya yang sudah cukup berat di lingkungan OSC, Yayasan Salib Suci, dan Universitas Katolik Parahyangan.

Di Yayasan Salib Suci yang mempunyai 81 unit sekolah di semua paroki dan hampir di semua kota dan kabupaten di wilayah Keuskupan Bandung, Mgr. Anton masih menjadi Sekretaris Yayasan dan Direktur Eksekutif yang pasti harus ditinggalkannya.

Sebagai Uskup Bandung, Mgr. Anton otomatis akan menjadi Ketua Pembina Yayasan Salib Suci. Beliau juga otomatis akan menjadi Ketua Pembina Yayasan Mardiwijana dan Satya Winaya yang mengurus Sekolah Aloysius dan Ketua Pembina Yayasan Melania yang mengurus sekolah dan lembaga lain di Melania.

Semua lembaga pendidikan tersebut mengharapkan kepemimpinan Mgr. Anton sebagai Uskup Bandung agar menjadi lembaga pendidikan yang mewartakan kabar gembira, unggul, dan lebih berpihak kepada yang miskin.

Di lingkungan Universitas Katolik Parahyangan, Mgr. Anton aktif sebagai Dosen tetap Fakultas Filsafat. Ia pernah memimpin Pusat Kajian Humaniora Unpar (sekarang Lembaga Pengembangan Humaniora Unpar) yang mengurusi kuliah MKDU untuk semua fakultas dan merintis berbagai bentuk gladi pembinaan bagi mahasiswa.

Di Yayasan Unpar, Mgr. Anton pernah menjadi Sekretaris Pengurus, Anggota Pembina sebagai Provinsial OSC, dan sebagai Uskup Bandung otomatis akan menjadi Ketua Pembina Yayasan Unpar.

Mgr. Anton juga masih menjadi anggota Badan Pengurus APTIK dan aktif mengikuti berbagai kegiatan APTIK yang barangkali akan berubah dengan terpilihnya sebagai Uskup Bandung.

Unpar sebagai universitas Katolik tertua di Indonesia ditantang untuk mengembangkan diri menjadi perguruan tinggi yang sesuai cita-cita pendiri alm. Mgr. Geise OFM dan alm. Mgr. Artnz OSC agar menjadi agen transformasi masyarakat dengan menjadi perguruan tinggi yang berkualitas sesuai visi Unpar menjadi komunitas akademik humanum. Sebuah perguruan tinggi yang bersemangat kasih dalam kebenaran untuk mengembangkan potensi lokal menuju tataran internasional demi peningkatan martabat manusia dan keutuhan alam ciptaan, berdasarkan sesanti Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti.

Tantangan Keuskupan Bandung saat ini yang juga sangat penting adalah bagaimana menjadi bagian dari masyarakat Jawa Barat. Jumlah umat katolik tidak sampai seratus ribu jiwa. Peran dalam berbagai bidang masyarakat, misalnya politik, ekonomi, kebudayaan, lingkungan hidup, sosial, hukum, dll masih terbatas.
Belum banyak tokoh Katolik yang dikenal kontribusinya bagi masyarakat. Peran Gereja Katolik bagi dan bersama masyarakat belum sungguh terasa dan nampak.

Selanjutnya mari kita ucapkan terima kasih untuk Mgr. Johannes Pujasumarta Pr yang dengan menjadi Uskup Bandung sempat membawa banyak hal positif dan memberi dasar untuk perkembangan Keuskupan Bandung.

Terima kasih juga untuk Mgr. Ignatius Suharyo Pr yang sudah bersedia memimpin Keuskupan Bandung di tengah banyak tanggungjawab beliau yang sangat banyak. Terbayang bagaimana Mgr. Suharyo rela bolak balik Jakarta-Bandung dan sungguh ikut memikirkan perkembangan Keuskupan Bandung.

Terima kasih untuk Romo Paulus Wirasmohadi Soeryo yang bertahun-tahun praktis membantu kedua bapak uskup tersebut untuk ikut memimpin Keuskupan Bandung sebagai Vikaris Jenderal. Terbayang banyak waktu dihabiskan untuk kesana kemari, bicara dengan banyak kedua monsinyur, dan sungguh memikirkan Keuskupan Bandung.

Mari kita doakan agar Gereja Keuskupan Bandung khususnya semakin berkembang sesuai visinya menjadi komunitas yang hidup, mengakar, mekar, dan berbuah bersama masyarakat Jawa Barat.

Dengan demikian, komitmen Gereja Katolik Keuskupan Bandung ialah bersama komunitas-komunitas lain lintas agama, ras, suku, dan bahasa yang hadir di Jawa Barat membangun suatu masyarakat yang bermartabat dan manusiawi. Dilandasi oleh kemurahan hati dan kerelaan berbagi, Gereja Katolik Keuskupan Bandung hendak berperan aktif dalam peningkatan kesejahteraan material dan spiritual masyarakat.

Mohon doa juga dari para bapak uskup almarhum seperti Mgr. Goumans OSC, Mgr. PM Artnz OSC, dan Mgr. Alexander Djajasiswaja Pr dan para sesepuh Keuskupan Bandung yang sudah mendahului kita semua.

Maka selamat untuk Mgr. Anton yang bersedia memikul tanggung jawab yang besar sebagai Uskup Bandung. Kita doakan dan kita dukung. Selamat bekerja dan melayani Mgr. Anton. Modal kecerdasan, kepemimpinan, sifat supel dan mudah bergaul, kegembiraan, mau mendengarkan, keterlibatan dalam sejarah keuskupan, dan banyak karakter dan potensi lainnya akan menyuburkan perkembangan Keuskupan Bandung di tengah masyarakat Jawa Barat. GBU. Amin.

(Sumber: http://www.mirifica.net/2014/06/04/lebih-dekat-dengan-uskup-bandung-mgr-dr-antonius-subianto-bunyamin-osc/)

Surat Gembala KWI Menyambut Pemilihan Presiden 9 Juli 2014

Mgr Ignatius Suharyo (kiri) dan Mgr Johanes Pujasumarta (kanan).
PILIHLAH SECARA BERTANGGUNGJAWAB, BERLANDASKAN SUARA HATI
Segenap Umat Katolik Indonesia yang terkasih,
Kita bersyukur karena salah satu tahap penting dalam Pemilihan Umum 2014 yaitu pemilihan anggota legislatif telah selesai dengan aman. Kita akan memasuki tahap berikutnya yang sangat penting dan menentukan perjalanan bangsa kita ke depan. Pada tanggal 9 Juli 2014 kita akan kembali memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin bangsa kita selama lima tahun ke depan. Marilah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden ini kita jadikan kesempatan untuk memperkokoh bangunan demokrasi serta sarana bagi kita untuk ambil bagian dalam membangun dan mengembangkan negeri tercinta kita agar menjadi damai dan sejahtera sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangsa kita.

Ke depan bangsa kita akan menghadapi tantangan-tantangan berat yang harus diatasi di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden yang baru, misalnya masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial, pendidikan, pengangguran, tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Masalah dan tantangan lain yang tidak kalah penting adalah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, kerusakan lingkungan hidup dan upaya untuk mengembangkan sikap toleran,  inklusif dan plural demi terciptanya suasana rukun dan damai dalam masyarakat. Tantangan-tantangan yang berat ini harus diatasi dengan sekuat tenaga dan tanpa henti. Kita semua berharap semoga di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden yang akan terpilih, bangsa Indonesia mampu menghadapi, mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah itu.

Kami mendorong agar pada saat pemilihan mendatang umat memilih sosok yang mempunyai integritas moral. Kita perlu mengetahui rekam jejak para calon Presiden dan Wakil Presiden, khususnya mengamati apakah mereka sungguh-sungguh mempunyai watak pemimpin yang melayani dan yang memperjuangkan nilai-nilai sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja: menghormati kehidupan dan martabat manusia, memperjuangkan kebaikan bersama, mendorong dan menghayati semangat solidaritas dan subsidiaritas serta memberi perhatian lebih kepada warga negara yang kurang beruntung. Kita sungguh mengharapkan pemimpin yang gigih memelihara, mempertahankan dan mengamalkan Pancasila. Oleh karena itu kenalilah sungguh-sungguh para calon sebelum menjatuhkan pilihan.

Agar pemilihan Presiden dan Wakil Presiden bisa berjalan dengan langsung, umum, bebas dan rahasia serta berkualitas, kita harus mau terlibat. Oleh karena itu kalau saudara dan saudari memiliki kesempatan dan kemampuan, sungguh mulia jika Anda bersedia ikut menjaga agar tidak terjadi kecurangan pada tahap-tahap pemilihan. Hal ini perlu kita lakukan melulu sebagai wujud tanggungjawab kita, bukan karena tidak percaya kepada kinerja penyelenggara Pemilu.

Kami juga menghimbau agar umat katolik yang terlibat dalam kampanye mengusahakan agar kampanye berjalan dengan santun dan beretika, tidak menggunakan kampanye hitam dan tidak menggunakan isu-isu  SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Khususnya kami berharap agar media massa menjalankan jurnalisme damai dan berimbang. Pemberitaan media massa hendaknya mendukung terciptanya damai, kerukunan serta persaudaraan, mencerdaskan dan tidak melakukan penyesatan terhadap publik, sebaliknya menjadi corong kebaikan dan kebenaran.

Marilah kita berupaya sungguh-sungguh untuk mempertimbangkan dan menentukan pilihan dengan hati dan pikiran yang jernih. Konferensi Waligereja Indonesia menyerukan agar saudara-saudari menggunakan hak untuk memilih dan jangan tidak ikut memilih. Hendaknya pilihan Anda tidak dipengaruhi oleh uang atau imbalan-imbalan lainnya. Sikap demikian merupakan perwujudan ajaran Gereja yang menyatakan, “Hendaknya semua warga negara menyadari hak maupun kewajibannya untuk secara bebas menggunakan hak suara mereka guna meningkatkan kesejahteraan umum” (Gaudium et Spes 75).

Pada akhirnya, marilah kita dukung dan kita berikan loyalitas kita kepada siapa pun yang akan terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014 – 2019. Segala perbedaan pendapat dan pilihan politik, hendaknya berhenti saat Presiden dan Wakil Presiden terpilih dilantik pada bulan Oktober 2014. Kita menempatkan diri sebagai warga negara yang baik, menjadi seratus prosen Katolik dan seratus prosen Indonesia, karena kita adalah bagian sepenuhnya dari bangsa kita, yang ingin menyatu dalam kegembiraan dan harapan, dalam keprihatinan dan kecemasan bangsa kita (bdk. Gaudium et Spes 1).

Marilah kita mengiringi proses pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dengan memohon berkat dari Tuhan, agar semua berlangsung dengan damai serta berkualitas dan dengan demikian terpilihlah pemimpin yang tepat bagi bangsa Indonesia. Semoga Bunda Maria, Ibu segala bangsa, senantiasa melindungi bangsa dan negara kita dengan doa-doanya.

Jakarta, 26 Mei 2014

P R E S I D I U M  KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,

Mgr Ignatius Suharyo – K e t u a

Mgr Johanes Pujasumarta – Sekretaris Jenderal

(Sumber: mirifica.net)



Rabu, 04 Desember 2013

Pesan Natal Bersama PGI dan KWI Tahun 2013

Ketua KWI, Mgr I. Suharyo (Kiri) & Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. A.A. Yewangoe (Kanan)
Foto: Ist
PESAN NATAL BERSAMA
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) TAHUN 2013

Datanglah, ya Raja Damai” (Bdk. Yes. 9:5)

Saudara-saudari terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia,

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

1. Kita kembali merayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus Kristus Sang Juruselamat dunia. Perayaan kedatangan-Nya selalu menghadirkan kehangatan dan pengharapan Natal bagi segenap umat manusia, khususnya bagi umat Kristiani di Indonesia. Dalam peringatan ini kita menghayati kembali peristiwa kelahiran Yesus Kristus yang diwartakan oleh para Malaikat dengan gegap gempita kepada para gembala di padang Efrata, komunitas sederhana dan terpinggirkan pada jamannya (bdk. Luk. 2:8-12). Selayaknya, penyampaian kabar gembira itu tetap menggema dalam kehidupan kita sampai saat ini, dalam keadaan apapun dan dalam situasi bagaimanapun.

Tema Natal bersama PGI dan KWI kali ini diilhami suatu ayat dalam Kitab Nabi Yesaya 9:5 “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita; seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang; Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”. Kekuatan pesan sang nabi tentang kedatangan Mesias dibuktikan dari empat gelar yang dijabarkan dalam nubuat tersebut, yaitu: 1). Mesias disebut “Penasihat ajaib”, karena Dia sendiri akan menjadi keajaiban adikodrati yang membawakan hikmat sempurna dan karenanya, menyingkapkan rencana keselamatan yang sempurna. 2). Dia digelari “Allah yang perkasa”, karena dalam DiriNya seluruh kepenuhan ke-Allah-an akan berdiam secara jasmaniah (bdk. Kol. 2:9, bdk. Yoh. 1:1.14). 3). Disebut “Bapa yang kekal” karena Mesias datang bukan hanya memperkenalkan Bapa Sorgawi, tetapi Ia sendiri akan bertindak terhadap umat-Nya secara kekal bagaikan seorang Bapa yang penuh dengan belas kasihan, melindungi dan memenuhi kebutuhan anak-anak-Nya (Bdk. Mzm. 103:3). 4). Raja Damai, karena pemerintahan-Nya akan membawa damai bagi umat manusia melalui pembebasan dari dosa dan kematian (bdk. Rm. 5:1; 8:2).

2. Seiring dengan semangat dan tema Natal tahun ini, kita menyadari bahwa Natal kali ini tetap masih kita rayakan dalam suasana keprihatinan untuk beberapa situasi dan kondisi bangsa kita. Kita bersyukur bahwa Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan beragama. Namun, dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara, kita masih merasakan adanya tindakan-tindakan intoleran yang mengancam kerukunan, dengan dihembuskannya isu mayoritas dan minoritas di tengah-tengah masyarakat oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan kekuasaan. Tindakan intoleran ini secara sistematis hadir dalam berbagai bentuknya. Selain itu, di depan mata kita juga tampak perusakan alam melalui cara-cara hidup keseharian yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan seperti kurang peduli terhadap sampah, polusi, dan lingkungan hijau, maupun dalam bentuk eksploitasi besar-besaran terhadap alam melalui proyek-proyek yang merusak lingkungan. Hal yang juga masih terus mencemaskan kita adalah kejahatan korupsi yang semakin menggurita. Usaha pemberantasan sudah dilakukan dengan tegas dan tak pandang bulu, tetapi tindakan korupsi yang meliputi perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar masih terus terjadi. Hal lain yang juga memprihatinkan adalah lemahnya integritas para pemimpin bangsa. Bahkan dapat dikatakan bahwa integritas moral para pemimpin bangsa ini kian hari kian merosot. Disiplin, kinerja, komitmen dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat digerus oleh kepentingan politik kekuasaan. Namun demikian, kita bersyukur karena Tuhan masih menghadirkan beberapa figur pemimpin yang patut dijadikan teladan. Kenyataan ini memberi secercah kesegaran di tengah dahaga dan kecewa rakyat atas realitas kepemimpinan yang ada di depan mata.

3. Karena itu, Gema tema Natal 2013 “Datanglah, Ya raja Damai” menjadi sangat relevan. Nubuat Nabi Yesaya sungguh memiliki kekuatan dalam ungkapannya. Seruan ini mengungkapkan sebuah doa permohonan dan sekaligus harapan akan datangnya sang pembawa damai dan penegak keadilan (bdk. “Penasihat Ajaib”).

Doa ini dikumandangkan berangkat dari kesadaran bahwa dalam situasi apapun, pada akhirnya “Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal,” Dialah yang memiliki otoritas atas dunia ciptaan-Nya. Dengan demikian, semangat Natal adalah semangat merefleksikan kembali arti Kristus yang sudah lahir bagi kita, yang telah menyatakan karya keadilan dan perdamaian dunia, dan karenanya pada saat yang sama, umat berkomitmen untuk mewujudkan kembali karya itu, yaitu karya perdamaian di tengah konteks kita. Tema ini sekaligus mengacu pada pengharapan akan kehidupan kekal melalui kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai Hakim yang Adil. Semangat tema ini sejalan dengan tekad Gereja-gereja sedunia yang ingin menegakkan keadilan, sebab kedamaian sejati tidak akan menjadi nyata tanpa penegakan keadilan.

Karena itu, dalam pesan Natal bersama kami tahun ini, kami hendak menggarisbawahi semangat kedatangan Kristus tersebut dengan sekali lagi mendorong Gereja-gereja dan seluruh umat Kristiani di Indonesia untuk tidak jemu-jemu menjadi agen-agen pembawa damai dimana pun berada dan berkarya. Hal itu dapat kita wujudkan antara lain dengan:

Terus mendukung upaya-upaya penegakkan keadilan, baik di lingkungan kita maupun dalam lingkup yang lebih luas. Hendaklah kita menjadi pribadi-pribadi yang adil dan bertanggung jawab, baik dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, gereja, masyarakat dan dimana pun Allah mempercayakan diri kita berkarya. Penegakkan keadilan, niscaya diikuti oleh sikap hidup yang berintegritas, disiplin, jujur dan cinta damai.
   
Terus memberi perhatian serius terhadap upaya-upaya pemeliharaan, pelestarian dan pemulihan lingkungan. Mulailah dari sikap diri yang peduli terhadap kebersihan dan keindahan alam di sekitar kita, penghematan pemakaian sumber daya yang tidak terbarukan, serta bersikap kritis terhadap berbagai bentuk kegiatan yang bertolak belakang dengan semangat pelestarian lingkungan. Dengan demikian kita juga berperan dalam memberikan keadilan dan perdamaian terhadap lingkungan serta generasi penerus kita.
   
Semangat cinta damai dan hidup rukun menjadi dasar yang kokoh dan modal yang sangat penting untuk menghadapi agenda besar bangsa kita, yaitu Pemilu legislatif maupun Pemilu Presiden-Wakil Presiden tahun 2014 yang akan datang.

Saudara-saudara terkasih,
Marilah kita menyambut kedatangan-Nya sambil terus mendaraskan doa Santo Fransiskus dari Asisi ini:

Tuhan, Jadikanlah aku pembawa damai,

Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih

Bila terjadi penghinaan jadikanlah aku pembawa pengampunan

Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan

Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian

Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran

Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,

Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,

Tuhan semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,

Memahami dari pada dipahami, mencintai dari pada dicintai,

Sebab dengan memberi aku menerima

Dengan mengampuni aku diampuni

Dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.

Amin



SELAMAT NATAL 2013 DAN TAHUN BARU 2014



Jakarta, 18 November 2013



Atas nama

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI),  KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI),

Pdt. Dr. A.A. Yewangoe                                           Mgr. I. Suharyo

Ketua Umum                                                                Ketua





Pdt. Gomar Gultom                                                  Mgr. J.M. Pujasumarta

Sekretaris Umum                                                         Sekretaris Jendral


(Sumber: http://www.mirifica.net)

Rabu, 27 November 2013

Sidang KWI: Perangi Narkoba dan Ikut Pemilu!

Penutupan Sidang: Mgr Aloysius Sudarso SCJ menyampaikan pesan para uskup dalam perayaan Ekaristi penutupan Sidang KWI di Gereja Paroki Kristus Raja Pejompongan. - See more at: http://www.hidupkatolik.com/2013/11/25/sidang-kwi-perangi-narkoba-dan-ikut-pemilu#sthash.N64mVL6Q.dpuf
Mgr Aloysius Sudarso SCJ menyampaikan pesan para uskup dalam perayaan Ekaristi penutupan Sidang KWI di Gereja Paroki Kristus Raja

Senin, 25 November 2013 17:26 WIB 
HIDUPKATOLIK.com - Para uskup menutup agenda sidang tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dengan mengajak umat untuk memerangi narkoba dan terlibat aktif dalam Pemilu 2014.

Sidang KWI 2013 yang mengambil tema Gereja Menyikapi Agenda Politik Bangsa dan Masalah Kejahatan Narkoba ditutup dengan perayaan Ekaristi di Gereja Paroki Kristus Raja Pejompongan, Kamis malam, 14/11. Ekaristi dipimpin Ketua Presidium KWI Mgr Ignatius Suharyo.

Uskup Agung Palembang Mgr Aloysius Sudarso SCJ yang didapuk berkotbah, menyampaikan dua pesan bagi umat Katolik di Indonesia. Pertama, para uskup mengajak umat untuk memerangi peredaran narkotika dan obatobatan berbahaya (narkoba) yang sudah merusak sendisendi kehidupan bangsa. Selain itu, para uskup juga meminta umat agar turut memberi perhatian kepada panti rehabilitasi narkoba. “Dalam kasus narkoba yang paling dirugikan adalah korban. Maka berilah perhatian khusus terhadap panti rehabilitasi. Kita semua harus ikut terlibat!” kata Mgr Sudarso.

Kedua, menjelang Pemilu 2014, kata Mgr Sudarso, para uskup mengimbau agar umat Katolik terlibat aktif dalam Pemilu. Para uskup berharap, umat Katolik menjatuhkan pilihan secara cerdas. “Pilihlah calon yang memperhatikan dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Untuk menegaskan pesan itu, para uskup mengeluarkan Surat Gembala menyambut Pemilu 2014 berjudul Jadilah Pemilih Cerdas Dengan Berpegang Pada Hati Nurani. Surat Gembala ini akan dikeluarkan pada awal tahun 2014. Selain itu, para uskup juga menulis Surat Gembala bertajuk Jadilah Pembela Kehidupan, Lawanlah Penyalahgunaan Narkoba. Bersama dengan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), para uskup mengeluarkan Pesan Natal Bersama 2013: Datanglah, ya, Raja Damai.

Peduli Seminari
Di sela-sela sidang tahunan KWI, sebanyak 25 uskup mengikuti perayaan Ekaristi yang diadakan Gerakan Orang Tua Asuh untuk Seminari (Gotaus) di Gereja Paroki Kristus Salvator Slipi, Jakarta Barat, Minggu, 10/11. Acara ini rutin digelar untuk menggalang dana bagi pendidikan para calon imam di seminari-seminari. Perayaan Ekaristi dipimpin Uskup Tanjungkarang Mgr Yohanes Harun Yuwono.

Uskup yang baru pertama kali mengikuti sidang para uskup ini mengucapkan terima kasih kepada umat yang telah memberikan bantuan serta perhatian kepada pendidikan di Seminari. “Para uskup memang tidak memiliki anak, maka berikan dan doronglah anak bapak dan ibu untuk kami didik menjadi imam,” ujar Mgr Harun.

Aprianita Ganadi
Laporan: Ag. Suprimanto/Yanuari Marwanto