Translate

Tampilkan postingan dengan label Serba-Serbi Natal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-Serbi Natal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Desember 2013

Nama Lain Santa Klaus di Beberapa Negara

Sosok Santa Claus (Duduk)

Sosok Santa Klaus yang baik hati mulai sangat populer karena kebaikan hatinya yang gemar berbagi kue dan permen saat Natal. Tak heran jika Natal sangat identik dengan Natal. Kakek gendut berjanggut panjang ini diyakini sebagai penggambaran kebaikan hati yang terilhami oleh Santo Nicholas. 

Santo Nicholas memang dikenal gemar berbagi pada sesama yang membutuhkan. Semangat saling memberi untuk menebar kebahagiaan inilah yang membuat sosok Santa Klaus ini jadi panutan anak-anak.

Namun, uniknya semua anak-anak di seluruh dunia punya panggilannya sendiri untuk Santa Klaus. Berikut beberapa negara yang punya panggilan unik untuknya

1. La Befana (Italia) 
La Befana di Italia
Anak-anak Italia tidak mengenal adanya Santa Klaus, namun mereka mengenal sosok La Befana. Sosok ini sebenarnya mirip sosok nenek sihir lengkap dengan sapu terbangnya. Namun sama seperti Santa Klaus, La Befana juga akan memberikan hadiah pada anak-anak di Italia. Jika mereka berbuat baik maka La Befana akan memberikan hadiah dalam kaus kaki yang digantung dekat cerobong asap. Tetapi jika anak-anak nakal, ia akan mengisi kaus kaki anak-anak dengan sebongkah arang. 

2. Papa Noel (Spanyol) 
Di Spanyol, Santa Klaus disebut sebagai Papa Noel.Namun berbeda dengan cerita kebanyakan, Papa Noel tidak akan membawakan mainan untuk anak-anak. Namun, di beberapa daerah di Spanyol, anak-anak diberitahu jika mereka nakal maka Papa Noel akan membawa mereka pergi.

Sedangkan sosok pembawa hadiah Natal dari Spanyol adalah Tiga orang Majus atau yang dikenal dengan Los Tres Reyes Magos. Dan hari ini dirayakan pada Three Kings Day (6 Januari). 

3. Joulupukki (Finlandia)
Joulupukki di Finlandia
Karena janggutnya yang panjang dan putih, warga Finlandia memanggil Santa Klaus dengan sebutan Joulupukki. Nama ini berarti domba Natal. Ketika akan membagikan hadiah, Joulupukki akan mengetuk pintu setiap rumah sambil berkata "Onko taalla kiltteja lapsia?" yang berarti "Adakah anak baik di sini?" 

4. Hoteiosho (Jepang) 
Sosok Santa Klaus yang satu ini memang berasal dari Jepang. Namun jangan bayangkan Santa Jepang ini sama seperti Santa Klaus kebanyakan. Hoteiosho sebenarnya adalah seorang pendeta yang baik hati. Dia selalu digambarkan sebagai seorang pria tua yang membawa sebuah kantung besar di punggungnya seperti Santa Klaus. Ia diperkirakan memiliki mata di belakang kepalanya, agar bisa melihat kelakuan anak baik dan anak nakal. 

5. Dun Che Lao Ren (China) 
 Di China, Santa Klaus disebut dengan Dun Che Lao Ren yang berarti kakek Natal. Dun Che Lao Ren ini akan datang dan mengisi kaus kaki Natal yang digantung dengan aneka hadiah.

Sosok kakek ini sedikit berbeda, karena sang kakek Natal ini menggunakan baju merah bergaya Shanghai lengkap dengan topi tradisional dan motif busana khas China. Dan yang uniknya, Santa Klaus ini juga digambarkan sebagai sosok kakek asli China dengan matanya yang sipit.(Sumber: dari berbagai sumber/www.kompas.com)






Jumat, 13 Desember 2013

5 Keunikan Perayaan Natal di Indonesia


DESEMBER adalah bulan yang berbahagia bagi semua orang karena bulan terakhir dalam hitungan masehi, dan banyaknya toko-toko yang menyelenggarakan diskon. Namun khususnya umat Kristiani, Desember adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus, sebuah hari raya besar yang memiliki kesan berbeda setiap tahunnya. Di Indonesia yang penganut agama Kristen-nya cukup signifikan, dan dengan kemajemukan budaya dan suku, menjadikan perayaan Natal berbeda-beda di satu kota ke kota lainnya. Berikut 5 keunikan perayaan Natal di Indonesia:

 
1. Rabo-Rabo
Rabo-Rabo (Foto-Foto: Ist)

Di Jakarta ada Kampung Tugu. Dikenal sebagai tempat komunitas warga keturunan Portugis bermukim. Di Kampung Tugu ada tradisi unik dalam merayakan Natal, yakni setelah kebaktian warga berziarah ke kuburan yang terletak di samping gereja. Kemudian mereka menjalankan tradisi ‘Rabo-Rabo’, yaitu bermain musik keroncong dan menari bersama sambil keliling kampung untuk mengunjungi sanak keluarga. Setiap penghuni rumah yang habis dikunjungi wajib mengikuti rombongan pemain keroncong sampai ke rumah terakhir. Puncak perayaan terdapat dalam tradisi ‘mandi-mandi’. Warga berkumpul di rumah sanak familinya, lalu mereka dengan serunya saling mencoret-coret muka satu sama lain dengan bedak putih sebagai simbol membersihkan kesalahan yang lalu menjelang tahun baru.

2. Wayang kulit
Wayang Kulit

Di Yogyakarta, perayaan Natal penuh dengan nuansa budaya. Biasanya pendeta memimpin ibadah dengan memakai baju beskap dan blangkon, memakai bahasa Jawa halus, lengkap dengan pertunjukan wayang kulit bertema “Kelahiran Kristus”. Di sana juga ada tradisi saling mengunjungi pada tanggal 25 Desember seperti seperti Lebaran. Tidak jarang anak-anak juga mendapat angpau pada saat silaturahmi.

3. Kunci Taon
Perayaan Natal di Manado diadakan sejak 1 Desember dengan ibadah pra-Natal yang dilaksanakan tiap hari sampai Natal tiba. Sayuran paling dicari menjelang Natal di sini adalah buncis. Banyak juga keluarga yang memiliki tradisi menjenguk kuburan kerabatnya dan makan
Kunci Taon
bersama di sana, biasanya menjelang tahun baru. Pada momen itu, kuburan sekalian dibersihkan dan terkadang ditambahi lampu hiasan. Rangkaian kemeriahan Natal ini berakhir pada Minggu pertama Januari dengan tradisi kunci taon, di mana warga pawai keliling kampung dengan kostum-kostum lucu.

4. Meriam Bambu (Indonesia Timur)
Di Flores, Natal identik dengan meriam bambu yang diledakkan nyaris di tiap sudut kota pada malam Natal. Anak muda biasa begadang semalaman pada 24 Desember sambil sesekali main kembang api. Di Ambon, Natal diwarnai bunyi sirine kapal dan lonceng gereja yang dibunyikan serentak pada tengah malam 24 Desember. Momen ini juga identik dengan pertemuan keluarga besar.Tradisi unik lainnya ada di Papua. Warga Papua memiliki tradisi pesta barapen atau bakar batu, yakni sebuah ritual kuliner lokal untuk mengolah babi sebagai ungkapan kebahagiaan Natal. Selain itu, di banyak tempat dipasang dekorasi bertema kelahiran Yesus, lengkap dengan lagu-lagu Natal yang diputar 24 jam.
 
 
Marbinda
5. Marbinda
Masyarakat Batak di Sumatera Utara mengenal tradisi bernama ‘Marbinda’. Yaitu, tradisi menyembelih seekor hewan bersama-sama di hari raya. Hewan yang disembelih merupakan hasil kesepakatan menabung bersama antara beberapa orang, dari beberapa bulan sebelumnya. Jika jumlah peserta patungan banyak, hewan yang disembelih bisa kerbau. Akan tetapi, jika sedikit biasanya hanya babi. Pada hari-H, mereka melakukan marhobas (pemotongan dan pembagian bersama) hewan tersebut.(Sumber: Dari berbagai sumber & www.uniknya.com)

Sabtu, 07 Desember 2013

Toleransi di Manado, Perempuan Berjilbab Ikut Parade Santa Klaus

Warga non Kristiani di Kota Manado ikut memeriahkan Parade Santa dalam acara Christmas on The Boulevard. (Foto: Kompas.com)
MANADO - Kerukunan umat beragama di Sulawesi Utara, khususnya di Kota Manado, benar-benar patut dicontoh. Buktinya dalam parade Santa Klaus yang digelar untuk memeriahkan Christmas On The Boulevard terlihat beberapa warga non-kristiani ikut memeriahkan acara tersebut.

Mereka bahkan membaur menjadi peserta dengan berpakaian ala Santa Klaus.

“Kami senang melihat kebersamaan dan kerukunan ini. Sungguh unik melihat ada santa yang berjilbab. Ini bukti bahwa toleransi antarumat beragama di Kota Manado tetap terjaga,” ujar Christian, warga Wonasa yang datang menonton parade tersebut, Rabu (4/12/2013), seperti dilansir kompas.com.

Wali Kota Manado, Vicky Lumentut yang memberikan sambutan ketika melepas parade Santa tersebut juga menegaskan bahwa parade santa ini bukan hanya milik umat Kristiani, tetapi juga seluruh warga Manado, bahkan Sulut.

“Semoga kebersamaan ini bisa menjadi modal warga Manado dalam menyambut perayaan Natal dan Tahun Baru,” ujar Lumentut.

Parade Santa Klaus yang menyusuri jalan Boulevard sore tadi diikuti oleh ribuan warga Manado yang berpakaian ala Santa Klaus. Lebih dari seribu orang ala Santa Klaus berjalan kaki dan ratusan lainnya berada di atas kenderaan hias yang ikut berparade.

Parade itu sendiri diikuti berbagai komunitas masyarakat, swasta dan perwakilan pemerintah. Selain sering terlibat dalam berbagai event religi, kerukunan dan kebersamaan umat beragama di Sulut juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi tersebut tercermin dari terus terpeliharanya situasi keamanan yang kondusif.

(Sumber: www.kompas.com)

Jumat, 06 Desember 2013

Tradisi Natal Unik di Berbagai Negara

Tradisi Natal unik di berbagai negara yang perlu Anda ketahui. Berikut tradisi tersebut:

1. Alaska
Tradisi Natal di Alaska
Foto-Foto: Ist
Di Alaska, perayaan Natal dimulai setelah masyarakatnya merayakan Thanksgiving. Mereka memulai perayaan Natal dengan berkumpul di jalan-jalan utama kota dan menari-nari sambil menikmati liburan. Anak-anak akan membawa bintang Natal tradisional yang diikat di tiang sambil berkunjung dari rumah ke rumah lainnya. Di sini mereka akan menyanyikan lagu-lagu Natal di setiap rumah yang mereka datangi. Dari setiap rumah mereka akan diberi berbagai hadiah seperti kue, permen, Maple-Frosted Doughnut, salmon asap, dan sebuah kue ikan yang disebut Piruk. Perayaan Natal di Alaska ini akan berlanjut sampai Pesta Epiphany pada tanggal 6 Januari.

2. Argentina
Di negara ini, Natal berlangsung selama musim panas. Sehingga perayaan Natal tak lengkap tanpa BBQ dan kembang api. Keluarga besar akan berkumpul di malam Natal untuk sebuah pesta keluarga yang berlangsung sepanjang malam. Dan ketika tengah malam mereka akan mulai bertukar hadiah. Setelah malam Natal, anak-anak di Argentina juga akan menyambut kedatangan Tiga Raja dari Timur pada tanggal 6 Januari. Maka mereka akan meninggalkan sebuah baki kecil berisi permen dan mainan kecil di samping tempat tidur mereka.

3. Ethiopia


Tradisi Natal Ethiopia
Perayaan Natal di Ethiopia disebut dengan Ganna dan dirayakan pada tanggal 7 Januari. Selama kebaktian warga Ethiopia akan mendapatkan sebuah lilin menyala dan harus dibawa ke mengitari Gereja sebanyak tiga kali. Selama kebaktian, laki-laki dan perempuan harus berdiri terpisah selama tiga jam.

Selesai kebaktian, mereka akan mengadakan makan malam bersama dengan aneka makanan tradisional seperti Doro Wat, Sup Pedas, dan Injera yaitu sebuah roti Pancake yang diletakkan di wadah perak.

4. Finlandia
Saat Natal, warga Finlandia akan berkunjung ke rumah kerabatnya pada sore hari. Setelah berkunjung ke kerabat, mereka akan pergi ke pemakanan untuk mengingat kerabat yang sudah meninggal sambil menyalakan sebuah lilin di makan.

Anak-anak Finlandia sangat mengharapkan kedatangan Santa Klaus ke rumah mereka. Maka untuk menghiburnya, seorang pria akan menggunakan kostum Santa Klaus dan membawakan berbagai hadiah ke rumahnya. Setelah perayaan khusus Santa ini selesai, mereka akan makan malam bersama dengan makanan tradisional seperti ham asin, kentang, sayuran, biskuit dan roti. Dan perayaan Natal ini dilengkapi dengan pergi ke sauna bersama-sama.

5. Italia
Tradisi Hidangan Natal di Italia
Natal di keluarga Italia tidak akan lengkap tanpa adanya hiasan patung kayu bayi Yesus. Tradisi ini dikenal dengan nama Nativity. Setiap kali Natal, para pengrajin ukuran kayu pasti kebanjiran pesanan karena setiap keluarga dan Gereja akan memajang hiasan ini di sudut rumah atau Gereja.

Selain itu, warga Italia juga akan mengadakan sebuah pesta di malam Natal. Dalam pesta makan malam ini, mereka akan menghadirkan tujuh macam ikan yang dimasak dengan cara tradisional. Anak-anak juga akan menggantung kaus kaki mereka agar mendapatkan hadiah dari La Befana (Santa Klaus Italia).

6. Swedia
Jika saat Natal, anak-anak banyak menunggu kedatangan Santa Klaus, di Swedia anak-anak menunggu kehadirkan Santa Lucia. Santa Lucia merupakan Santa Pelindung Cahaya. Sehingga perayaan Natal di Swedia sudah dimulai sejak tanggal 13 Desember yang menjadi hari Santa Lucia menurut kalender Gereja. Perayaan ini dimulai saat putri sulung keluarga harus bangun lebih awal dan menggunakan sebuah gaun putih. Putri sulung ini harus melayani sarapan untuk orangtuanya. Di beberapa tempat ada juga prosesi lilin saat malam Natal.

7. Kanada
Warga Kanada punya tradisi yang dinamakan Mummering. Warga Kanada akan memakai kostum Natal dan mengetuk pintu rumah dan bertanya," Apakah ada Mummers di malam hari?" Setelah itu mereka akan menyanti dan menari di rumah orang tersebut. Karena sudah menyanyi dan menari, mereka bisa mendapatkan kue-kue Natal dan secangkir susu yang hangat sebelum pindah ke rumah berikutnya.

8. Costa Rica
Selama Natal, warga Costa Rica sangat suka menghias rumah mereka dengan bunga-bunga tropis yang indah atau buah-buahan. Seluruh keluarga akan membuat sebuah kandang Natal besar yang ditempatkan di tengah rumah.

9. Spanyol
Setelah kebaktian di malam Natal, warga Spanyol akan berjalan di jalan-jalan sambil membawa obor. Mereka akan bermain gitar, memukul rebana dan drum. Mereka akan terjaga sepanjang malam tanpa tidur. Hal ini dilakukan sesuai pepatah Spanyol, Esta noche es Noche Buena, Y no es noche de dormir. Pepatah ini berarti, malam Natal adalah malam yang baik sehingga sebaiknya Anda tidak tidur.

10. Jerman
Untuk merayakan Natal, warga Jerman akan membuat sebuah adonan putih yang disebut Christbaumgeback. Mereka akan menggunakan adonan ini untuk membuat berbagai bentuk yang lucu dan memanggangnya. Adonan aneka bentuk ini kemudian digunakan untuk menghias pohon Natal.

Di Indonesia, Natal dirayakan dengan berbagai cara, mulai dari bertukar kado sampai makan malam bersama keluarga. Akan tetapi pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana orang-orang di negara lain merayakan Natal? Biasanya, setelah pergi ke Gereja dan beribadah bersama, ada banyak tradisi keluarga maupun tradisi negara yang unik saat merayakan Natal.
(Sumber:http://female.kompas.com/read/2012/12/25/09525418/Tradisi.Natal.Unik.di.Berbagai.Negara)

Kamis, 05 Desember 2013

Sinterklas dan Perayaan Natal

Santa Claus
HIDUPKATOLIK.com - Perayaan Natal di banyak tempat seringkali diwarnai dengan kehadiran Sinterklas, dengan pakaian dan topinya yang khas, jenggot panjang serta membagi hadiah, khususnya untuk anak-anak. Apakah ada kaitan antara Sinterklas dan perayaan kelahiran Yesus? Apakah ada dasarnya dalam Kitab Suci?
Pertama, nama “Sinterklaas” berasal dari bahasa Belanda, yang dalam bahasa Inggris digunakan “Santa Claus” atau Santo Nicholas (dari Myra). Dia adalah seorang Uskup dari abad IV. Seringkali dipanggil juga Nicholas dari Bari (Itali). Legenda yang berkembang di negara-negara yang berbahasa Inggris, Santa Claus ini dikaitkan dengan tradisi pemberian hadiah rahasia dari orang tua untuk anak-anak yang dilakukan pada malam sebelum pesta Santa Claus pada tanggal 6 Desember.

Kedua, tradisi pemberian hadiah juga dirayakan di banyak tempat. Di Roma tradisi itu dikaitkan dengan perayaan Tahun Baru, sedangkan di tempat-tempat lain tradisi itu dilakukan pada Hari Natal atau Epifani, dengan meniru Tiga Raja yang membawa hadiah untuk Kanak-kanak Yesus. Di banyak negara Eropa, yang memberi hadiah justru Kanak-kanak Yesus. Di Italia, seorang wanita tua dari dongeng, Befana (dari kata Epifani) membagikan mainan kepada anak-anak pada tanggal 6 Januari, yaitu pesta Epifani. Di Spanyol, hadiah diberikan oleh Tiga Raja juga pada pesta Epifani.

Ketiga, kesamaan tradisi memberi hadiah itulah yang kemudian menyatukan antara “Sinterklas” dengan perayaan Natal. Kunjungan Sinterklas tidak lagi dilakukan pada malam sebelum pestanya (6 Desember), tetapi digeser ke malam Natal. Jadi, sebenarnya tidak ada kaitan asali antara Sinterklas dan perayaan Natal, karena itu tidak ada dasar biblis dari Sinterklas. Pemberian hadiah oleh Tiga Raja bisa menjadi dasar untuk pemberian hadiah pada waktu Natal. Kelahiran Sang Sabda menjadi manusia adalah pemberian terbesar Allah kepada manusia. Hadiah inilah yang kita rayakan. (Dr Petrus Maria Handoko CM)

(Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 2 Tanggal 8 Januari 2012)

Rabu, 04 Desember 2013

Mengapa Natal Jatuh Tanggal 25 Desember?

Yesus di palungan
Sebenarnya banyak kontroversi mengenai asal mula mengapa setiap tanggal 25 Desember dirayakan sebagai hari Natal karena tidak ada seorang pun yang mengetahu pasti kapan tanggal kelahiran Yesus sendiri yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember setiap tahunnya.

Bagaimanapun juga, sistem kalender yang kita gunakan saat ini disusun setelah Yesus lahir, Masehi. Tak heran kontroversi bermunculan. Salam satu kontroversi yang dikupas tuntas mengenai tanggal 25 Desember sebagai hari Natal ada di dalam buku yang sangat kontroversial Holy Blood and Holy Grail karangan tiga sekawan Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln. Buku ini sebenarnya sudah lama, tahun 1982 dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia tahun 2006 kamarin.

Tentu saja buku ini menjadi sangat kontroversial, mengingat isinya yang sangat bertolak belakang dari ajaran-ajaran Kristen yang selama ini. Buku ini juga menjadi salah satu acuan Dan Brown untuk mengarang bukunya yang sama kontroversialnya, da Vinci Code. 
 
Bagian yang membahas judul di atas berada di bagian BAB 13 Rahasia Terlarang. Disebutkan bahwa agama Kristen yang berkembang hingga sekarang merupakan usaha dari “golongan setia terhadap pesan” (adherents of the message). Saint Paul mengatakan, “pesan itu” mulai membentuk dan mengkristal, kemudian menjadi dasar berdirinya pendidikan teologi agama Kristen. Jadi agama baru ini sangat berorientasi Romawi, untuk kepentingan Romawi pada waktu itu dengan tujuan menghapuskan kesalahan Roma kepada Yahudi atas kematian Yesus di kayu salib.

Dalam buku ini dijelaskan bagaimana jemaat Romawi akhirnya dapat menyesuaikan diri dengan ajaran agama baru itu dengan mendewakan Yesus dan menjadikan bangsa Yahudi sebagai kambing hitam, sehingga penyebaran Kristen Ortodoks yang dikenal sekarang berhasil membumi.

Pada waktu itu, peristiwa kebangkitan Yesus yang ajaib dijadikan sebuah mitos untuk mempertahan ajaran Yesus sejajar dengan dewa-dewa hebat lainnnya yang sebelumnya di sembah oleh orang-orang Roma, seperti Tammuz, Adonis, Osiris, Attis, dan lain-lain yang mati kemudian bangkit kembali.

Kemudian sampai pada masa Konstantin. Konstantin sering sekali diberi penghargaan atas dukungannya terhadap orang-orang Kristen di Roma pada waktu itu sehingga populasinya semakin besar. Tetapi sebenarnya peran Konstantin dalam perkembangan agama Kristen telah dipalsukan. Konstantin tidak pernah berpindah (konversi) dari aliran Pagan ke Kristen, namun tetap si stasiun Pagan.

Ia mendapat pengalaman kudus dihalaman kuil Pagan Gallic Aplollo di Vosges atau di dekat Autum. Menurut saksi pada waktu itu, pengalaman kudus itu muncul dalam bentuk dewa matahari yang diberi nama Sol Invictus (Matahari yang tak terkalahkan).

Pemuja Sol Invictus adalah bangsa asli Suriah dan para kaisar Roma satu abad sebelum pemerintahan Konstantin. Kristen Ortodoks memiliki banyak kesamaan dengan pemujaan Sol Invictus. Dengan sebuah dekrit penyebaran tahun 321 M, Konstantin memerintahkan pengadilan hukum tutup pada hari “pemujaan matahari”, dan memutuskan hari itu dijadikan sebagai hari istirahat (hari libur).

Sebelumnya,umat Kristen merayakan hari sabat bangsa Yahudi–Saturday (Sabtu) sebagai hari suci. Sekarang sesuai dengan dekrit Konstantin, hari suci itu diganti menjadi Sunday (Hari Matahari, hari Minggu). Dengan demikian, orang Kristen mengganti hari istirahat mereka dari Sabtu menjadi Minggu.

Hingga abad ke-4, hari ulang tahun Yesus dirayakan pada tanggal 6 Januari. Bagi pemuja Sol Invictus, hari penting mereka adalah 25 Desember yang merupakan hari perayaan Natalis Invictus (kelahiran kembali matahari). Kemudian agama Kristen menyatukan diri dengan pemerintah dan menentukannya sebagai agama negara. Itulah yang membuat Konstantin terkenal sebagai raja Roma yang mengubah kerajaan Romawi dari penyembah berhala menjadi kerajaan Kristen.

Sejak saat itu dan sampai sekarang, 2000 tahun kemudian, hari Minggu dijadikan hari libur untuk beristirahat dan tanggal 25 Desember dijadikan sebagai peringatan lahirnya Yesus.

Diluar dari berbagai kontroversi mengenai tanggal dan asal mula hari Natal, sebagai orang yang mengimani iman Kristen tidak perlu ambil pusing dengan banyaknya informasi seperti ini. Melalui iman kita percaya bahwa Yesus selalu lahir setiap hari bahkan setiap detik di hati kita, dalam setiap jengkal hidup kita.

Selamat memyambut hari Natal!!!

(Oleh: Ferry Silitonga--Kompasiana. Dikutip dari Buku Holy Blood, Holy Grail karya Michael Baigent, Richard Leigh, dan Henry Lincoln).


Senin, 02 Desember 2013

Kompaknya Ibu-Ibu St. Stefanus Membuat Korona Adven



  
Memotong daun Cemara
Foto-Foto: Endang/Farida Denura
VERONICA Lucy IK, warga Komunitas Umat Basis (KUB) A Wilayah St Stefanus ditunjuk sebagai Koordinator Lomba Membuat Korona Adven.

Sebelum lomba digelar pada Sabtu, 30 November 2013, pukul 10.00 wib, Lucy melalui WhatssApp Group, BBM Group telah mensosialisasikan kegiatan tersebut lengkap dengan contoh foto-foto Korona Adven.
  
Di salah satu pesannya, Lucy menginfokan dirinya membutuhkan tim sebanyak 5 orang. Selain itu jika ada yang punya pohon Cemara, imbuh Lucy dalam pesan tersebut, mohon disumbangkan sedikit daun-daun segarnya. Dan, bagi yang punya ide kreatif  serta mau berpartisipasi juga terbuka kesempatan.
   
Apa yang diinfokan, dihimbau Lucy rupanya direspon baik warga Stefanus, khususnya Ibu-Ibu. Maria Puji Astuti langsung merespon,”Saya bantu Bu Lucy. Jadi harus siap di Gereja jam berapa. Trus bawa apa aja Bu? 

Kompak merangkai Korona
Ibu-ibu tidak hanya menyatakan siap mengikuti lomba, namun juga menawarkan apa saja yang harus dibawa.

“Oke Mba Lucy, pake kaus Stefanus ya. Sip Mba Lucy, alat apalagi yang harus dibawa. Tali rafia ya Mba Lucy,”tanya Endang.
   
Ketika Lucy merinci peralatan yang dibutuhkan adalah gunting, palu, paku ukuran sedang, tali dan pita, Maria Puji Astuti langsung merespon dengan bertanya, “Pita warna apa Bu? Pita kain atau plastik? Tali rafia, senar, atau kawat? Lalu dijawab Lucy,”Pita kain merah atau hijau yang ukuran besar dan tali kawat. Terima kasih lho...” Dan, Maria Puji Astuti pun menjawab singkat,”Okay deh”.
   
Tambah Endang lagi dalam percakapan di WhatssApp Group KUB A,”Siap Mba Lucy, kalo kurang kita beli di toko sebelum masuk stasiun ya Mba”.
   
Ketua KUB A semangati mereka
Tepat pada Sabtu, 30 Desember 2013, pukul 09.00 Wib ibu-ibu pun berkumpul di ruang Roma, Gereja Lama Paroki St. Paulus Depok. Ada Veronica Lucy IK sekeluarga, Santi Nugroho  sekeluarga, Endang Rosalina Jempormasse beserta putrinya Rini, Maria Puji Astuti, Merry Martens yang harus hilir mudik membantu wilayah Stefanus sekaligus mengkoordinir BIA dan BIR, serta Elven Rajalewa dan Farida Denura selaku Ketua KUB A dan Sekretaris KUB A.

Ibu-ibu tampak kompak dalam merangkai Korona Adven. Mulai dari memasang kawat di lingkaran hingga melilitkan kain di sekeliling Cemara, menambah aksesoris pada Korona serta melilitkan kain di lilin.
   
Elven Rajalewa pun tak mau hanya jadi penonton. Elven menawarkan jasa untuk membelikan perlengkapan mendekorasi Korona. Elven kemudian diminta bantuan Ibu-Ibu untuk membelikan lilin putih dan ungu. Elven dengan sigap langsung melaju dengan motornya menuju TB Metanoia, Dmall, Depok  membelikan permintaan Ibu-Ibu.
   
Sementara untuk melepas dahaga Endang pun tak kalah sigap membelikan minuman dan snack untuk ibu-ibu yang berpartisipasi siang itu. 
   
Foto bersama di depan karya mereka
Dukungan Bapak-Bapak yang hadir pada lomba tersebut menambah semangat Ibu-Ibu merangkai dan mendekorasi Korona Adven tersebut. Akhirnya, dekorasi pun selesai sebelum batas waktu yang ditetapkan panitia.
   
Usai mendekor Ibu-Ibu pun ingin mengabadikan karyanya melalui sesi foto bersama. Wajah mereka tampak bahagia, senyum sumringah dengan karya mereka siang itu. Mereka pun tampak setia menunggu penjurian dan pengumuman pemenang meski semuanya belum makan siang.
   
Dukungan moril tetap saja diberikan Ketua Wilayah St Stefanus, Thomas Tommy Hendrasmoro. Tommy begitu dia dipanggil, memantau kegiatan lewat telepon, sms, dan men-support ibu-ibu. Luar biasa kekompakan yang ditampilkan Ibu-Ibu wilayah Stefanus pagi hingga siang akhir pekan kemarin.

Peserta dari kegiatan non liturgi  menyambut Natal 2013 ini terdiri dari Wilayah, Kelompok Kategorial (BIA,BIR, OMK, dan lain-lain). Kriteria kegiatan lomba adalah bahan dasar-utama dari daun Cemara asli, dan daun Pinus. Semua bahan hiasan disiapkan oleh masing-masing peserta. Diameter korona 40 cm-60 cm. Dan 1 team terdiri dari maksimal 5-6 orang.
   
Koordinator Lomba, Veronica Lucy IK
Penilaian diputuskan oleh Dewn Juri dan keputusan Dewan Juri mutlak. Dewan Juri terdiri dari unsur Romo, Suster, dan umat lain yang ditentukan panitia. Ketentuan hasil lomba menjadi hak milik panitia untuk digunakan sebagai hiasan di gereja selama masa Adven. Dan, pemenang akan mendapatkan piagam dan hadiah dan Korona akan ditempatkan pada lokasi-lokasi strategis sebagai hiasan gereja.

Kegiatan tersebut diikuti 11 Wilayah yaitu St Alfonsus, St. Agustinus, St Ignatius Loyola, St Christophorus, St. Elizabeth, St Fransiskus Asisi, St Maria Magdalena, St Antonius Padua, St Thomas Aquinas, St Sisilia, dan St Stefanus.
 
Hasil lomba, akhirnya memunculkan sang juara. The Winner is...Wilayah St Antonius Padua sebagai Sang Juara 1.
   
Meski tidak juara dalam perlombaan tersebut, terpenting bagi Ibu-Ibu di Wilayah St Stefanus adalah kekompakan, tim yang solid serta kepedulian.

Maju terus, pantang mundur Ibu-Ibu.. Desember adalah hari milik ibu-ibu maka semangat terus.... Terima kasih Bu Lucy, sang Koordinator. Terima kasih Ibu-Ibu yang lain dan Bapak-Bapak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. (Farida Denura)

Minggu, 01 Desember 2013

Makna Pohon Natal

Cemara Natal
Kebiasaan memasang pohon Natal sebagai dekorasi dimulai dari Jerman. Pemasangan pohon Natal yang umumnya dari pohon cemara, atau mengadaptasi bentuk pohon cemara, itu dimulai pada abad ke-16.

Saat penduduk Jerman menyebar ke berbagai wilayah termasuk Amerika, mereka pun kerap memasang cemara yang tergolong pohon evergreen untuk dekorasi Natal di dalam rumah. Dari catatan yang ada, orang Jerman di Pennsylvania Amerika Serikat memajang pohon Natal untuk pertama kalinya pada tahun 1830-an.

Pohon Natal bukanlah suatu keharusan di gereja maupun dirumah sebab ini hanya merupakan simbol agar kehidupan rohani kita selalu bertumbuh dan menjadi saksi yang indah bagi orang lain "evergreen". Pohon Natal (cemara) ini juga melambangkan "hidup kekal", sebab pada umumnya di musim salju hampir semua pohon rontok daunnya, kecuali pohon cemara selalu hijau daunnya.

Pemasangan pohon cemara, baik asli maupun yang terbuat dari plastik, di tengah kota atau di tempat-tempat umum pun menjadi pemandangan biasa menjelang Natal. Salah satu yang terbesar adalah pohon yang ada di Rockefeller Center di 5th Avenue New York Amerika Serikat.

Legenda
Ada beberapa legenda/cerita yang beredar di kalangan orang Kristen sendiri mengenai asal mula pohon natal.
  • Santo Bonifacius
Menurut sebuah legenda, rohaniawan Inggris bernama Santo Bonifasius yang memimpin beberapa gereja di Jerman dan Perancis dalam perjalanannya bertemu dengan sekelompok orang yang akan mempersembahkan seorang anak kepada dewa Thor di sebuah pohon ek. Untuk menghentikan perbuatan jahat mereka, secara ajaib Santo Bonifasius merobohkan pohon ek tersebut dengan pukulan tangannya. Setelah kejadian yang menakjubkan tersebut di tempat pohon ek yang roboh tumbuhlah sebuah pohon cemara.
  • Martin Luther dan Pohon Cemaranya
Cerita lain mengisahkan kejadian saat Martin Luther, tokoh Reformasi Gereja, sedang berjalan-jalan di hutan pada suatu malam. Terkesan dengan keindahan gemerlap jutaan bintang di angkasa yang sinarnya menembus cabang-cabang pohon cemara di hutan, Martin Luther menebang sebuah pohon cemara kecil dan membawanya pulang pada keluarganya di rumah. Untuk menciptakan gemerlap bintang seperti yang dilihatnya di hutan, Martin Luther memasang lilin-lilin pada tiap cabang pohon cemara tersebut.

Terlepas dari kebenaran kisah-kisah di atas, hingga hari ini pemasangan Pohon Natal masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan umat Kristen. Bagi orang-orang yang tidak berkenan dengan pohon Natal, mengisahkan bahwa pada zaman dahulu bangsa Romawi menggunakan pohon cemara untuk perayaan Saturnalia, mereka menghiasinya dengan hiasan-hiasan kecil dan topeng-topeng kecil, karena pada tgl 25 Desember ini adalah hari kelahiran dewa matahari, Mithras, yang asal mulanya dari Dewa Matahari Iran yang kemudian dipuja di Roma. Demikian pula hari Minggu adalah hari untuk menyembah dewa matahari sesuai dari arti kata Zondag, Sunday atau Sonntag. 

Perlu diketahui juga bahwa dewa-dewa matahari lainnya, seperti Osiris, dewa matahari orang Mesir, dilahirkan pada tanggal 27 Desember. Demikian pula Dewa matahari Horus dan Apollo lahir pada tanggal 28 Desember.

Maka dari itu ada aliran-aliran gereja tertentu yang mengharamkan tradisi pohon Natal, sebab mereka menganggap ini sebagai pemujaan dewa matahari. Pemasangan pohon itu dianggap sebagai bentuk penyembahan berhala. Reaksi penolakan itu bahkan awalnya sempat diwarnai keputusan pemerintah Jerman untuk mendenda siapa pun yang memasang pohon cemara sebagai pohon Natal.

Hal itu mulai berubah, saat gambar Ratu Victoria dari Inggris, Pangeran Albert dari Jerman, dan anak-anaknya dengan latar pohon cemara, diilustrasikan di London News. Karena sosok Victoria yang sangat populer, pemuatan gambar itu di media massa pun membuat pohon cemara menjadi pilihan lazim sebagai pohon Natal.

Tradisi
Setelah masyarakat AS mengikuti jejak Inggris menggunakan pohon cemara pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, industri pun semakin berkembang dan merambah ke berbagai negara. Termasuk industri berbagai hiasan pohon Natal seperti bola-bola yang digantung, pernak-pernik Santa Claus, tinsel (semacam tali berumbai yang dililitkan ke pohon), dan lainnya.

Karena penggunaan pohon cemara merupakan tradisi Eropa, ekspresi sukacita yang dilambangkan dengan berbagai dekorasi itu berbeda-beda di setiap negara. Indonesia dan Filipina menjadi negara yang sangat terpengaruh tradisi Eropa itu sampai akhirnya para umat Kristen membeli pohon buatan tapi yang penting berbentuk cemara.

Di Afrika Selatan keberadaan pohon Natal bukanlah sesuatu yang umum. Sementara masyarakat India, lebih memilih pohon mangga dan pohon pisang.

(Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Selasa, 26 November 2013

Memahami dan Memaknai Masa Adven

Korona Adven
1. Beberapa Pengertian
Kata ‘adven’ berasal dari kata Latin ‘adventus’ yang berarti kedatangan. Maka  ‘masa adven’ berarti masa untuk menunggu kedatangan Tuhan Yesus. Masa adven berlangsung selama 4 minggu, yakni dari Minggu Adven I sampai dengan Minggu Adven IV.

2. Perkembangan Tradisi Adven
Dalam bentuk awalnya, yang bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja; jadi persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari.

Pada tahun 380-381, Konsili lokal Saragossa, Spanyol menetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Diilhami oleh peraturan Prapaskah, Konsili lokal Macon, Perancis, pada tahun 581 menetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Hari Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek serupa menyebar ke Inggris. 

Di Roma, masa persiapan Adven belum ada hingga abad keenam, dan dipandang sebagai masa persiapan menyambut Natal dengan ikatan pantang puasa yang lebih ringan. Gereja secara bertahap mulai lebih membakukan perayaan Adven. The Gelasian Sacramentary, yang menurut tradisi diterbitkan oleh Paus St. Gelasius I (wafat thn 496), adalah yang pertama menerapkan Liturgi Adven selama lima Hari Minggu. Praktek adven semakin melembaga sejak abad ke 7, yakni pada saat Paus Gregorius Agung berkuasa (590-604). Adven ditetapkan berlangsung selama 4 minggu dan diisi dengan puasa. Sekitar abad kesembilan, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan Gereja.

3. Tradisi Adven
Pada awalnya tradisi adven sebenarnya tidak berasal dari Gereja Katolik Roma, tetapi merupakan tradisi Gereja Timur untuk mempersiapkan  Epifani, yang jatuh pada tanggal 6 Januari. Pada peristiwa tersebut kanak-kanak Yesus dikunjungi oleh orang majus dari timur. Bagi Gereja Timur itulah Natal.

Maka mereka merayakannya secara meriah. Tradisi Katolik menghayati masa adven dengan melakukan ibadat bersama dan puasa. Selain itu juga mulai diciptakan simbol-simbol yang disebut dengan Korona Adven (lingkaran Adven). Kebiasaan membuat Korona Adven berasal dari Eropa Utara, khususnya dari Skandinavia.

Korona Adven berbentuk sebuah lingkaran yang diuntai dengan daun-daun pinus atau cemara dan diatasnya dipasang empat lilin (tiga lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah); selain itu juga masih diberi asesoris lain seperti pita berwarna ungu dan merah.

Apa makna dari Korona Adven tersebut?  Korona Adven adalah simbol yang mau menunjukkan pesan-pesan tertentu, yakni:
a. Korona Adven berbentuk suatu lingkaran. Lingkaran adalah suatu bentuk tanpa awal dan akhir. Lingkaran ini melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir. Kita juga diajak untuk merenungkan bagaimana kehidupan kita, di sini dan sekarang ini, ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah yang kekal dan bagaimana kita berharap dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal di kerajaan surga.

b. Lingkaran Adven terbuat dari tumbuh-tumbuhan segar, sebab Kristus datang guna memberi kita hidup baru melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Warna hijau merupakan simbol pengharapan. Selain itu juga dipilih daun pinus atau cemara yang tidak kunjung putus. Warna hijau juga melambangkan Kristus, Yang mati namun hidup kembali untuk selamanya. Evergreen juga melambangkan keabadian jiwa kita. Kristus datang ke dunia untuk memberikan kehidupan yang tahan pada bermacam-macam musim. Daun cemara tidak rontok dan tetap hijau pada musim gugur dan musim dingin. Ungkapan pengharapan yang tanpa akhir bagi kita.

c. Tiga batang lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah muda. Warna ungu melambangkan tobat, keprihatinan, matiraga atau berkabung, persiapan dan kurban; warna ini juga dipakai pada masa Prapaskah, tidak hanya untuk warna lilin, tetapi juga pakaian liturgi lain. Warna merah muda melambangkan hal yang sama, tetapi dengan menekankan Minggu Adven Ketiga, Minggu Gaudate, saat kita bersukacita karena persiapan kita sekarang sudah mendekati akhir. Selain itu warna merah juga merupakan tanda cinta kasih.

d. Lilin juga sebagai simbol terang. Terang itu sendiri melambangkan Kristus, yang datang ke dalam dunia untuk menghalau kuasa gelap kejahatan dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran. Gerak maju penyalaan lilin (setiap minggu satu lilin) menunjukkan semakin bertambahnya kesiapan kita untuk berjumpa dengan Kristus. Persiapan, kerinduan dan harapan kita tidak terjadi serta merta, tetapi tahap demi tahap. Kerinduan kita yang semakin besar akan Yesus yang datang sebagai Terang Dunia, dilambangkan dengan menyalakan lilin satu demi satu. Penyalaan lilin secara bertahap ini rupanya juga dipengaruhi oleh tradisi Yahudi, khususnya pentahbisan Bait Allah (Hanukkah). Pesta Hanukkah dirayakan selama delapan hari. Delapan lilin dinyalakan satu per satu setiap hari hingga genap delapan lilin pada hari ke delapan. Jumlah lilin ada 4 batang mengungkapkan lama masa adven berlangsung, yakni 4 minggu .

e. Selain Korona Adven, Gereja Katolik juga tidak mengumandangkan madah kemuliaan atau Gloria; madah yang berkaitan dengan nyanyian para malaikat saat kelahiran Yesus, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2, 14). Madah ini akan dikidungkan pada saat Natal. Maka juga tidak tepat kalau umat Katolik merayakan Natal pada masa adven.

Mari kita memasuki masa Adven dengan penuh kerinduan akan pertobatan hati dan budi. Sehingga kita semakin layak menyambut Sang Bayi Yesus di Palungan. Tuhan memberkati.(Diolah dari berbagai sumber)