Translate

Tampilkan postingan dengan label Berita Gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Gereja. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2015

Cerita Syahar Banu, Jadi Saksi Kanonik Pernikahan Islam-Katolik

Syahar Banu. "Cinta itu indah. Agama dan kasih Tuhan juga indah. Keindahan hanya akan bersatu dengan sesamanya. Kenapa harus ada perpisahan karena agama?"
[Foto: Dok. Pri]
Kemarin malam (Jumat, 4 Juli 2015-Red), aku menjadi saksi Kanonik untuk pernikahan beda agama antara sahabatku yang Islam dan tunangannya yang Katolik.

Sahabatku seorang perempuan Islam berjilbab. Sedangkan tunangannya seorang Katolik taat yang sempat menempuh pendidikan calon Imam tingkat satu di Malang. Alih-alih jadi Romo, ia lebih memilih untuk jadi programmer yang hadapi algoritma daripada umat.

Hanya dengan melihat mereka sekilas, kita akan tahu bahwa mereka adalah dua orang yang sedang jatuh cinta.

Ditunjuk jadi saksi Kanonik awalnya adalah hal mendebarkan. Aku perlu meyakinkan diri sendiri apakah mungkin seorang muslim bisa jadi saksi Kanonik? Aku kontak Romo sahabatku untuk menanyakan keabsahan "syariatnya". Romo bilang, saksi Kanonik itu yang penting mengenal calon mempelai non Katoliknya. Tidak harus beragama Katolik. Aku jadi lega. Setidaknya, sebagai sahabat yang sudah bertahun-tahun bersama, ternyata aku berguna juga.

Aku ke gereja Katedral Jakarta bersama pasangan pengantin dan teman SMA sahabatku yang juga berperan sebagai saksi Kanonik. Setelah shalat Maghrib di Istiqlal, kami menyeberang ke Gereja Katedral dan buka puasa di depan pasturan. Misa Jumat Malam belum usai. Jadilah kami menunggu sampai Romo selesai memimpin Misa.

Tepat saat Misa Jumat usai, kami berempat dipersilakan masuk ke ruang tamu Pasturan. Kedua mempelai masuk lebih dulu ke ruang kerja Romo. Romo yang menangani pernikahan ini bernama Romo Broto, Pr. Kesanku padanya, Beliau seseorang yang murah senyum dan ramah.

"Siapa yang akan jadi saksi pertama?" Tanya Romo Broto pada aku dan teman sahabatku saat kami berdua ada di ruangannya.

"Dia saja Mo, yang lebih tua." Kataku.

Romo dan teman sahabatku tertawa.

Romo memulai pertanyaan seputar sejauh mana kami mengenal calon mempelai perempuan. Dia juga bertanya soal asal wilayah, pekerjaan, alamat, dan lainnya. Kami harus mengisi selembar formulir setengah halaman kertas HVS yang isinya adalah kesaksian kami berdua bahwa mempelai perempuan non Katolik tersebut memang belum pernah menikah.

Setelah mengisi formulir, kami berdua tanda tangan di bawah kalimat sumpah yang ditutup dengan, "Demi Allah". Bukan demi Yesus dan bukan pula demi Roh Kudus. Aku senang dengan pilihan kata di dalam surat kesaksian tersebut.

"Di Katolik memang ada dispensasi dalam hal pernikahan. Kami meyakini bahwa yang namanya iman itu tak dapat dipungkiri oleh hati. Bisa saja seseorang bohong di KTP dalam hal agama hanya untuk menikah. Tapi yang namanya iman dalam hati, sulit untuk diganti-ganti. Jadi, Disparitas Cultus ini untuk memudahkan, bahwa pernikahan tak pernah jadi penghalang keimanan seseorang dan sebaliknya. Untuk apa yang Katolik pindah Islam jika hatinya tetap Katolik? Dan untuk apa yang Islam pindah Katolik jika yang nyaman baginya adalah beragama Islam? Ini adalah solusi yang diberikan gereja untuk umatnya."

Kami mengangguk mendengar penjelasannya.

Saat melakukan penelitian di gereja Santo Alfonsus Paroki Nandan, Jogja pada tahun lalu, aku sudah diberi penjelasan oleh Romo Kris mengenai hukum pernikahan dalam gereja Katolik.

Oh ya, Romo Kris ini ketua Paroki Nandan. Tema Disertasi S3 nya adalah tentang Disparitas Cultus. Saat aku menyebut bahwa aku kuliah di Paramadina, dia langsung bertanya soal pernikahan beda agama yayasan Paramadina. Aku tak tahu banyak soal pernikahan beda agama di yayasan. Jadi aku berjanji padanya untuk mencarikan info seputar itu.

Romo Kris lah yang memberi penjelasan padaku bahwa di dalam gereja Katolik memang tak ada perceraian. Adanya pembatalan pernikahan yang harus diurus sampai Vatican. Seseorang yang beragama non Katolik yang pernah menikah sebelumnya, lalu bercerai baik secara agama maupun secara negara tidak dapat lagi menikah dengan seorang Katolik karena punya halangan pernikahan. Makanya, salah satu fungsi diumumkannya pernikahan setelah Misa, selama tiga kali Misa adalah untuk mendeteksi adanya halangan pernikahan itu tadi.

Aku bercerita kepada Romo Broto soal sedikit interaksiku dengan Romo Kris yang mengenalkan aku pada konsep disparitas kultus. Dia tampak girang.

"Walaupun satu kampung sudah tahu bahwa calon mempelai belum pernah menikah, kesaksian kanonik ini tetap harus dilakukan. Ini sebagai formalitas saja." Lanjut Ketua Paroki Katedral ini.

Di tengah diskusi singkat kami, Romo memujiku dengan berkata, "Wah, kamu sudah banyak tahu Katolik."

Aku tersenyum geli.

Sebenarnya aku tak banyak tahu soal Katolik. Seorang kawan yang mengaku sebagai Katolik sesat karena tak beribadah lagi ke Gereja pernah memberikan banyak penjelasan soal kekatolikan padaku sebagai bahan riset. Selain itu, aku sering berdiskusi dengan Romo dan Frater kenalanku dan membanding-bandingkan penjelasan mereka dengan tradisi agama Samawi yang ada.

Tentu saja aku masih sering bingung dengan istilah-istilah spesifik yang dipakai orang Katolik. Jelas banyak sekali hal yang belum aku tahu soal agama lain. Bahkan aku baru tahu kalau di Katolik sunat untuk lelaki itu bukan sebuah keharusan setelah nonton film bareng di kampus yang memuat sebagian sejarah gereja Katolik abad pertengahan. Tentu saja, tidak penting untuk mengetahui apakah pengikut agama tertentu punya tradisi sunat untuk lelakinya atau tidak. Tapi, aku akhirnya paham bahwa ternyata aku tidak banyak tahu.

Mengetahui ketidaktahuan adalah sebuah pengetahuan yang berharga juga.

Hanya 5 menit waktu yang dibutuhkan untuk jadi seorang saksi Kanonik. Tunangan sahabatku bilang, waktu yang dibutuhkan tiap orang beda-beda. Tergantung Romonya juga.

Tunangan sahabatku heran, kenapa beberapa kali terdengar tawa kami.

"Kamu becandain Romo ya Ban?" Tanyanya.

Aku menggeleng. Memang ada banyak lelucon yang menyenangkan selama kami ngobrol dengan Romo sambil mengisi formulir tadi.

Sangat berbeda saat sahabat dan tunangannya menghadapi Romo. Suasananya serius. Mereka bilang, mereka ditanyai Romo dengan hal-hal yang sudah mereka pelajari saat Kursus Pernikahan.

Aku sempat bertanya pada tunangan sahabatku, kenapa dia tak membawa saksi Kanonik juga. Dia jawab, "Saksi Kanonik itu cuma dibutuhin calon mempelai non Katolik. Data diriku kan udah ada di parokiku."

Oh, begitu. Tuh kan, aku baru tahu.

Bagiku, mereka pasangan yang lucu, saling melengkapi dan menjaga. Tunangannya selalu menyarankan sahabatku untuk konsisten berjilbab. Sahabatku sering meminta tunangannya untuk membawa serta dirinya tiap Misa. Aku berbahagia untuk mereka.

Tentu saja, pernikahan beda agama masih jadi pro dan kontra di kalangan umat beragama. Keluarga sahabatku juga masih banyak yang menentang terjadinya pernikahan tersebut. Tapi, ayah sahabatku sungguh hebat. Dia berani pasang badan demi kebahagiaan anaknya. Dengan senang hati, ayahnya mengantarkan anaknya menikah di Gereja Katolik tanpa perlu pindah agama. Dulunya, ayahnya adalah seorang Kristen Protestan yang masuk Islam karena menikah dengan ibunya.

Aku mengikuti perjalanan cinta mereka. Beberapa kali, aku ikut membantu untuk menjawab setiap pertanyaan dan hujatan dari keluarga yang menentang pernikahan mereka.

Seorang yang sedang berusaha mengikuti laku sebagai seorang Sophia Perennis sepertiku, memang tidak memiliki masalah yang ada hubungannya dengan syariat pernikahan beda agama. Tentu saja, ada banyak sekali orang yang bilang betapa salahnya pandanganku. Betapa kelirunya pilihan hidup yang aku pilih.

Tapi, aku meyakini, bukankah tiap orang sedang menjalani Dharmanya masing-masing? Jika memungkiri konsekuensi pengetahuanku, alih-alih menjalankan dharma, aku malah menjalankan adharma.

Aku menerima risiko apa kata orang terhadap apa yang aku lakukan dengan hati gembira. Aku memaklumi, beberapa orang yang menghujatku memang senang menjadi juru bicara kebenaran "tuhan" yang diyakininya. Aku sih tak pernah memaksa mereka meyakini apa yang aku yakini.

Orang yang pernah dekat denganku pernah cerita bahwa beberapa kali dia berpisah karena agama dengan orang yang dia cintai. Aku sangat sedih mendengarnya. Rasanya aku ingin hadir di masa lalunya dan meyakinkan orang yang dicintainya agar tak perlu merasa berdosa mencintai orang yang berbeda iman. Cinta itu indah. Agama dan kasih Tuhan juga indah. Keindahan hanya akan bersatu dengan sesamanya. Kenapa harus ada perpisahan karena agama?

Yang aku yakini, Tuhan yang disebut dengan berbagai nama, Tuhan seluruh umat manusia, telah memberikan potensi cinta pada siapa saja tanpa memandang agamanya apa.

Kita hanya perlu menjaga pijarnya, agar jadi terang bagi sesama.

(Sumber: http://syaharbanu.blogspot.com/2015/07/ketika-aku-jadi-saksi-kanonik.html)

Senin, 01 Juni 2015

Pertama di Dunia: Sayembara Patung dan Lukis Bunda Maria Beragam Suku Berhadiah Puluhan Juta

Ketua Panitia Sayembara Laksda TNI (P) Christina Maria Rentetana (3 dari kiri) bersama  Uskup Agung Semarang Mgr Pujasumarta dan pemuka agama lainnya foto bersama usai acara peluncuran sayembara di Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Bantul, Sabtu (30/5/2015). [Foto: Ist]
BANTUL- Bunda Maria merupakan sosok suci yang dikenal dalam agama seperti Katolik, Kristen Protestan dan Islam. Selama ini, wajah Bunda Maria yang beredar adalah versi Eropa.

Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Bantul, Yogyakarta menggelar acara sayembara cipta rupa atau patung, lukisan dan fotografi Bunda Maria dengan tema "Bunda Maria Segala Suku". Sayembara ini untuk mengungkapkan keindahan sosok Bunda yang memancarkan kasih Allah.

Uskup Agung Semarang Pujasumarta mengatakan, sayembara ini memiliki pesan agar para perupa dan pelukis bisa merasakan kehadiran Bunda Maria dan menjadi simbol pemersatu.

"Sayembara untuk menghadirkan Bunda Maria dari segala suku. Di satu pihak dengan melukiskan Bunda Maria sesuai dengan budaya masing-masing, ada perasaan dekat," kata Pujasumarta di acara launching sayembara di Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, Bantul, Sabtu (30/5/2015).

Menurutnya, ada suatu nilai baru yang bisa tercipta jika Bunda Maria dilukiskan dengan versi Indonesia. Indonesia menyimpan beragam suku sehingga perlu mencari sosok Bunda Maria yang bisa mempersatukan suku-suku di nusantara.

“Semoga misi atau pesan ini yang ditangkap perupa dan pelukis, supaya kehadiran Bunda Maria menjadi kehadiran yang mempersatukan kita semua, karena kita tahu Indonesia itu memuat beragam suku,” katanya.

Ia mengharapkan sayembara itu bisa menghadirkan Bunda Maria versi Indonesia di atas segala suku dan yang melukiskan sesuai dengan budaya masing-masing agar ada perasaan dekat.

“Ini khusus untuk Indonesia”, katanya.

Peluncuran sayembara antara lain, dihadiri Pendeta Fu Kwet Khiong MA dari Gereja Santapan Rohani Indonesia, Jakarta, I Wayan Sumerta dari PHDI Yogyakarta, Biksu Sanabodhi dari buddha, Kardi Laksono, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja.

Ketua Panitia Sayembara Laksda TNI (P) Christina Maria Rentetana mengatakan Indonesia yang kaya akan keanekaragaman suku dan budaya sudah selayaknya memiliki sosok Bunda Maria yang bisa menjadi identitas khas Indonesia.

Ia mengatakan panitia menyediakan hadiah total sebesar Rp300 juta untuk pemenang tiga kategori tersebut, yakni sebesar Rp50 juta untuk juara umum patung, Rp35 juta untuk pemenang lukisan, dan Rp10 juta pemenang kategori fotografi.

“Sayembara ini berlangsung selama kurang lebih satu tahun, sehingga diharapkan seniman dan pelukis ikut menyukseskan sayembara ini. Ini yang pertama kali di dunia, dan saya kira tidak akan ada lagi yang seperti ini,” katanya.

Sayembara ini digelar untuk umum apapun agama dan sukunya. Sehingga yang menang dalam sayembara ini bisa dari luar agama Katolik.

Batas akhir pengiriman hasil karya pada 28 Februari 2016 dan pengumuman pemenang dilaksanakan bulan Mei 2016. Untuk ketentuan sayembara dapat dilihat di www.mariabundasegalasuku.com. (Diolah dari berbagai sumber)


Kamis, 10 April 2014

Ahok: Blusukan ke Masyarakat Tiru Metode Yesus

Wagub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang biasa disapa Ahok. [Foto: Ist]
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, biasa disapa Ahok, menganalogikan perjuangan Yesus Kristus dengan kampanye politikus. Dia melihat pola kampanye para politikus saat ini mirip dengan apa yang dulu dilakukan Yesus ketika menyiarkan ajaran kebaikan.

“Dulu Tuhan Yesus membagi-bagikan sembako dan menggelar pelayanan masyarakat untuk menggaet pengikut,” kata Ahok di hadapan peserta seminar tentang “Kepemimpinan Nasional dan Moralitas” di Katedral Mesias, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu, 5 April 2014, seperti dilansir Tempo.co.

Cara ini, menurut Ahok, banyak ditiru oleh para politikus untuk menggaet masa. Hanya, cara ini, Ahok meneruskan, tidak efektif. “Ingat cerita akhirnya Tuhan Yesus kalah dengan Barabas kan? Padahal sudah mendekati masyarakat dengan bagi-bagi sembako,” ujarnya.

Menurut Ahok, kunci keberhasilan Yesus adalah bukan kegiatan bagi-bagi sembako. “Bahkan Yesus membangkitkan orang meninggal. Tidak ada kan baksos seperti itu,” ujarnya.

“Kunci kesuksesannya adalah pada Yesus sendiri yang turun ke masyarakat, masuk ke kampung-kampung untuk mengajarkan kebaikan,” ujarnya. Dari sanalah Yesus, Ahok melanjutkan, memiliki banyak pengikut.

Metode blusukan inilah, kata Ahok, yang ditiru aparatur pemerintah DKI Jakarta. “Kami masuk ke kampung-kampung untuk menawarkan sebuah kebaikan dan perubahan,” ujar mantan Bupati Belitung Timur ini.

[Sumber: www.tempo.co]


Jumat, 10 Januari 2014

Dari Bandung, Sebarkan Kerukunan Umat

Walikota Bandung Ridwan Kamil (memegang bendera merah putih) bersama Pastor Leo van Bourden OSC
BANDUNG (09/01/2014)-- Dari Bandung, Jawa Barat, kita mendengar kabar baik. Sehari sesudah Hari Raya Natal, Sang Walikota Mochamad Ridwan Kamil menyatakan keinginannya untuk menjadikan kota Bandung sebagai miniatur toleransi beragama. Keinginan itu ia ucapkan ketika menghadiri Open House Natal di Katedral St. Petrus, Bandung, bersama Forum Kerukunan Umat Beragama.

Kita sambut tekad Walikota Bandung itu dengan semangat memperbaiki hubungan antar-umat beragama yang banyak mengalami gangguan pasca reformasi. Indonesia yang plural, yang beragam, yang bhineka, memang wajib dijaga dan dipertahankan, terutama oleh pejabat publik yang sudah mendapat kepercayaan rakyat untuk memimpin.

Tentu pernyataan Ridwan Kamil ini masih harus diuji dalam praktik. Sebab sehari menjelang perayaan Natal, kita mendengar Jemaat Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Bandung tak bisa menjalankan ibadahnya. Sebuah kelompok intoleran memberitahu kepolisian setempat agar tak mengizinkan jemaat GBKP menjalankan ibadat Natal. Alasannya, gereja tersebut tidak memiliki izin. Dan seperti biasa, kepolisian tak mau repot.

Di Jakarta kita juga membaca, jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor dan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Filadelfia Bekasi terpaksa menjalankan kebaktian Natal di depan Istana Negara. Tekanan kelompok intoleran memaksa mereka untuk terusir dari rumah Tuhan-nya. Ini adalah kali kedua sejak tahun lalu, mereka harus beribadah di depan kantor Presiden SBY. Tetapi, kita tahu, keluhan mereka tak pernah dihiraukan.

Kelompok minoritas lain yang juga acap mendapat persekusi adalah kelompok Syiah dan Ahmadiyah. Di Sampang, kelompok Syiah diserang dan diusir dari tempat tinggalnya. Sedangkan kelompok Ahmadiyah diserang di berbagai wilayah, antara lain di Mataram dan Bogor. Penyerangan paling tragis terhadap kelompok Ahmadiyah terjadi pada 6 Februari 2011 di Cikeusik, Pandeglang, Banten. Dalam aksi penyerangan ini, 3 orang tewas mengenaskan.

Sederet peristiwa intoleransi lain masih panjang daftarnya. Seluruhnya menunjukkan betapa masalah gesekan horisontal ini sebenarnya tak boleh dibiarkan terus berlangsung. Penyebaran kebencian yang dilakukan kelompok-kelompok intoleran harus dihentikan. Aparat keamanan tak boleh melempem. Pejabat publik harus berdiri di depan menyelamatkan konstitusi yang digerogoti pelan-pelan.

Di sini, peran kepala daerah seperti Walikota Bandung Ridwan Kamil diperlukan. Tak boleh ada keraguan sedikit pun bagi para pemimpin untuk mencegah meluasnya tindakan intoleransi. Kebhinekaan sebagai kekayaan negeri mesti dijaga agar rumah keindonesiaan tetap nyaman bagi kehidupan bersama.

(Sumber: kbr68h.com)